Bintang Kastangel

Terbaring dalam diam, sangat dekat, berdekatan, perempuan dan seorang pria yang memandangnya lekat, penuh cinta. Perempuan terdiam lama membisu dalam gelap, memandang ke arah jendela, ke arah datangnya cahaya kuning dari lampu di taman. Dalam lembut perempuan itu bertutur, berkisah dengan lantunan indah kepada pria yang berbaring disampingnya.

“… Hey lihat, itu bintang milikku sudah kembali bersinar di malam bulan ke tujuh aku menunggu. Akhirnya aku bisa kembali pulang.”
“Kenapa dia harus pulang?”, tanya pria kepada perempuan.
“Karena ibunya sudah lama menunggu di puncak kupu-kupu di belahan negeri pelangi. Lagi pula sang putri kenari sudah tidak terlalu dibutuhkan di negeri penanam kopi”

Si pria mengernyit, lalu tersenyum, memalingkan wajahnya ke arah bintang yang perempuan tunjuk dengan tangan kirinya.

“Aku ingin berjalan-jalan ke negeri penanam kopi yang kamu ceritakan setiap malam kepadaku”
“Hemm, kenapa kamu ingin kesana?”, tanya perempuan kepada pria.
“Aku pecinta kopi, jika aku diam disana aku tidak perlu susah payah mengeluarkan uang untuk membeli kopi ke swalayan.”
“Ah, aku tidak suka kalau kamu harus menjadi petani kopi juga seperti yang sang putri kenari lakukan selama tujuh bulan lamanya.”

Pria pun mengangkat tubuhnya, menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Menyeka rambut yang menghalangi wajah perempuan. Tersenyum dengan mata yang penuh tanya. Perempuan menatapnya balik, tersenyum malu kepada pria disampingnya.

“Aku tidak pernah mengerti dengan cerita peri, pangeran, putri yang kamu ceritakan setiap malam, menjelang tidurmu. Tapi aku selalu dibuat jatuh penasaran dengan semua tokoh yang kamu ceritakan didalamnya. Aku hanya ingin jadi orang pertama yang mendengarkan semua imajinasi cantikmu itu.”
“Kamu terpaksa menjadi pendegar?”
“Iya aku terpaksa, karena aku jatuh.. Jatuh cinta dengan semua cara kamu bertutur..”

Tangan perempuan yang terbaring itu mengusap lembut kepala pria disebelahnya.
Tanpa kata, hanya kembali segurat senyum yang tampak pada ujung bibirnya, menyisakan lesung pada pipinya yang terkena bias sinar dari cahaya lampu di luar jendela.
“Bagian mana yang kamu suka dari semua?”

Pria berfikir sejenak, lalu dengan semangat menuturkan kembali cerita-cerita yang dia ingat.

“Aku suka bintang yang kamu beri nama kastangel, itu karena kamu suka sekali dengan kue kering itu kan. Bintang itu hanya bersinar sekali, jika dia telah memilih orang yang tepat bukan?”
“Iya orang yang tepat, hemmm dan aku ingin sekali makan kastangel, besok bawakan untukku ya!”
“Iya kalau sempat aku belikan untukmu. Kenapa harus orang yang tepat?”
“Bintang itu hanya bersinar di waktu tertentu. Haruslah orang terpilih, haruslah orang yang membuka jiwa dan hatinya yang bisa membuat bintang bersinar. Bintang kastangel ini diciptakan special. Dia tidak berteman, tidak berkeluarga. Dia hanya akan bertemu dengan mereka-mereka yang telah siap saja. Aku sedang menyiapkan diri untuk menjadi pilihannya.”

Pria mengernyitkan, mencoba mengerti.
“Apakah aku akan menjadi bintang kastangel itu?

Perempuan tertawa, lalu terbatuk.
“Tidak mungkin, kamu bukan bintang sayang. Kamu itu seperti aku, kita sama pada akhirnya kita yang akan memilih mereka, memilih bintang-bintang kita..”

Mereka berdua terdiam dalam gelap. Pria kembali merebahkan kepalanya ke bantal diatas kasur dimana mereka terbaring. Mendesah. Perempuan pun mengusap lembut dada sang pria.

“Aku ingin menjadi bintang itu untukmu”
“Selalu.. Selamanya.. Tapi bukan bintang kastangel ini..”, menenangkan sang pria yang mendesah sedih. “Kamu tahu, bintang ini hanya memilih jiwa, mereka yang terpilih atau memilih akan terbang meninggalkan raganya. Bintang kastangel tidak punya cukup bagasi untuk menampung raga…”, sang perempuan terkikik pelan.

Pria itu terhenyak. Sunyi kembali merajai. Ia mengerjapkan matanya lebih kerap berusaha menahan air mata agar tak jatuh dari sana. Ia pun menempelkan bibirnya ke kening perempuan itu.

“Enak sekali…”, perempuan itu bereaksi dengan lugunya.
“Jika bintang kastangel sudah dekat beri tahu aku, aku akan mengahncurkannya.”

Perempuan memutar tubuhnya mendekap pria itu dengan erat. Mereka berpeluk, saling berdekapan dengan eratnya. Bergelung diatas tempat tidur rumah sakit yang begitu sempit. Pria yang tak lagi menghiraukan berbagai selang dan jarum yang menempel pada tubuh perempuan yang hanya tinggal tulang itu. LLK yang
sudah berhasil mencuri semuanya dari perempuan itu, dari kehidupan mereka berdua.

“Kalau sakit, maafkan aku, aku tidak akan melepaskanmu lagi sekarang dan selamanya”
“Tak apa sakitnya segera pergi. Kuberitahu jika bintang kastangel mendekatiku”

Air matapun tak lagi terbendung. Beginilah mereka melalui setiap malam di bulan ke tujuh ini.

“Tidurlah putri kenariku, bangunlah esok dengan lesung yang kucinta. Kubawakan kue kastangel yang kamu mau.”
“Aku jatuh cinta dengan bau tubuhmu”
“Tidurlah!”

*****

Terbangun dalam duduk..

“Aaaaggghh, kamu terlalu cepat datang, aku belum sempat mengecup bibirnya untuk malam ini.. Kamu licik datang tak mengirimiku surat terlebih dahulu…”

“Kamu yang memilihku, maka aku datang untuk menyembuhkanmu, sayang! Ayo bergegas…”

*****


Note: LLK » Leukeumia Limfositik Kronik

Iklan

3 thoughts on “Bintang Kastangel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s