Maaf… Aku terlambat

*****

Bangku taman yang tak lagi bertuan. Disitu 2 tahun yang lalu saat aku berbagi bekal makan siangku dengannya. Lalu di situ pula, aku membacakan semua cerita yang aku tuliskan hanya untuknya. Agar aku membiasakan rasa ketiadaan akan dirinya…

*****

“Ini pake isi apa?”
“Daging asap dan keju…aku tambahin sedikit mayo juga…. ”
“Yah kok mayo, aku gk suka rasanya…”
“Coba dulu deh!!!…. Lebih enak malahan..”

Mayonaise, dia memang tak begitu suka rasanya. Tapi di hari itu, dia bahkan tidak memuntahkannya. Dia malah bilang terkejut dengan rasa mayonaise yang aku oleskan ke dalam roti isi yang ku bawa untuk bekal makan siang kami saat itu.

Aku dan dia memang jarang sekali bertemu, semenjak vonis di awal tahun 2008 itu. Dulu sebelum vonis itu terucap, aku dengannya sering sekali bertemu. Walau hanya sekedar bertukar buku, mencari DVD bajakan bersama, atau bahkan hanya untuk bertukar doa.

Aku dan dia bahkan bukan sepasang kekasih. Ah kita tidak pernah perduli dengan embel-embel itu. Yang pasti aku tidak ingin membuatnya sakit, begitupun dia terhadapku.

Hingga aku memintanya untuk tidak terlalu sering menemuiku. Awalnya dia tidak terima dengan alasanku yang menurutnya aneh. Tapi akhirnya aku mengabulkan permintaannya. Dia yang boleh menemuiku hanya di taman ini, membawakannya bekal makan siang, dan menuliskan cerita untuknya lalu aku bacakan. Aku suka membacakan cerita untuknya. Terkadang dia suka tertidur saat aku bacakan cerita. Dan sepertinya aku jatuh cinta padanya.

*****

Telepon genggam milikku berdering….


“Kamu dimana? Aku sudah lapar sekali”
“Aku terlambat… Maaf, kamu beli apa dulu biar gk terlalu lapar!!!”
“Aku jemput kamu ya? Kamu dimana?”
“Gak usah gak usah,, aku udah naik bus kok, kamu beli roti dulu atau apa gitu di mini market.”
“Yakin gak mau aku jemput aja? Kamu dimana sih?”
“Yakin sekali, 30 menit lagi mudah-mudahan aku sampe situ…”

Pernah suatu kali, dia menungguku lama di bangku taman yang biasa kita pakai. Saat aku tiba, dia masih menungguku dengan setia di bangku taman itu. Terengah aku menghampirinya yang tengah duduk menumpangkan kaki. Hari itu dia terlihat rapih sekali, tidak biasanya dia memakai kemeja saat bertemu denganku. Dia hanya menatapku, semburat senyum tampak dari wajahnya, saat melihatku berlari ke arahnya.

“Maaf menunggu lama…”
“Sini duduk sini…”
, menarik tanganku dan memberiku ruang untuk duduk disebelahnya. “Capek kamu lari-lari, sampe mimisan gini sih…”, dia sambil mengusap darah yang keluar dari hidungku.
“Hah….? Mimisan?”, aku yang terkaget dan terdiam membiarkan dia membersihkan darah dari hidungku.

Dia bahkan tidak menanyakan kenapa aku mimisan saat itu. Setelah darahku berhenti tidak keluar lagi dari hidungku. Dia melihat ku dan tersenyum.. “Udah cantik lagi kamu, gak usah pake darah-darahan lagi ya!”. Aku yang hanya bisa terdiam. Sesaat dia pun langsung menanyakan bekal siangnya di hari itu. Mengambil tas kanvas yang aku bawa, mengeluarkan tempat bekal yang kubawa dengan sangat antusias.

“Wwaaawww… Enak nih kayaknya, aku lapar sekali, kamu sih datangnya kelamaan. Aku khawatir kamu kenapa-napa tadi, kamu malah gak mau aku jemput.”
, sambil melahap makan siangnya dengan cepatnya.
“Maaf… ”
“Jangan kebanyakan minta maaf kamu, nih makan juga bekal yang udah kamu buat, kebanyakan kamu bawanya…
”, dia sambil menyuapiku dengan makanan yang dia ambil dari tempat bekal.

*****

Kesehatanku semakin drop diakhir tahun 2010, tubuhku semakin mengurus. Bahkan di setiap kali pertemuan kami, dia tak pernah menanyakan tentang perubahan pada diriku. Dia yang selalu dia, semakin dewasa dan semakin terlihat menyayangiku. Pernah suatu ketika, aku tiba-tiba jatuh terkulai di sebelahnya. Saat tersadar aku terbaring dirumah sakit, dia yang sedang duduk disebelahku, mengusap keningku.

“Kamu terlalu lapar ya sampai jatuh pingsan, mau aku suapi? Barusan aku beli pancake mangga kesuakaanmu?”, bahkan gurat wajahnya pun tak menampakkan kegelisah dengan apa yang terjadi padaku.
“Maaf… aku merepotkan kamu, iya aku kecapean kayaknya sampai lupa makan dari kemarin..”, aku yang berusaha menahan tangis saat itu.
“Jangan nangis, aku gak suka.”, dia yang bisa membaca nada suara gemetarku.

*****
Sore itu, Februari 2011, entah kenapa aku ingin sekali bertemu dia dengan tampilan yang berbeda dari biasanya. Aku mengenakan dress putih dengan cardigan abu, syal merah muda yang pernah dia hadiahkan untukku tahun lalu. Hari ini aku tidak membuatkan dia bekal untuknya, karena dia yang meminta. Dia akan mentraktir aku makan malam ditempat kesukaannya sambil melihat bintang miliknya.

“Dress??”
“How do I look?”
“Hemmmm…. Bad… you are so wonderful”
“Thank you..”
, aku tersipu.

Makan malam yang dia janjikan hari itu untukku benar-benar luar biasa. Dia yang sangat cuek bahkan bisa membuat sesuatu menjadi luar biasa. Malam itu tidak ada bekal, tidak ada cerita yang aku bacakan seperti pertemuan kita biasanya. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari dirinya.

Bukan taman lagi tempat pertemuan kita, hanya sebuah ruangan yang tidak terlalu besar yang dia sulap menjadi tempat makan malam kami hari itu. Bahkan bintang yang dia janjikan untukku lihat sudah dia buat dilangit-langit saat lampu ruangan itu tiba-tiba mati, bintang pun akan menyala terang di langit-langit ruangan kecil itu.

“Suka?”
“Suka sekali…”
“Selamat Ulang Tahun”
“Ulang tahunku masih bulan Mei loh..yah aku gak mau tambah umurku sekarang…”
“Make a wish… cepet sebelum aku nyalain lagi lampunya.”

Aku yang menurut sekali padanya. Kupejamkan kedua mataku, mengucap doaku malam itu yang menurutnya adalah malam ulang tahunku. Terlalu banyak harapanku ditahun ini. aku berdoa cukup lama malam itu. Doa-doa terbaik yang harus aku ucapakan dalam hati dengan khusyuk agar Tuhan mendengar. Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh lima manit, tiga puluh menit doaku tak kunjung selasai.

“Na..nana..nana…”
, samar dia memanggil namaku.
“Dokterrr….dok…suster…..”, dia berteriak memanggil dokter.

Aku pun selesai berdoa memohon kepada Tuhan untuk kebahagianku malam ini dan malam-malam seterusnya. Kebahagiaan dia, Dimas Mahendra, setelah malam ini. Kuhampiri dia, kubisikan di teliganya kalimat yang tak pernah aku ucapkan selama ini padanya.

“Maaf aku terlambat sayang, aku cinta kamu…”

*****

Bangku itu tak lagi bertuan, pusaraku penuh bunga hari ini. setiap tanggal 14 selalu penuh warna. Secarik kertas selalu kulihat di tanggal itu. Hari ini kertas itu sudah tidak penuh tulisan lagi. Hanya kalimat terkahir yang tidak pernah aku ucapkan.

“Maaf aku terlambat Kirana, aku cinta kamu…”
-Dimas Mahendra-

Iklan

4 thoughts on “Maaf… Aku terlambat

    • Oh iya gitu? Ahahahhaha terlupa saya… Suka soalnya sm nama Kirana, Kelana, nama-nama Indonesia sekali..

      Keren? Sungguh? Ahahahha jadi malu aw..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s