Senja Menjingga…

Waktuku tak banyak untuk memasuki pintu besar itu. Jalanku tak juga pendek untuk bisa cepat sampai disana. Semua orang mengarah ke pintu yang sama.  Tapi pintu itu masih tertutup rapat untuk kami semua, dan aku pun terpaksa menunggu didalam sebuah ruangan besar ini. Bersama dengan orang-orang yang tak pernah kukenal sebelumnya.

Seorang gadis cantik menghampiriku, dan duduk dikursi kosong yang ada disampingku. Gadis ini sangat cantik sekali, bentuk tubuh nya pun sangat ideal sekali. Penampilannya benar-benar sempurna, seandainya aku pria  mungkin aku akan langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Tapi kenapa gadis itu ada ditempat ini bersama ku. Seharusnya dia masih di tempat yang semestinya, tempat dimana orang-orang bisa mengagumi  kesempurnaan fisiknya.

Disaat aku sedang mengagumi kecantikan gadis itu. Dengan mengejutkan gadis itu menyapaku dalam tatapan nya yang kosong.

Halo…”, sapanya.  Dengan gugup aku menatap dan membalas sapaannya.

Ouh..iya halo juga”.

Gadis itu pun tersenyum kepadaku. Akupun sedikit terhenyak melihat senyumannya, karena dia benar-benar cantik dengan senyumannya itu.

Nama saya Jingga, “ gadis itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Akupun meraih uluran tangannya dan memperkenalkan diriku, “ Saya Senja”.

Dia pun kembali menebarkan senyumnya kepadaku. Gadis yang sangat ramah pikirku. Kami pun berbincang sambil menunggu pintu besar itu terbuka untuk kami semua yang berada dalam ruangan besar ini. Obrolan kami pun terhenti pada akhirnya. Entahlah karena mungkin tidak terlalau banyak bahan obrolan untuk kami berdua.  Pikiranku pun kembali meracau, mengamati satu per satu orang-orang yang ada didalam ruangan besar bersamaku. Ditengah lamunanku, gadis itu kembali mengejutkanku dengan pertanyaannya.

Senja, kenapa kamu mati?”,  tanyanya.

Hah…?”, jawabku dengan tanya.

Akupun tersadar dan terdiam cukup lama mengingat bagaimana aku bisa berada disini bersama orang-orang yang sudah mati lainnya.  Sebelum aku menjawab gadis itu sudah bercerita lebih dahulu.

Kamu tahu Senja, aku mati dibunuh oleh pacarku…”

Hah…”, hanya itu yang keluar dari mulutku.

Iya oleh pacarku, pria yang sudah memiliki seorang  istri. Entahlah, aku terlalu mencintainya berlebih, sehingga aku tidak perduli pada perasaan istrinya saat itu. Pacarku itu sangat mencintai istrinya lebih dari apapun, dia rela menjadi pembunuh untuk membuktikan cintanya pada istrinya”, dia melanjutkan.

Oh iya Senja, kau bahagia dengan suamimu?”, tanya nya yang kembali membuatku terkejut.

Bagaimana kau tahu Jingga, aku sudah menikah?”, balasku dengan penasaran.

Senja…….kau masih memakai cincin pernikahanmu…”,  jawabnya sambil tertawa renyah.

Akupun melihat cincin yang melingkar dijari manisku, aku putar cincin itu untuk aku keluarkan dari jari manisku.

Boleh kulihat Senja?”, tanyanya.

Tentu”, sambil kuulurkan cincin yang aku pegang .

Fajar….ini nama suami mu Senja?”. Akupun hanya mengangguk tak berkata.

Kau mencintainya Senja?”, kembali dia bertanya padaku dengan pertanyaan yang membuatku kaget, pertanyaan yang  seolah-olah dia sudah mengenalku sangat lama.

Dengan perasaaan tidak yakin aku pun menjawab pertanyaanya itu, “Ya Jingga, aku sangat mencintainya. Dia segalanya bagiku, tapi sayang dia tidak mencintaiku sebagaimana aku mencintainya dan baginya aku bukan segalanya.

Dia mendamba gadis lain Jingga, gadis yang tidak pernah aku yakini aku bisa menjadi sepertinya “, lanjutku.

Kau mengenal wanita itu?”, jingga bertanya dengan wajah cemas.

Tidak dan tidak akan pernah aku mau tahu siapa wanita itu, walaupun Tuhan memberiku kesempatan untuk hidup lagi.”

Lalu kenapa kau mati Senja?”, tanyanya lagi.

Aku fikir aku terbang saat itu, dan berhasil terbang…hahahhah konyol memang fikiran ku saat itu, entahlah aku dibayangi oleh ketakutanku sendiri. Mungkin orang-orang berfikir aku mati bunuh diri saat itu dengan menjatuhkan tubuhku dari jembatan penyebrangan. Tapi sesungguhnya, aku benar-benar ingin terbang saat itu, hanya saja tubuhku tidak menghendaki jiwaku untuk terbang. Jadi aku biarkan tubuhku menjadi kepingan dibawah sana, dan membiarkan jiwa dan ruh-ku terbang ke sini , ketempat ini”.

Gadis itu hanya terdiam tak berkata sambil menatapku dengan tatapan yang nanar dan berkaca-kaca. Aku pun malah menjadi salah tingkah dilihat oleh gadis itu.

Kau kenapa Jingga?” , tanyaku pada gadis itu.

Ah tidak… aku hanya heran saja Senja, kenapa suamimu begitu tega mengkhianati wanita sepertimu…”, balasnya atas pertanyaanku.

Jingga…boleh aku bertanya?

Tentu Senja, kau boleh bertanya sesuka hatimu disini, ditempat ini..”, sahutnya.

Akupun terdiam sesaat, pikiranku kembali berkelana. Memangnya aku mau bertanya apa padanya, kenapa harus merasa takut. Entahlah gadis ini terlalu baik untuk menjadi seorang wanita yang menghancurkan rumah tangga orang lain. Dan kenapa dia harus mati ditangan orang yang paling dicintainya.

Senja…kau melamun lagi…” , tegurnya tiba-tiba.

Hah…”,

Kau mau bertanya apa Senja?

Jingga maaf kalau pertanyaanku nanti membuat mu tidak enak atau apa, kau tidak perlu menjawabnya jika memang kau tidak suka pertanyaanku…

Senja…kau kenapa? aku baik-baik saja”, sanggahnya. “Silahkan Senja!!”.

Jingga kenapa kau mencintai pria itu? Pria yang kau tahu sudah memiliki istri, pria yang pada akhirnya mengakhiri hidupmu?” , aku bertanya.

Gadis itu tertunduk dan mendengus. Sepertinya pertanyaanku memang seharusnya tidak aku tanyakan kepada gadis ini.

Maaf.. Sen….”, aku cepat meminta maaf. Belum selesai aku mengucapkan maafku, gadis itu lebih cepat memotong ucapanku.

Entahlah Senja, dia memberiku hidup sebelum memberiku mati. Dia dulu pun sangat mencintaiku sebelum dia mengenal istrinya, yang sekarang sangat dia cintai. Dia membutuhkan ku seperti aku sangat membutuhkan dia pada awalnya. Yang terpenting aku hanya hidup selama dia mau aku hidup. Dan pada akhirnya dia lebih yakin dengan cintanya tak menginginkan aku kembali hidup didalam hidupnya”, gadis itu dengan percaya diri menjawab pertanyaanku.

Aku hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu.

Kau pernah menyesal Jingga menghancurkan keluarga orang lain?”, aku bertanya lagi pada gadis itu.

Tidak…sebelum aku bertemu denganmu disini..”, jawabnya

Hah…”, aku dibuat bingung olehnya.

Ya Senja…aku menyesal sekarang, aku menyakitimu, aku pernah merebut cinta Fajar dari mu…”, gadis itu mengakui.

Hah..apa? Fajar suamiku…dia kamu…hah”, aku pun panik mendengar pengakuannya.

Gadis itu berdiri dari kursi yang didudukinya. Memasukan kembali cincin pernikahanku yang tadi dipinjamnya ke jari manisku, mengecup tanganku.

Maafkan aku Senja…Percayalah kau tidak layak disini, Fajar sangat mencintaimu lebih dari apapun dan aku pantas mendapatkan kutukanmu Senja…Maaf..”, gadis itu pun pergi dari hadapanku.

Aku hanya terdiam tanpa kata, tubuhku lemas seketika tak berdaya mengucap satu kata pun. Memejamkan mata dan linangan air mata seketika membasahi pipiku. Kutundukan kepalaku, menangis sendiri bersama kematianku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s