Balada Tangan Asing

Hari ini sepertinya Gadis terlihat tidak bersemangat, terkadang aku sedih melihat raut wajahnya kalau Gadis mulai memikirkan pria itu. Pria yang sepertinya tidak mempunyai hati sedikit pun. Kalau saja aku bisa ingin sekali aku menampar wajahnya sampai dia tersadar seberapa berharganya dia, dibanding hanya meratapi pria yang aku fikir tidak bisa menghargainya sedikit pun.

Siang ini, Gadis akan membawaku kemana lagi. Ah, pasti menemui pria itu lagi, pria yang sangat aku benci. Huh, aku benar-benar membenci pria itu. Cuma satu yang aku suka dari pria itu, aku hanya menyukai tangan kanan miliknya saja. Walaupun entah sepertinya tangan itu terlihat jahat sekali, seperti ingin menghabisi diriku saja. Ingin sekali meminjam tangannya sebantar saja, untukku tamparkan pada wajahnya yang sangat aku benci. Ah, tapi sepertinya tidak mungkin, karena aku benar benar suka dengan tangan itu.

“Aduuhh…jam berapa sekarang ya?” , bertanya pada diri sendiri.

Masih menunggu pria yang ingin dia temui, “Jam berapa sih janjiannya, huh kebiasaan buruk sekali, masa kita wanita yang harus menunggu pria sih..?”

Tapi tak mengapalah, toh aku juga ingin melihat tangan yang pria itu miliki, sudah lama juga aku tidak memandangi tangan itu. Disaat menunggu, seperti biasa Gadis selalu menyibukan diri dengan buku-buku bacaan yang dia bawa, terkadang dia juga suka memainkan ponsel nya. Ya.. dan aku hanya mengikuti apa yang dia inginkan. Gadis pun terus memainkan ponselnya sambil melihat jam yang melingkar pada diriku.

“Sudah aku bilang, dia itu sudah tidak perduli padamu lagi Gadis…”, gumamku saat Gadis melihat jam yang melingkar padaku.

Tak lama berselang, ponsel Gadis pun berbunyi. “Haloo..kamu dimana?? Ouh..iya nih aku disini tepat didepan loket…oke..” , Gadis berbicara dengan ponselnya sambil melambaikan tangan kirinya ke arah pria yang dari tadi dia tunggu.

Pria itu pun menghampiri Gadis yang duduk di sofa panjang depan loket pembelian tiket bioskop. Ya sepertinya mereka memang berencana untuk melihat film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Padahal aku sendiri tidak terlalu suka dengan suasana didalam bioskop yang sangat gelap itu.

“Maaf nunggu lama ya…”, pria itu berbicara pada Gadis. “ Udah beli tiketnya..?” , susulnya.

“Iya..gak apa-apa udah biasa nunggu juga…udah nih…yuk..”, sambut Gadis.

Ah aku benci sekali dengan Pria ini, yang selalu bertingkah manis dihadapan Gadis. Aku pun mengikuti mereka berdua masuk kedalam bioskop. “Tangan kanan,,,ah aku melupakan dia saat diluar studio tadi, sekarang malah aku tidak bisa melihatnya karena gelap.”

Lama berselang, saat mereka tengah asyik melihat film yang sedang diputar di dalam studio. Ada yang menyapa diriku.

“ Hey…kamu tangan kanan Gadis ya…” , sapanya pada diriku.

“ Iya…kamu siapa?”, balasku.

“Aku tangan kiri Damar, pria yang Gadis cinta….”

“ Ah…tidak perlu kamu sebutkan namanya…aku sangat tidak menyukai pemilikmu..”

“ Kenapa kamu tidak meyukainya?”

“Entahlah…dia terlalu sering membuat Gadis menangis saat-saat sebelum tidur, dan kamu tahu akulah yang selalu menghapus setiap air mata yang keluar membasahi wajahnya..”

“Hemmm okey, kamu tahu kenapa Gadis menangis di setiap dia menjelang tidur”

“Ya..tentu saja, Gadis terlalu merindukan dia, tapi dia tidak pernah perduli akan rindunya Gadis…”

“Hahahahaha….ternyata kamu memang tangan seorang wanita sekali ya…”

“Hah? Kenapa kamu malah mentertawaiku seperti itu, lagipula memang aku wanita. Memang ada yang salah dengan argumen aku barusan.”

“Lalu, apa yang sudah kamu lakukan untuk membuat Gadis bahagia, selain menghapus air mata Gadis setiap kali dia menangis? Adakah yang sudah kamu lakukan hey tangan kanan Gadis?”

“Kalau saja aku bisa, sudah aku lakukan menarik Damar untuk melihat betapa terlukanya hati Gadis. Tapi aku hanya sebuah tangan yang harus mengikuti apa yang Gadis mau lakukan. Aku tidak punya kuasa akan intensitasku sendiri.”

“Ah..kata siapa itu? Kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan kok, bahkan menarik Damar sekalipun tentu saja kamu bisa.”

“Hah? Bagaimana mungkin?”, sahutku dengan nada penuh tanya.

“Ya..perlu aku beritahu, selama ini kamu hanya bisa menghapus air mata saja Gadis saja saat dia menangis, padahal banyak yang bisa kamu lakukan untuk memberikan senyum sedikit pada wajah Gadis. Dengan cara, berhenti menatap Tangan Kanan Damar!!!!”

“Hah??? Maksudnya?”, sahutku.

“Ya, selama ini aku selalu memperhatikan kamu, kamu menyukai tangan kanan Damar bukan,,,,hahahah..tidak perlu kamu iyakan tapi aku bisa melihatnya, betapa ingin kamu mengenggamnya kan?”

Ah kenapa dia begitu mengenal diriku, padahal aku baru kali ini berjumpa dengan nya. Dengan mudahnya dia bisa menebak betapa sukanya aku pada tangan kanan Damar.

“Kenapa diam kamu? Ahahhaha….” lanjutnya.
“Ouhh..”

“Perlu aku lanjutkan? Apa tidak perlu?”, dia melanjutkan. “Kalau kamu memaksakan diri pada tangan kanan Damar kamu tidak akan pernah bertemu dengannya, dan tahu apa itu,,,,ya tentu saja kamu tidak akan pernah bisa memberikan senyuman pada wajah Gadis.”

“Lalu, aku harus bagaimana supaya Gadis bisa tersenyum walau sedikit saja.”

“Benar kamu tidak tahu harus bagaimana?”, sambutnya. “Mau saya bantu?”

“Ya tentu saja, kalau kamu tidak…”, jawabku yang langsung dipotong oleh tangan kiri Damar.

“Sini, mana…buka telapakmu..!!!” perintahnya. Dan aku hanya mengikuti apa yang dia minta.

“Wah ternyata kamu kecil sekali ya…hemm…begini caranya..kalau kamu tidak keberatan.”

“Eh…”, aku terkaget ketika tangan kiri damar menggenggam dengan hangat diriku. Saat itu juga aku melihat, wajah Gadis menoleh pada wajah Damar, dengan raut penuh kebahagian dalam wajahnya. Bukan hanya senyuman saja yang aku lihat pada wajah Gadis, tapi wajah penuh bahagia. Walaupun aku tidak melihat Damar menoleh pada Gadis, ya Damar masih dingin wajahnya hanya menatap pada layar besar yang sedang memutarkan film. Ah, tapi saya tidak perduli dengan Damar, saya hanya perduli pada Gadis, pemilik diriku.

“Berhasilkan??” bisik tangan kiri Damar penuh kemenangan.

“Ya..berhasil…terimakasih…”, balasku.

“heu..kamu terlalu kecil, mudah sekali aku menggenggamu..ya dan kamu sepertinya kedinginan didalam ruang gelap ini bukan?”

“Hah?? Apa ??”, balasku dengan gugup.

“Aku akan menghangatkan kamu, sampai kita keluar dari ruangan ini…?”

Tangan kiri damar pun semakin menggenggamku erat, tangan kiri yang hangat dan besar itu sudah membuat Gadisku bahagia…

Iklan

2 thoughts on “Balada Tangan Asing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s