Kelas Menyelam

Aku memilih kelas menyelam untuk semester ganjil. Leaflet gradasi warna biru tua kontras dengan tulisan berwarna jingga keemasan yang aku jadikan petunjuk untuk sampai ke kelas yang aku pilih kali ini. Berharap aku tidak lagi salah memilih kelas. Koridor panjang yang harus aku lewati, jendela besi tua yang menghiasi sisi kanan dan kirinya. Cat tembok yang coklat usang menjadi lukisan pucat sepanjang jalan menuju kelas baruku.

Pintu kayu tua kontras berwarna biru tua, dengan kusen jingga senja menjadi ucapan selamat datang kepada semua murid yang akan masuk kelas menyelam. Tertulis dengan jelas dibagian atas pintu “Selamat Datang di Kelas Menyelam”. Hanya kalimat sederhana yang tidak terlalu memiliki arti khusus untuk kelas ini. Ya, ini hanya kelas menyelam dan aku tidak terlalu pandai di kelas terbang.

*****

Lewat sini! Kelas menyelam semester ini silahkan lewat sini. Perlahan. Ikuti saya, jangan sampai tersesat. Perjalanan kita agak panjang untuk sampai ke kelas nanti. Kita harus melewati berbagai hutan gelap, rawa dan lumpur yang menipu.

Pejamkan mata kalian, dengarkan denyut jantung kalian, kalian akan mendengar suara-suara yang akan menuntun langkah kaki kalian hingga gerbang berikutnya. Begitulah teriakan seorang wanita muda yang menuntun kami semua yang akan menempuh pendidikan menyelam.

Seorang tiba-tiba mengagetkanku dengan menepuk bahu kananku sambil berujar, “.. Sudah siap untuk tenggelam dan terhipnotis jauh kedalam jurang-jurangnya?”. Terkekeh berlalu menyusul laju langkahku. Menoleh dan tersenyum kepadaku, “…sampai jumpa di gerbang berikutnya, aku duluan ya!”.
Siapapun wanita yang menegurku tadi, membuatku mempercepat gerakan kakiku. Terburu oleh langkah lincah kakinya. Akupun berusah mengejar langkahnya, walaupun banyak orang-orang didepanku yang mengahalangiku. Ini benar-benar keterlalulan fikirku, gerbang berikutnya itu sangat jauh, dan memang benar sangat gelap, entahlah pencahayaan macam apa ini? Tidak membantu sama sekali. Hingga akhirnya aku memperlambat langkah kakiku kembali. Terdiam sejenak, kemudian mengikuti jalan yang harus kulalui untuk mencapai gerbang berikutnya.

Cahaya terang, seterang matahari pagi menyembur diujung jalan yang kulalui. Mungkin itulah gerbang berikutnya yang dimaksud. Aku terus melangkahkan kakiku kedepan semburat cahaya yang sudah terlihat jelas. Siluet-siluet orang yang berdiri tepat gerbang besar. Langkahku terhenti saat menatap gerbang yang mereka bicarakan. Ini aku terpukau. Perjalanan gelap yang kulalui tadi terbayar dengan apa yang aku lihat dibalik gerbang besar itu.

Kuayunkan langkahku. Seketika batu-batu keras yang aku lalui tadi, jalan lembab berair dan berlumpur, berubah menjadi lautan pasir putih yang kian membentang luas. Langit biru menjadi atap terbuka dengan guratan awan putih yang mengisi beriringan.
Laut.. ya laut, gradasi warna yang tidak pernah tidak aku dibuat kagum. Inikah kelas menyelamku selama satu semester ini? Masih terpukau dengan kelas baruku kali ini. Enam bulan dan aku akan menghabiskan waktu ku disini. Semoga ini pilihan yang tepat, walau aku tidak sepenuhnya siap.

“Hey, lihat bagus bukan kelas menyelam ini?”, kembali aku dikejutkan oleh sosok yang sama, yang tadi mengagetkanku dilorong menuju kelas ini. Sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku, “Aku Pancawarna, panggil aku sesuka hatimu!”. Kusambut tangannya dan mengenalkan diriku ,- Kidung-.

“Aku tau kamu kok…, oh iya kenapa tersesat di kelas ini? sudah siap kan? Ini beresiko loh…”, wanita itu kembali bertutur.

“Ya begitulah, entah apa yang membuat aku lebih memilih kelas ini daripada kelas terbang..”, aku menimpali tanyanya.

“Aku sudah pernah mencoba kelas terbang tiga kali, pernah berhasil terbang lama, dan memecahkan rekorku sendiri, tapi tersungkur juga akhirnya. Ya parasutku tersangkut dan sobek, itu menyebabkan patah dibeberapa bagian tubuhku tentunya…”, dengan ceria dia bercerita pengalamannya di kelas terbang.

“Akhirnya aku mencoba kelas ini, kelas menyelam. Bahkan didalam sana aku sudah menemukan pulau yang membuat aku menyelam lagi dan lagi. Percayalah padaku, kamu akan menyukai kelas ini, banyak rahasia di dalam sana..”, dia sambil menunjuk ke arah biru lautan terbuka.

Aku masih terdiam mencerna berbagai untaian kata yang keluar dari mulutnya. Wanita yang ceria sekali fikirku. Sementara aku masih belum bisa menemukan arah mauku sebenarnya di kelas ini. Nikmati saja fikirku kemudian, toh aku berada di kelas serupa pantai selama enam bulan lamanya.

*****

Pakailah! Seragam kalian semua selama enam bulan ini. Pastikan semua atribut terpasang pada tubuh kalian semua. Aku yang masih memegang seragam yang dimaksud itu, kebingungan apa yang harus aku perbuat dengan benda-benda yang ada tepat dihadapanku. Hingga aku pun menuju kamar ganti, bergegas mengikuti yang lain untuk memakai seragam yang dimaksud tadi.

Dikumpulkan di hamparan pasir putih, semua murid di kelas menyelam mendengarkan instruksi-instruksi yang harus dipatuhi. Pikiranku yang entah kemana, menerawang menembus birunya langit yang terbentang diatas riak-riak air laut yang menggiurkan. Aku tak mengenal siapa-siapa di kelas menyelam ini. Tak perlu juga aku mengenal siapapun disini, toh aku memilih kelas ini bukan karena siapa-siapa. Murni karena inginku, inginku untuk tahu apa rasanya jatuh menyelami ruang biru yang tak berbatas itu.

“Perkenalkan semua, namaku Pancawarna…”, aku dikagetkan dari lamunanku, dengan wanita yang berdiri didepan seraya mengenalkan diri dengan nama sama. Tak salah dia adalah wanita yang juga mengenalkan dirinya kepadaku, yang berhasil membuatku bertanya-tanya siapakah wanita ini.

“…kalian boleh memanggil saya sesuka hati kalian. Enam bulan kedepan kita akan bersenang-senang didalam sana.”, sambil menunjuk ke arah lautan biru. Aku masih terdiam memperhatikan wanita itu berbicara. Menyimak setiap luncuran kata yang menjadi kalimat yang dia ucapkan kepada kami semua.

“Lihatlah birunya ruangan itu! Biru juga yang akan kalian rasakan. Akan ada ketakutan dalam benak dan perut kalian. Menggelepar. Tapi juga dorongan yang sangat kuat untuk terjun masuk kedalam air, ke bawah, merasakan pori-pori kalian disusupi hangat dan dinginnya air yang bahkan tak berasa asin.”

“Kalian akan takut, tapi gairahnya tetap menguasai. Ini hanya masalah pilihan. Didalam sana nanti kalian akan bisa mati, atau muncul kembali ke daratan dengan kalian yang lain. Hingga kembali ke dalam adalah menjadi candu hidup untuk kalian. Seperti saya yang sudah menemukan pulau hidup saya didalam sana.”

“Siap? Kalian akan menggigil. Kalian boleh mundur dan pulang sebagai pecundang, tak pernah tahu bagaimana rasanya menyelam hingga ke dasar. Menyelam dan terbang sesungguhnya hanya untuk para pemberontak, petualang, mereka yang nekat dan pemberani, untuk orang-orang gila, pemuja sepi dan pecinta kebebasan. Kaliankah itu?”

“Ini hanya kelas tanpa garansi, jaminan akan menjadi apa kalian setelah kelas ini pun tak ada. Kalian hanya akan disuguhi dunia lain didalam sana, dunia ungu juga merah muda, juga abu-abu yang menyesatkan. Jangan harap kalian bertemu ubur-ubur atau terumbu karang disana. Didalam sana kalian hanya akan belajar bertahan menggunakan tabung udara yang tidak lah banyak. Menarilah didalam sana, nikmatilah kejatuhan kalian didalam air.”

“Ingat ini pelajaran tanpa garansi! Kalian tak perlu pandai berenang. Pasrahkan gelombang membawa tubuh kalian. Berdansalah! Hingga kalian mabuk..mabuk dan mabuk.. Munculah ke permukaan untuk melihat dunia kalian. Jika aku pun bisa menemukan pulau hidupku didalam sana. Maka aku pun akan hidup disana. Melayang didalam air, merasakan debaran dan degup jantung yang kupunya. Aku jatuh maka aku menyelaminya hingga aku tak tenggelam.”

“Terimakasih..”, wanita itu mengakhiri perkenalannya kepada kami semua. Disambut dengan riuh tepukan tangan dari semua. Akupun yang reflek ikut bertepuk tangan dengan rasa terpukau.

Enam bulan aku akan jatuh didalam lautan luas itu menyelami setiap jengkalnya hingga aku mabuk seperti mabuknya Pancawarna.

*****

Ya dia Pancawarna, yang mengajari bagaimana menyelam tapi tidak tenggelam. Menyelam dan terbang baginya hanya sebuah pilihan. Keduanya sama, tidak pernah bergaransi. Aku tidak ingin merasakan sakit yang berkepanjangan, maka aku memilih kelas menyelam. Hingga aku pun sekarat didalam air sana, aku tetap merasakan indahnya biru, ungu, merah muda bahkan abu-abu yang menjelma rupa cinta. Aku tetap bahagia, walau aku tak pernah bisa menyelami hatimu.

*****

Setelah enam bulan ini, aku ingin menjadi pemberontak untuk jatuh dari tinggi. Tanpa sayap juga parasut. Ya pelajaran terbang, tunggu aku di semester berikutnya…

Iklan

4 thoughts on “Kelas Menyelam

  1. bagus cara berceritanya…

    gak sabar nunggu yang ini:

    Setelah enam bulan ini, aku ingin menjadi pemberontak untuk jatuh dari tinggi. Tanpa sayap juga parasut. Ya pelajaran terbang, tunggu aku di semester berikutnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s