Aku pun (tak) Bersayap

“Hahahahahah….Kenapa kami Tuhan?”, itu  yang selalu aku teriakan pada Tuhanku yang entah didengar atau tidak.

Hari itu jam digital ditanganku menunjukan pukul 07:00, dan sudah hampir 18 jam mataku tak kunjung menutup. Menutup selamanya lebih bagus lagi. Aku berharap itu lebih mudah aku lalui daripada apa yang sedang aku hadapi sekarang. Kepelikannya terkadang membuat aku kehilangan kesadaranku, kendali atas diriku, aku hancur sekarang. Aku percaya aku akan terbang suatu hari nanti , terbang dengan caraku sendiri. Terbang? Ya terbang… Pikiranku pun kembali meracau, seperti biasa. Tapi hanya begitu saja aku bisa lebih tenang.

Kulihat kembali jam digital ditanganku , 7:30, lambat sekali waktu berputar. Kupaksa mataku tertutup dengan susah payah.
                                                                                      
“Hentiiikaaaaaaaan Tuhan………”, terbangun dalam teriakan.
“Aku tidak gila. Tidak aku tidak gila, jangan sekarang Tuhan,,aku mohon,,!”.
“Tali itu? Dimana tali itu?”, berkata dalam hati.

Aku pun memaksa tubuhku untuk bergerak dari tempat tidurku yang membuatku bermimpi buruk. Benarkah aku bermimpi tadi? Bergegas aku keluar dari kamarku, mencari keberadaan tali itu.

“Tidak..lupakan tali itu! Itu tidak akan bisa membuatku terbang……”, pikirku.

Keadaan rumahku sudah sangat buruk sekarang, terlebih lagi keadaan diriku jelas seperti tubuh tak berjiwa. Dalam keadaaan setengah sadar aku berjalan keluar rumah. Berlari lalu berjalan, berlari lagi berjalan dan berlari lalu berjalan. Sampai dipersimpangan itu aku melihat kau. Jelas itu adalah kau. Kau pria yang mengikuti ku tadi didalam mimpiku.

“Tuhan apa-apaan ini?”, gumamku.

Dengan langkah tertatih aku setengah berlari untuk menghidari pria itu, dan akupun bersembunyi dari pria itu. Kuambil ponselku, kuhubungi seorang yang harus aku hubungi yang mungkin bisa membantuku dari kegilaan ini. Tersambung dan hanya nada tunggu yang aku dengar, tak ada sahutan darinya.

“Bagus…aku sendiri sekarang Tuhan…”
“Silakan…lakukan sekarang tanpa rasa sakit!”

Pria itu menemukan tempatku bersembunyi, dengan cepat aku menghidarinya dan berlari pergi. Mengarah ke kerumunan orang, berharap tak terlihat dari pria itu. Berlari semakin kencang menuju jembatan penyebrangan yang aku lihat didepan sana.
“Cepat…aku bisa lebih cepat dari pria itu! Siapa dia Tuhan? Pembunuh bayaran suamiku kah?”

Sampai ditengah  jembatan, dari arah yang berlawanan dengan diriku muncul sesosok pria lain dalam balutan baju hitam yang sama. Tidak..tidak aku ralat..bukan seorang ternyata tapi beberapa orang. Segera kubalikkan tubuhku kearah yang berlawanan dari gerombolan pria-pria berbaju hitam itu. Tak ada tempatku untuk berlari menghindari mereka.

“Tuhan lakukan sekarang…kumohon!”, teriakku.

Dengan cepat aku menaiki pembatas jembatan penyebrangan itu. Samar kudengar seorang berkata, “Tunggu…kami akan menyelamatkanmu..”

Kutarik nafas panjangku, kuhentakan tubuhku, dan aku pun terbang. Akhirnya akupun terbang, tanpa sayap dan kesakitan. Dan hanya tebar senyum yang kutinggalkan pada pria-pria berbaju hitam itu.

Dan tubuhku kaku tak bertuan lagi.

Hanya aku jiwa sendiri yang tak bertubuh dan (tak) bersayap…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s