Murni Perawan Sintren

“Tambak tambak pawon

Isie dandang kukusan

Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul.”

Juru kawih mulai mengumandangkan lagu pembuka dalam pertunjukan sintren malam ini.  Diiringi beberapa gamelan, sebuah alat musik pukul dan waditra lainya seperti , kendang, gong, dan kecrek.

Inilah pertunjukan yang dimiliki oleh masyrakat pesisiran di utara jawa barat. Disini di kota udang inilah aku akan menghabiskan masa KKN aku bersama 10 orang temanku yang lain. Dan entah mengapa di minggu pertamaku berada di daerah pesisir ini, dengan mudahnya aku dibuat jatuh cinta kepada tempat ini.

*****

“Damar, lu beneran gak ikut balik kejakarta?”, salah seorang teman bertanya pagi tadi saat mengemasi tas bawaanya.

“Gak deh, gue masih ada sedikit urusan dengan lurah Jamal entar siang.”, aku menimpali pertanyaannya.

“Lurah Jamal apa dek Murni si penari sintren itu? Gue rasa lu mulai terpikat tuh sama si Murni kan Mar? Bisa-bisanya lu Mar..”, temanku yang lain menimpali. Aku hanya diam tanpa menghiraukan sedikit pun ucapan mereka.

*****

Kembang trate

Dituku disebrang kana

Kartini dirante

Kang rante aran mang rana

Penonton pun mulai berkumpul mendekati arena pertunjukan sintren malam ini. Aku yang memang sengaja datang malam ini untuk melihat pertunjukan sintren memilih tempat paling depan, sehingga aku bisa dengan mudah mengabadikan pertunjukan malam ini dengan kamera yang kubawa. Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan sintren. Sinden terus mendendangkan kawih-kawihan dalam bahasa cirebon yang tidak sedikitpun aku mengerti artinya.

Ditengah-tengah kawih sinden tadi, munculah sang primadona pertunjukan sintren malam itu. Dia adalah Murni, seorang gadis yang baru kuketahui kalau dia adalah seorang sintren terkenal di daerah pesisir sini. Aku mengenalnya di suatu minggu pagi saat aku sedang berjalan-jalan di pesisir pantai. Dia mendapatiku tengah kebingungan, ketika aku hendak memotret objek fotoku di pantai. Murni yang sangat membantuku kala itu. Akhirnya, kami pun berkenalan dan berteman sampai dengan malam ini kali pertama aku melihat pertunjukannya.

Malam ini aku melihat Murni dalam sosok yang berbeda. Malam ini dia penuh misteri. Berbeda dengan kesehariannya yang sangat ramah dan santun, tidak jauh beda dengan gadis-gadis desa kebanyakan. Aku terus mengabadikan pertunjukan malam itu dengan kamera yang kubawa. Sambil terus membidik Murni malam itu, aku terus berfikir apa yang membuat Murni memilih menjadi Sintren. Ya, Sintren… pertunjukan yang menurut sebagian orang kota adalah pertunjukan yang penuh dengan unsur magis. Sampai pertunjukan selesaipun semua pertanyaan dalam benakku tak juga terjawab. “Kenapa harus Sintren, Murni?”

*****

“Mas Damar berapa lama lagi ada disini?”, Murni bertanya kepadaku siang itu, saat aku tengah istirahat di kursi panjang di kelurahan.

“Hemm, berapa ya? saya disini sudah dua bulan ya? mungkin sampai akhir bulan depan Mur, saya kan hanya punya jatah KKN 3 bulan saja.”, aku menjawab pertanyaan Murni barusan.

“Sebentar lagi dong Mas, nanti Mas Damar pasti lupa sama kita semua disini ya?”

“Ya nggak lah Mur, mana mungkin saya lupa, mungkin 3 bulan memang waktu yang singkat untuk mengenal banyak tempat ini, tapi waktu yang cukup untuk bisa membuat saya jatuh cinta dengan tempat ini, dengan warga sini, dengan kebisaan orang-orang disekitar sini, dengan makanan sini pun saya dengan mudahnya dibuat jatuh cinta….”

“Syukur deh Mas, kalo…..”

“Dan satu lagi, saya bisa dengan mudahnya dibuat jatuh cinta olehmu Mur..”, aku dengan tiba-tiba mengeluarkan kalimat itu, entah setan apa yang menyurupiku siang itu sehingga aku bisa berkata-kata seperti itu kepada Murni.

“Apa Mas?”, Murni melihat ke arahku dengan nada kaget.

“Mur, saya lapar, ayo temani saya cari makan.”, aku tidak menjawab pertanyaannya, mengacuhkan pertanyaannya. Beranjak pergi dari kursi panjang yang tadi kupakai untuk beristirahat.

“Mas..mas.. mas Damar.. tunggu!!!”, Murni mengikuti dari belakang. Aku tersenyum sipu mengingat ucapanku barusan kepada Murni. “Benarkah aku jatuh cinta pada Murni?”

*****

Minggu ini adalah minggu terakhirku di tempat ini. Tidak terasa sudah 3 bulan aku berada di tempat ini. Tugas KKN ku pun akan segera berakhir. Malam ini, akan ada hajatan di kantor kelurahan, seperti biasanya akan diadakan pertunjukan sintren lagi malam ini. Dan untuk kesekian kalinya selama 3 bulan disini , aku melihat Murni dalam pertunjukan-pertunjukannya, mengabadikan semua sosoknya dalam rupa wajah Sintren.

Gulung gulung kasa

Ana sintren masih turu

Wong nontone buru-buru                                                                                                       

Ana sintren masih baru

Bau kemenyan mulai tercium ditengah-tengah pertunjukan. Murni pun diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, dimasukan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Sinden terus menerus nembang, ada pawang yang tak henti-hentinya membaca doa. Namun begitu kurungan dibuka, sang sintren, Murni, sudah berganti dengan pakaian yang serba bagus layaknya pakaian yang biasa digunakan untuk menari topeng, ditambah lagi Murni memakai kaca mata hitam.

Dia menari secara monoton, penonton yang berdesak-desakan mulai melempari Murni dengan uang logam, Murni pun jatuh seketika tak sadarkan diri ketika salah satu uang logam yang dilempar penonton mengenai tubuhnya. Kembali tersadar  dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Aku sering sekali menanyakan hal ini kepada Murni, tentang apa yang membuat dia tak sadarkan diri, atau bagaimana sintren bisa mengganti semua pakaiannya saat dalam keadaan terikat didalam kurungan. Murni hanya tersenyum dan selalu menjawab, “Itu rahasia pertunjukan sintren, Mas…”

Pertunjukan pun berakhir malam ini, aku janji mengajak Murni jalan-jalan malam ini setelah pertunjukannya berakhir. Malam minggu ini aku mengajaknya ke pusat kota Cirebon. Sekedar memuaskan perut kami dengan kuliner-kuliner kota udang. Alun-alun kota terlihat ramai sekali, dipadati muda-mudi kota udang. Aku dan Murni menikmati suasana malam minggu kami saat itu, bertukar pikiran, bercengkrama, tertawa dan sesekali terdiam tanpa kata. Tak terasa malam segera larut. Aku memutuskan mengajak Murni pulang kembali ke desa kami.

Ditengah perjalanan, hujan secara tiba-tida datang menyerbu dengan sangat derasnya. Angin sekitar pesisir pantai ikut serta menyerang perjalanan pulang kami malam itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berteduh, berharap hujan akan reda dengan cepat.

“Mur, kita berteduh disana sebantar ya? Mudah-mudahan hujannya segera reda..”, aku berbicara pada Murni sambil mengusap lengannya yang memeluk erat pinggangku saat itu. Aku pun menghentikan sepeda motorku di sebuah warung tua yang tak bertuan.

“Mas, Murni takut….” dengan nada suara terbata dan penuh ketakutan dia mengenggam erat tanganku.

*****

Enam bulan yang lalu, di tempat ini aku mengingat jelas wajahnya. Ayu rupanya di bawah kegelapan tersapu oleh air hujan yang membasahi guratan wajahnya. Mungil tubuhnya kuyup oleh guyuran hujan kala malam itu. Malam di mana aku terakhir kali melihatnya dalam ketakutan, dalam senyuman, dalam tangisan, dalam cinta. Murni perawan sintren yang kurenggut tahtanya dari seni pertunjukan sintren. Kumusnahkan masa depannya hanya karena nafsuku sebagai seorang pria.

Hanya aku hari ini, terdiam bersama dengan surat yang datang terlambat.

 

*****

*Malam… 4 bulan setelah kepergian Damar*                      

Kepada Mas Damar

Di tempat

 

Assalamualaikum..

Mas Damar apakabar? Bagaimana kuliahnya?

Apakah mas Damar tidak pernah menerima surat-surat dari Murni?

Lalu kenapa mas Damar tidak pernah membalas surat dari Murni?

Apakah mas Damar marah sama Murni gara-gara malam itu?

Murni, tau kita berdua sama-sama khilaf kan mas, lalu kenapa mas Damar tiba-tiba menghilang, tidak pamit sama Murni, Bapak juga Emak..

Di bulan ke empat ini mas Damar tak kunjung memberi kabar pada murni. Murni memutuskan untuk tidak terus-terusan membohongi banyak orang mas, Murni tidak lagi menjadi Sintren. Bapak marah besar pada murni dan memaksa Murni untuk berterus terang, tapi Murni tidak bisa menjawab paksaan dari Bapak.

Murni hamil mas, dan Murni tidak bisa meneruskannya sendiri. Murni tidak sanggup jika mas Damar tidak disini bersama Murni. Mas Damar jangan marah sama Murni. Murni minta maaf, mas Damar jangan datang kesini nanti Bapak bisa marah.

 

Salam

-Murni-

 

*****

“Maafkan saya Murni….”

Aku masukan kembali surat pertama sekaligus surat terakhir yang kuterima dari Murni ke dalam tas yang kubawa. Hanya tinggal nama yang terukir di batu nisannya. Aku pun kembali ke Jakarta, tanpa pernah lagi menginjakkan kakiku ke desa itu lagi.

*****

 

Iklan

5 thoughts on “Murni Perawan Sintren

  1. @damar: dasar kau “keong racun”

    surat damar untuk murni #versi saya

    dear Pemaaf,

    surat ini bukan untuk mengemis maaf. karna seorang pemaaf sepertimu tidak memerlukannya.
    tanyalah pada Tuhan tentang do’aku selama ini, maka akan tertulis namamu di langit…

    (balas si murni: do’a aja mana bikin kenyang 😀 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s