Dari Lantai 3 [part 1]

*****

“Arya… Arya…”, mendayu suara itu memanggil namaku.

*****

Aku mengenalnya enam bulan yang lalu, saat aku dipindahtugaskan ke kota ini. Kota besar, kota perantau berbagai manusia dari penjuru Indonesia. Aku bekerja sebagai seorang konsultan Sipil di salah satu perusahaan asing yang bergerak di bidang minyak bumi dan gas alam.

Dia adalah Lindung, seorang gadis muda yang tinggal di rumah besar yang terletak beberapa blok dari tempat kostku di Jakarta. Tidak sengaja aku bertemu dengannya saat aku yang tengah bersepeda sore melihat dia sedang berdiri di balkon dari lantai tiga rumahnya. Begitu setiap hari dia selalu berdiri di balkon itu. Hingga suatu hari di minggu pagi, aku sengaja melewati rumahnya. Aku yang saat itu bersepeda berakting seolah-olah rantai sepedaku lepas, akhirnya aku perbaiki rantai sepedaku tepat didepan rumahnya.

Kepura-puraanku tidak dia sadari, aku duduk di trotoar diseberang rumahnya. Pura-pura beristirahat sehabis memperbaiki rantai sepedaku. Entah apa yang terlintas di benakku saat itu, kukeluarkan dari tasku, kamera yang aku bawa. Aku mulai membidik apapu disekitarku, termasuk membidik dia secara diam-diam. Lensa yang dapat kuatur, kucuri foto dia dengan tanpa dia sadari. Kuperhatikan seksama hasil bidikanku, tenyata dia adalah gadis muda yang cantik. Setelah puas membidik dia, aku memutuskan untuk melanjutkan olahraga pagiku dengan bersepeda. Begitu seterusnya, sampai minggu ketiga aku mencuri fotonya secara diam-diam tanpa dia sadari. Aku mulai tertarik dengan hasil olah tubuhnya yang sagat natural saat dikamera, sepertinya kamera milikku jatuh cinta padanya.

Di minggu ke empat, sepertinya badanku kurang fit, sehingga aku mengurungkan niatku bersepeda di minggu pagi. Aku lebih memilih merebahkan badanku berselimut di hari minggu. Bermalas-malasan adalah pilihan yang tepat di minggu pagi saat itu, sambil menikmati secangkir coklat panas dan ditemani acara televisi sambil sesaat membersihkan kamera kesayanganku. Saat tengah asyik bermalas-malasan. Pintu kamar kostku ada yang mengetuk. Ketukan yang sangat pelan, namun jelas. Kusegerakan membukanya untuk melihat siapa tamu di minggu pagi. Saat kubuka pintu kamar kostku, aku dikagetkan oleh sesosok wanita yang tidak pernah aku sangka akan datang menemuiku.

“Hallo, Aku Lindung, kamu Arya?”, dengan suara datar gadis yang datang ke kamar kostku memperkenalkan diri sambil megulurkan tangannya kepadaku. Ya, dia adalah gadis elalu aku curi diam-diam fotonya, gadis yang selalu kulihat di balkon di lantai tiga rumahnya. Dengan panik aku menjabat tangannya seraya memperkenalkan diri.

“Hallo,,, oh iya saya Arya, kok tahu?”, aku dengan nada panik bercampur kaget dan bingung.

“Aku boleh masuk?”, gadis itu meminta masih dengan nada yang datar.

“Hah? Masuk?”, aku gagap terheran dengan keinginan gadis ini. “Oooh, boleh-boleh silahkan, tapi maaf berantakan kamarnya.”, aku yang tanpa pikir panjang langsung memepersilahkan Lindung masuk ke kamar kostku.

Lindung pun masuk ke kamar kostku, pelan menancapkan langkah kakinya. Mengamati sudut demi sudut kamarku. Memperhatikan dengan antusias benda-benda yang aku pajang di kamarku. Aku yang masih heran dengan kedatangannya, masih tidak percaya gadis misterius itu datang ke kamar kostku. Masih berkecamuk segala pertanyaanku tentang itu semua yang belum juga kutemukan jawabnya, tiba-tiba aku dikagetkan oleh pertanyaanya.

“Mana foto-foto ku yang kau curi tiga minggu ini?”, masih dengan nada datar di bertanya, membalikkan tubuhnya melihat langsung kewajahku. Sontak aku terkaget dengan pertanyaanya, darimana dia bisa tahu kalau aku mencuri foto-fotonya diam-diam pikirku saat itu.

“Hah? Foto?”
“Iya foto-foto milliku yang sudah kau curi diam-diam?”
, dia mendekatiku dengan ucapan yang lebih tegas dari sebelumnya.
“Ooohh, maaf..”, aku dengan panik. “Ada kok, masih aku edit, di laptopku.”, berjalan menuju laptopku, menghidupkannya. Dia mendekatiku dan duduk di sampingku, memperhatikanku.

Aku yang masih terheran-heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba ke tempatku. Diam tanpa kata mencari folder-folder foto yang belum sempat aku edit. Dia terus memperhatikan layar laptopku. Hingga akhirnya kebisuan kami pun pecah dengan pertanyaan yang dia lontarkan. “Kenapa kamu diam-diam moto aku?”
“Hah? Hemm kenapa ya? Nggak tau deh, awalnya cuma iseng, tapi waktu aku liat lagi kamu Ok di kamera.”

“Aku nggak suka kamu mencuri fotoku diam diam seperti itu Arya.”, dia menimpaliku dengan pernyataan keras.

“Maaf…”, sahutku. “Sekali lagi saya mohon maaf Lindung”

Lindung hanya menatapku tajam, aku terhipnotis oleh warna cokelat matanya yang indah. Diamnya mengacaukan konsentrasiku akan kecantikan gadis ini. Tersadar oleh suara pintu kostku yang menutup karena angin menghempasnya terlalu keras.

Lindung dengan parasnya, memalingkan wajahnya dariku. Menatap layar laptopku, menungguku membuka folder-folder foto miliknya.

*****

(to be continued)

Iklan

3 thoughts on “Dari Lantai 3 [part 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s