Kuhadiri Pestamu…

*****

Dret…dret…dret

Nada getar dari handphone yang kuletakkan diatas meja rias mengagetkanku yang sedang merapihkan penampilanku pagi itu. Kuraih cepat handphoneku dan kulihat layarnya, satu pesan diterima. Segera kubuka pesan singkat itu dan kubaca dengan datar.


“Berangkat jam berapa? Kita ketemu di TKP ya!!!”, isi pesan singkat yang kuterima dipagi itu. Kubalas dengan singkat tanpa basa- basi.
“6.30 dari rumah… OK. TKP.”

Minggu pagi, yang akhirnya harus aku hadapi juga. Satu bulan aku mempersiapkan hari ini bisa aku lewati dengan lapang tanpa ada sedikitpun kecamuk lagi dalam hatiku. Dan aku yakin aku bisa. Tapi tetap saja, aku masih belum yakin aku bisa menghadapimu nanti. Melihatmu berdiri dengan gagah dan pasti tampan bersama wanita yang bukan aku. Ya, dan aku harus menjabat tanganmu atau memelukmu lalu mengucap selamat atas kebahagian mu hari ini. Entah apakah aku sanggup…

*****

Teringat malam disaat kau memutuskan untuk meminangnya. Aku hanya bisa merestui pilihanmu. Dan kau dengan penuh haru memelukku dengan erat pertanda bahagiamu atas restuku. Dan aku wanita yang hanya bisa mencintaimu diam-diam. Dari dulu hingga hari ini. Hari bahagiamu, hari kau mengakhiri segala gundahku.

*****

Aku berdandan cantik khusus untuk harimu. Ungu yang sengaja kupilih untuk hari ini. Aku harus terlihat berbeda hari ini. Dimatamu.

Aku berada dalam rombongan kendaraan yang mengantarmu. Mengantar mempelai pria menuju kediaman mempelai wanita. Waktu terasa begitu lambat, merekonstruksi kembali penggalan kisah aku dengan kau yang pernah terlewati. Yang bahkan tak pernah berawal juga berakhir. Hari-hari yang pernah membuatku jatuh cinta berkali-kali kepadamu. Cinta yang tak pernah kau tahu sedikitpun. Cinta yang akhirnya kukuburkan dalam kotak disudut hatiku. Kukunci rapat dan hanya kubuka sesaat untuk kuceritakan kepada pendampingku kelak. Yang tentu itu bukan kau.

Mesjid tempat kau akan merapalkan janji setiamu dihadapan Allah, sudah terlihat jelas. Gerbang yang terbuka lebar menyambut kedatangan kami rombongan calon pengantin. Dengan gemetar, aku keluar mobil yang kunaiki menuju tempat suci ini. Tempat terakhir yang mungkin akan menenggelamkan cintaku akan dirimu. Selamanya.

Aku yang hanya bisa melihatmu dari jauh saja. Kau yang begitu tampan dan gagah mengenakan jas putih pengantin. Bersiap merapalkan janjimu kepada pendamping hidupmu dihadapan banyak orang atas nama Allah. Dulu, akulah yang selalu bermimpi dan berharap wanita yang duduk disana adalah aku. Tapi tidak dihari ini, saat aku menjadi saksi atas pilihan hidupmu.

“Saya terima nikah dan kawinnya Kinanti Praweswari binti Sardjono dengan mas kawin tersebut tunai.”, dengan lancar kau merapal ijab qabulmu diminggu pagi itu. Jantungku berdegup dengan kencang saat semua orang saksi dengan lantang berkata, “SAH”. Dan seluruh isi mesjid bergemuruh, “Alhamdulillah”. Terpancarkan doa-doa dari seluruh isi mesjid untuk kau dan istrimu hari itu.

Aku yang tidak boleh menangis hari itu. Dengan ikhlas melepasmu, mengembalikan semua rasa cintaku kepada sang pemilik cinta tepat dihari bahagiamu. Kukembalikan semua cinta yang kupunya untukmu, yang pernah ada dan masih tersisa untukmu kepada-Nya. Dan aku berbahagia untukmu sahabatku, musuhku bahkan kekasih imajinerku yang kucinta diam-diam.

“Bunda, kenapa nangis?”, terdengar suara lembut bocah mungil berkata tepat didekatku. Kumenoleh cepat kearah datangnya suara. Tersenyum lalu membalas dengan ciuman lembut di pipinya. Mengangkatnya dan memindahkan kepangkuanku. Memeluk erat tubuh mungilnya. Dan melihat pria yang sedari tadi duduk disebelahku. Pria yang beruntung melihat isi kotak disudut hatiku. Pria yang sudah kupilih untuk mencintaiku tanpa koma bahkan titik.

Pria yang tahu kau adalah “The Man Who Can’t Be Moved” dalam hidupku. Dulu, dan kuakhiri dihari ini dihari bahagiamu.

Selamat Berbahagia

🙂

*****

Terinsipirasi dari blognya @indrewbapaw The Man Who Can’t Be Moved

Ditemani lagu kerennya Peterpan “Yang Terdalam”

Iklan

4 thoughts on “Kuhadiri Pestamu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s