Toilet is My new Friend

****

Cerita di balik ruang kecil…
Cerita tentang toilet di kantor saya..

Tepat 1 tahun di awal juni kemarin, departement di tempat saya bekerja menempati gedung baru. Gedung yang terletak terpisah dari gedung utama kantor. Tepatnya berada di tanah belakang gedung utama. Jadi lebih besar memang, 2 lantai. Karena saya orang administrasi, jadi tempat kerja saya berada di lantai 2.

Entah kenapa saya punya tempat favorit di gedung baru ini. Ya tiada lain dan tiada bukan adalah ruang kecil berukuran Β±1,5×2,5 mtr, TOILET. Kebetulan jumlah wanita yang ada di departement saya hanya 4 orang, jadi toilet pun hanya dipakai oleh kami saja. Jadi kebersihan sudah pasti tetap terjaga, tetap wangi. Apalagi petugas kebersihan di departement saya sangat rajin, jadi semua lini ruangan apapun itu termasuk toilet tetap terjaga sempurna. πŸ™‚

Semua tercurah di ruangan kecil itu, mulai dari memanfaatkan fungsi sesungguhnya sampai tertidur di jam kerja pun pernah saya lakukan di situ.. πŸ˜€

Yang paling sering saya lakukan di situ adalah ‘menangis’, manja memang menangis di kantor. Tapi saya wanita yang mudah menangis. Daripada teman-teman kantor saya curiga dan bertanya-tanya kenapa saya menangis, lebih baik menangis di toilet. Dan itu berhasil saya lakukan dengan cepat.. Menangis terisak… Ambil gulungan tissue di sayap kiri,,, tarik nafas panjang sekali… Menangis pun berhenti.

Saya sekarang berteman baik dengan toilet kantor. Umpatan, cacian, hujatan, curhatan semua saya teriakan di ruang kecil itu. Walaupun semua teriakan itu hanya bisa saya lakukan dalam hati.. :), tapi setidaknya hanya saya yang tahu kalau saya menangis.
Bisu memang, tidak ada support atas tangisan saya. Hanya diam, mati, tapi membuat saya lega karena tidak mencibir ketika saya menangis. Saya kuat insyaallah, tapi terkadang tangisan tidak terbendung. Hanya butuh ruang tersembunyi yang bisa membuat saya kembali berseri.

Ini baru saya alami, dua hari yang lalu saya mendapat sebuah email yang membuat saya menangis haru berderai air mata. Bagusnya saya pakai kacamata, jadi linangan air mata tidak langsung terlihat oleh teman-teman kantor saya. Akhirnya saya tumpahkan beberapa detik saja di toilet, meringis dan terisak haru d dalam ruang kecil itu. “Flush”, sedih pun hilang bersama semua air yang keluar dari bak penampung air ketika saya tekan tombol itu.

Tidak tampak lagi kesedihan di wajahku. Walaupun hanya menyisakan sedikit kegalauan di tulisan-tulisanku.. πŸ™‚

*****

Hey toilet..
Jangan bosan saya kunjungi
Walau hanya untuk saya tumpahkan kesedihan
Cukup mempersilahkan saya masuk, mengizinkan saya duduk, terisak..
Cukup itu saja..
Kita berteman bukan?
Saya harap jawabmu iya

*****


#picture: the toilet by Nihiluz on DeviantArt

Iklan

6 thoughts on “Toilet is My new Friend

  1. ternyata ya..hehe..saya baru buka-buka catatan-catatan kecilmu ni..jadi terinspirasi..ini salah satunya..teruskan ya ni menulis..saya mau belajar dari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s