Pantulan Cermin Hitam

Dan tubuhku pun mematung saat berhadapan dengan tiga cermin didepanku. Tiga cermin yang memantulkan bayangan hitam dari cahaya tubuhmu…

Aku melihat cermin pertama didepanku, wajahmu hanya muncul samar sesekali. Sesekali ketika aku berteriak memanggil namamu meminta kau disini. Dan kau pun berbalik untuk menemaniku disini dalam kegalauanku dan kesendirianku. Kau pun cukup menjadi penghibur untukku disaat aku membutuhkanmu. Begitupun aku, akan selalu menoleh saat kau memintaku menemanimu walaupun aku tak melihat keberadaanmu disekitarku. Aku tandai cermin itu, untuk kugenggam dalam tangan kiriku. Akan kugunakan sesekali.

Mengalihkan pandangan ke cermin lain dihadapanku, tak kulihat siapa-siapa disana. Sampai aku berjalan mendekat menghampiri cermin lain itu. Kusentuh permukaan cermin, dan munculah sesosok bayangan nyata dari dirimu. Sama seperti mu yang selalu ada secara utuh disaaat aku membutuhkanmu. Tapi sama seperti cermin pertamaku, kau nyata tapi tak tampak. Harus kupenjam mataku agar kau muncul dalam wujud nyata dalam gelapku. Kau ada dan tiada dalam cermin itu, sama seperti kehadiranmu dalam hidupku. Dalam dekat kau adalah kau, dalam jauh aku hanya melihat aku dalam cermin itu. Kau kosong karena kau adalah emosiku, jiwaku dalam aku mencari arti dari tanya. Aku tandai cermin ini, untuk ku bandingkan dengan cermin ketiga yang menungguku.

Kau sudah terlihat nyata dalam cermin ketiga. Kau melambaikan tanganmu. Ya dan nyata itu adalah kau. Kuturunkan cermin ketiga dari gantungannya. Cukup kusandarkan pada dinding, akupun duduk bersila dihadapanya. Tak lagi kulihat bayanganku di cermin ketiga ini. Hanya utuh dirimu yang muncul disana. Tak bisa berkata apa-apa. Kau pun hanya tersenyum dan terdiam menungguku untuk bercerita. Kau sempurna hadir mengisi kekosongan didalam cermin ketiga. Kuharap kau selalu menunggu didalam cermin ini, sampai aku siap untuk menyampaikan segudang ceritaku pada mu. Kuharap aku tidak meminta dirimu untuk menungguiku, tapi kau sendiri yang menawarkan padaku. Tapi kau boleh pergi sesukamu, asalkan kau tidak tersesat nantinya. Karena tempatmu didalam cermin. Kuulurkan tanganku, kusentuhkan jariku dipermukaanmu kaupun mendekat dan berkata dalam bisikan. Bisikan yang membuatku membalikkan tubuhku.

Tidak mungkin. Ternyata bukan tiga cermin, dibelakangku satu cermin dengan ukuran yang sangat besar tertawa lebar dihadapanku sekarang. Tak ada siapa-siapa didalamnya. Kuhampiri tak juga muncul bayang diriku didalamnya. Aku tidak menginginkan cermin ke empat itu sekarang. Kuambil batu kulempar cermin itu dan hancurlah menjadi pecahan kaca tak berbentuk lagi.

Ku balikkan tubuhku menghiraukan pecahan kaca itu, kembali duduk didepan cermin ketiga. Tertunduk dan menangis dan berkata, “aku cukup memiliki 3 cermin dalam hidupku, aku tidak mau cermin ke empat yang lebih besar dari kalian, aku hanya ingin cermin yang bisa aku ajak bicara setiap saat… karena bagiku kalian adalah satu cermin yang utuh untuk diriku sekarang”

“Aku Bercermin saat berbicara dengan kalian…..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s