Turangga Ketika Fajar….

Sabtu siang di bulan maret, mendadak aku memutuskan kepergianku ke Jogjakarta. Sepulang kantor di jam satu siang, memang tidak biasa aku langsung pulang ke rumah. Entah, apa yang merasuki diriku siang itu. Hingga kuputuskan untuk membeli tiket kereta pulang-pergi Bandung Jogjakarta.

Stasiun kereta di kota ini tak pernah lengah, orang-orang hilir mudik membawa tas besar, pedagang-pedagang pun berlarian mengejar gerbong-gerbong kereta sebelum kereta pergi. Aku yang terdiam menunggu di bangku penumpang kelas executive, sendiri terseok dalam lamunanku akan jogja sesampainya nanti.

Kereta ini akan membawaku ke kota asing yang belum pernah aku kunjungi. Kulihat kembali tiket kereta dalam genggamanku, Bandung – SoloBalapan. Solo? Fikirku dalam hati, ah aku tidak terlalu peduli. Kemanapun kereta ini membawaku hari ini, aku hanya ingin menghapus jejak akan sepi di kota ini.

Kereta pun segera berangkat, penumpang mulai duduk di tempatnya masing-masing. Kursi disebelahku belum terisi. Mungkin memang kursi ini kosong tak bertuan. Bagus fikirku, aku bisa pakai kursi ini penuh jika aku tertidur nanti.

Kereta yang kunaiki pun perlahan mulai bergerak maju meninggalkan stasiun bandung. Ku pasang pemutar lagu yang selalu kubawa kemana-mana. Sambil membuka lembar demi lembar jurnal tulisan-tulisan lamaku. Menulis dihalaman kosong satu-dua-tiga….. sampai tak hingga kata tercoret dikertas itu. Kulihat jarum di jam tanganku, tak terasa perjalanan ini sudah 2 jam berselang. Pinggangku mulai panas, sepertinya aku harus rebahan sebentar saja.

Tapi mulutku mulai asam, aku butuh rasa mint sepertinya. Kukeluarkan bungkusan rokok dari dalam tasku. Bergegas aku menuju pemisah gerbong untuk kuhisap satu dua batang saja. Lagipula kelas executive ini membuatku menggigil. Lebih baik aku diam disini. Angin malam dari alam terbuka lebih bersahabat daripada AC keparat itu. Setidaknya rokok ini akan membuatku sedikit hangat.

“Ah sial, dimana pematik rokokku?”
, aku bergumam dalam gelap. Kurogoh isi tasku dalam-dalam tak jua kutemukan keberadaan pematik itu.

“Mba,,,”,
suara berat itu menegurku dari arah belakang. Sontak aku terkaget dan menjatuhkan rokok yang kupegang.
“Oops.. Maaf mba udah bikin kaget,,”
“Ooh iya gpp gpp..”,
balasku sambil melihat ke arah jatuhnya batang rokok tadi.
“Api mba?”, pria itu menawarkan.
“Iya, terimakasih…”, segera kunyalakan rokokku, kuhisap dalam-dalam aroma mint dalam rokok ini.
“Mau ke solo mba?”
“Hah? Apa? Iyah… Eh bukan bukan Jogja, saya mau ke jogja.”
“Ooohh… Liburan mba?
“Nggak… Cuma iseng aja..”

Tawa suara pria itu pun menggelegar merespon jawaban atas pertanyaan yang di ajukan padaku. Pria bersuara berat itu, samar kulihat garis wajahnya. Tulang wajah yang kokoh, hidung yang mancung, alis tegas dan semburat senyum rupawan dia sunggingkan padaku saat dia selesai dengan tawanya.

“Ricky….”
, dia mengulurkan tangannya. Kusambut ulurannya dalam panik. “Obit….kamu panggil saya obit aja, gak usah pake mba, saya belum setua itu juga kok.”, aku yang dengan lengkap memperkenalkan diri.

Mengalir obrolan kami sepanjang malam. Tentang siapa dia dan siapa aku. Tentang apa yang membawa kami menaiki kereta malam ini. Tentang semua hal penting bahkan tidak penting yang terlintas dalam fikiran kami. Malam pun beranjak larut. Dinginnya angin malam semakin menusuk tulang-tulang dan persendianku. Batang demi batang rokok sudah kami berdua habiskan. Obrolan kami pun tak jua bertemu kebuntuan. Kami berbincang, berdiskusi, bersenandung bahkan tertawa lepas.

Benakku, siapa pria asing yang sangat tidak asing malam ini? Terus dan menerus sepanjang malam pertanyaan itu menghinggapiku. Aku yang semakin menyadari kesempurnaan wajahnya dalam gelap, yang sesekali tersorot lampu-lampu jalanan atau lampu dari rumah-rumah yang dilalui kereta malam itu. Menatap dalam tanya saat dia terus berbicara tentang band-band kesukaannya. Tanpa aku sadari dia menatapku balik, memergokiku yang tengah mengaguminya.

“Kenapa? Hey kok diam? “
, dia menatapku dan bertanya. Segera aku menyadarkan diriku akan keterkagumanku padanya. Menggelengkan kepalaku, menundukkan pandanganku dari wajahnya.
“Nggak.. Gak kenapa-kenapa.”, aku dengan cepat.

Dia yang tidak percaya, mendekatiku, aku bergerak mundur menghindarinya. Dia tidak berhenti, semakin mendekatiku, membuatku terpojok ke pembatas gerbong, terdesak hingga tak ada ruang lagi untukku mundur menghindarinya. Aku terhimpit tubuh besarnya. Dia semakin menghimpitku, aku yang hanya terdiam, menahan berat tubuhnya dengan kedua tanganku. Dia semakin membuatku takut, menempelkan kedua tangannya ke pembatas besi, membuatku tak bisa lari. Aku yang akhirnya pasrah, menutup kedua mataku, dan berkata, “Ricky,,,berat”

“Ssssttt… Diam,, aku sedang membuat tubuhmu hangat..”
, himpitannya berubah menjadi pelukan, aku lega, menjatuhkan kedua tanganku ke samping tubuhku. Pelukan yang hangat, menghangatkanku malam itu di kereta yang akan membawaku ke kota asing. Terhanyut aku dalam pelukan pria asing.

“Tidurlah didalam, kamu lelah”, sahutnya melepaskan pelukannya. “Kalau beruntung kita akan bertemu lagi ketika fajar menjelang.”

*****

Kulihat jarum jamku, pk. 04:00, tidurku tidak begitu nyenyak tadi karena AC yang nyaris 0 derajat membuatku terbangun berulang kali. Aku masih didalam kereta yang sama. Mimpikah aku tadi. Bernafas lega,, ya aku bermimpi semalam. Kulihat diluar jendela, masih gulita. Penumpang kereta masih banyak yang tertidur dengan selimut tebalnya menutupi seluruh bagian tubuhnya.

Mulutku asam, dua batang rokok sepertinya akan membuat kembali netral rasa mulutku. Bergegas aku menuju luar, di ruang terbuka pemisah antar gerbong. Sepertinya aku melupakan pematik rokokku, kurogoh kedalam tasku, tak jua kumenemukannya. Gelap ini makin membuatku sulit mencarinya.

“Api,, mba?”
, terdengar suara menawarkan api kepadaku. Kutarik nafasku, membalikkan tubuhku. Tersenyum dan berkata, “Aku beruntung bukan?”

Sosok yang sama, pria yang kukira hanya imaji dalam mimpi itu nyata. Kembali memperkenalkan diri.

“Ricky…”

Aku tersenyum, menghempaskan uluran tangannya. Dia kembali mendekat, menghimpitku ke pembatas gerbong, hingga ku tak bisa bergerak. Kali ini bukan pelukan yang dia berikan padaku. Tapi ciuman hangat tepat dibibirku. Ciuman lembut yang membuat membeku, mematung tak membalas ciumannya. Sesaat. Hingga kusadari hangatnya yang merasuk persendianku, pelan kubalas ciumannya. Dia yang menyentuh lembut wajahku. Membuatku tak ingin menghentikan ciuman lembut dipagi itu. Dia berbicara dalam ciumannya.

“Selamat pagi, jangan pernah melewatkan jingga di atas kereta!”

Jingga fajar yang menghentikan waktu aku dengannya.

*****

Bulan Maret,,,,
Pria asing, dalam satu malam, yang entah tak pernah kutemui lagi.

Ketika Fajar di Turangga Malam..

*****

Iklan

6 thoughts on “Turangga Ketika Fajar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s