Dunia Kecil Kelana

[1]

BERLARI KELANA!

 

Bandung, Mei 2006…

Langit pekat perlahan berubah menjadi lembayung di ufuk timur. Udara pagi mulai menggantikan udara malam yang dingin dan pekat. Embun-embun membasahi dedaunan, kicauan burung mulai terdengar saling bersahutan di ranting pohon. Pagi yang selalu penuh harap semesta. Kembali di hari senin pagi, hari yang sangat di benci oleh semua kalangan pekerja di belahan dunia manapun. Senin yang sibuk, pekerjaan yang menumpuk, sindrom sehabis akhir pekan yang masih menggelayuti yang membuat senin sangat dihindari oleh manusia-manusia pemburu harta karun. Termasuk aku didalamnya.

Jam menunjukkan pukul 05:00 WIB, ini adalah waktu bangun pagiku setiap hari. Cukuplah nyawaku mulai berkumpul di jam itu. Menunaikan kewajibanku sebagai makhluk Tuhan, bergegas walaupun sudah terang diluar sana. Bersiap-siap untuk menghabiskan delapan jamku di tempat yang memberiku pundi-pundi emas sebagai seorang ‘buruh’ di salah satu pabrik yang katanya berskala nasional.

Aku tidak terlalu peduli dengan skala nasional atau pun internasional sekalipun yang disandang oleh pabrik tempatku bekerja sekarang. Aku yang semula hanya sebagai buruh layaknya seorang lulusan Sekolah Menengah lainnya., hingga akhirnya satu setengah tahun yang lalu aku diajukan menjadi seorang administrasi di salah satu divisi yang sekarang menaungiku. Atasanku mengajukan aku yang saat itu dianggap lebih mahir menggunakan komputer di antara teman-temanku yang lain. Sekarang aku menjadi administrasi follow up di perusahaan yang bergerak di bidang pakaian jadi.

Kelana Putri Priangan orang tuaku menamaiku, terlahir menjadi anak pertama di dalam keluarga, memiliki dua adik lelaki yang masih bersekolah. Dan saya berjanji pada ibu sepeninggal bapak, akan membuat kedua orang adikku menjadi orang yang berhasil kelak. Damar Putra Parahyangan dan Galuh Putra Pasundan kedua orang adik lelaki yang bapak wariskan kepadaku. Almarhum bapak adalah seorang pendidik, yang sangat mencintai seni dan sastra. Apalagi seni dan kebudayaan Jawa Barat, itu kenapa aku dan kedua adikku mempunyai nama yang sedikit unik.

Pagi hari di kediamanku memang sedikit gaduh, setiap harinya banyak orang yang mengambil pesanan kue yang ibuku buat, untuk mereka jual lagi eceran di warung-warung, kantin, pasar bahkan mereka jajakan dari rumah ke rumah. Ini berlangsung hampir 3 tahun, semenjak bapak meninggal, ibu harus tetap bertahan dan bekerja keras membiayai kami ketiga anaknya. Kepergian bapak pun yang menahan keinginanku melanjutkan keperguruan tinggi, walaupun ibu menyanggupi akan membiayai kuliahku hingga selesai. Namun, aku lebih memilih untuk bekerja dan berjanji pada ibu jika kelak apabila tabunganku sudah cukup, aku akan melanjutkan pendidikanku. Sebagai kakak dari kedua orang adikku, aku punya tanggung jawab yang lebih kepada mereka, juga kepada ibu. Memberikan contoh teladan kepada kedua adikku adalah penting untukku membentuk kedua orang adikku menjadi pribadi yang tidak hanya bertopang dagu.

*****

Bus karyawan yang biasa menjemput kami, para buruh pabrik, datang lebih lama dari hari biasanya. Mungkin karena senin jalanan pagi hari mulai padat. Bus pun tiba di halteu tempat kami menunggu setelah hampir setengah jam berselang. Aku pun bergegas naik ke dalam bus dan mencari kursi kosong di sayap kiri. Mendekat ke arah jendela. Dan bus pun melesat ke pabrik tempat kami mengais rejeki.

Senin, seperti biasa selalu ada meeting divisi tempat aku bernaung. Sudah hampir enam bulan ini aku selalu dilibatkan langsung dalam tugas-tugas penting dalam divisiku. Kembali berada di kubikel ukuran 2×3, dimana hampir sebagian waktu hidupku setiap hari aku habiskan di tempat ini.

Dering telepon di pagi hari sudah memekakan telingaku. Padahal jam kerja belum di mulai. Cek email di setiap pagi adalah rutinitas yang harus aku dahului setiap harinya. Karena setiap pagi pula laporan yang harus dikerjakan aku dapatkan dari beberapa email yang masuk dari vendor maupun klient.

“10 message received”

Sepuluh pesan masuk sudah mejeng di kotak masuk email kantorku. Kubuka satu-satu email yang masuk, benar saja beberapa email yang masuk merupakan sumber data untuk laporan yang harus aku selesaikan sebelum meeting divisiku.

Ada satu email yang masuk dari pengirim yang tidak aku kenal. Hasan Yudha begitu nama yang terlihat dari tampilan muka email milikku. Segera kubuka email itu. Kubaca dengan cepat, sebelum meeting divisiku dimulai. Hanya sekilas aku membaca email dari pria yang kuanggap asing, karena aku sudah dipanggil dari arah ruang meeting. Bergegas aku menuju ruang meeting membawa beberapa business file yang terisi laporan-laporan mingguan yang akan di presentasikan saat meeting berlangsung.

*****

Meeting pun berakhir dengan menghasilkan beberapa point tambahan untuk divisiku. Tepatnya adalah beberapa kerjaan tambahan dalam divisiku, yang menurut atasanku adalah improvement. Apapun itu, aku yang hanya seorang administrasi akan banyak direpotkan dengan urusan laporan-laporan atas improvement yang diminta oleh atasanku.

Kembali ke meja kerjaku, membereskan file-file yang tercerai berai saat aku meninggalkan meja kerjaku sebelum meeting pagi tadi. Melihat kembali catatan-catatan pekerjaan yang tertunda dihari sebelumnya untuk aku kembali kerjakan di senin ini.

Teringat email yang sempat aku buka dan belum sempat aku baca dengan jelas.

From  : Hasan Yudha

To    : kelana_putri@yahoo.com

Sent  : Sunday, May 7, 2006 4:05 PM

Subj  : La..La..

 

Halo Lala..

Masih ingat puisi ini:

 

Ini Kami Tuan…

Tubuh kecil yang kelak

Dengan tangan ini

Dengan kaki ini

Berjalan tegap

Mengubah dunia

Dunia yang penuh sesak

Dunia yang kami tidak bisa bernafas

Menikmati buku-buku kami

Menikmati seragam kami

Menulis di buku kami

Mewarnai setiap gambar dengan warna pelangi

Membacakan keras teks pancasila

Tuan..

Teman-temanku ingin sekolah lagi..

 

Apakabar Lala Kelana,, sudah berlari sejauh apa kamu?

Masih ingat aku? Ya aku Hasan, teman kecil kamu dulu. Pasti kamu kaget kenapa aku bisa menulis email ini bukan?

Hari dimana aku membaca tulisanmu di salah satu surat kabar tentang Ayah, aku yakin itu adalah Kelana Putri yang aku kenal dimasa kecilku dulu. Hingga akhirnya dari surat kabar itu aku dapatkan email ini.

 

Larimu sepertinya sudah jauh sekali bukan?

Sampai aku kehilangan jejak kakimu selama ini. Susah payah aku kejar langkahmu Lala..

Hei gadis kecil berkepang kuda beri kabar kepada kami…

 

 

Hasan Yudha

 

 

Aku mengakhiri membaca email itu dengan berdecak haru. Ternyata pria yang tak kukenal itu adalah sahabat kecilku dimasa lalu, di masa aku mempunyai mimpi tak berbatas ruang dan waktu. Hasan Prayudha Angkasa, sahabat kecilku berbagi mimpi dan cerita. Bertukar pesan dalam puisi kecil layaknya anak-anak SD saat itu.

Serasa kembali ke masa lalu, sejenak aku terhanyut dalam lamunan masa kecilku, ketika disadarkan oleh salah seorang teman kerjaku.

“Lana, gue mau cerita nih lu lagi sibuk gak?”, suara berbisik menyadarkanku dari lamunan yang sejenak menggentayangiku.

“Hemmm, gak juga sih, mau cerita apa sih lu, perasaan tiap hari lu cerita melulu deh..”, sahutku dengan mengerutkan keningku, berpura-pura heran menanggapi keinginannya untuk bercerita.

Dara, dia adalah sahabatku selama aku bekerja di pabrik ini. Dara, dia lebih senior tiga bulan dari ku, dia lebih dulu masuk pabrik ini. Usia kami yang seumuran, hanya berselang 5 bulan saja. Aku dibulan Mei, sementara Dara di bulan Oktober. Menjadi faktor yang mendekatkan kami. Karena di divisiku, kami berdualah yang paling muda.

“Iya, gue ke tempat lu ya bentar doang kok.”, Dara menimpali ucapan yang keluar dari mulutku. Belum sempat aku mengiyakan Dara dengan cepat menyelinap masuk kubikel tempatku bekerja. “Geser dikit napa lan!”. Dara tiba-tiba memintaku bergeser dari kursi yang kududuki. Dengan spontan aku pun menggeser posisi dudukku.

“Mau cerita apa sih lu, heboh amat perasaan.”, aku yang meggerutu pelan sambil mencari posisi duduk yang enak, setelah berbagi kursi dengan Dara.

“Lan, gue mau minta maaf dulu nih sebelumnya, gue harap lu mau maafin gue ya!”, dengan nada memelas Dara membuka pembicaraan denganku. Aku yang sudah terbiasa dengan perilaku Dara yang terkadang aneh, tidak terlalu menghiraukan ucapannya.

“Maaf untuk apa? Udah kayak lebaran aja minta maaf-maaf segala.”

“Janji dulu lah Lan, lu gak akan marah sama gue.”, kembali Dara memelas padaku.

“Kapan gue pernah marah sama lu Dara, sekalipun enggak pernah deh. Padahal sering banget lu buat gue pusing.”, aku menimpali.

“Iya juga sih, hehehehe,,, syukur deh, jadi gini loh. Suatu hari, gue mau ngopy beberapa laporan dari komputer punya lu kan. Gak sengaja gue, buka folder punya lu yang judulnya “Aku Menulis”.”

“Iya, lalu?”, aku mengomentari pengakuan Dara siang itu.

“Lalu ya gue baca lah Lan, itu lu sendiri yang nulis Lan?”, Dara bertanya dengan nada yang penuh rasa penasaran.

“Lu ngapain buka-buka folder gue dan baca tulisan-tulisan gue coba? Iihhh apa sih lu, gue kan malu Dara”

“Iya maaf, maklum penasaran lah gue Lan.”

“Gak mungkin Dara, gak mau pokonya lu harus lupain semua yang lu baca dari folder gue itu”, dengan nada kesal aku berujar pada Dara.

“Bentar dulu Lana sayang, gue belum selesai masih ada lagi yang gue lakuin dari tulisan-tulisan lu itu”, Dara menimpali kekesalanku.

“Lu apain tulisan gue Dara?” dengan nada curiga aku bertanya pada Dara. Dara pun terkekeh mendengar pertanyaanku.

“Akhirnya gue ikut copy juga deh folder itu ke flashdisk punya gue. Gue baca lagi dirumah dan gue jatuh cinta sama tulisan lu yang tentang Ayah. Gue malah dibuat nangis bombay saat baca tulisan lu itu.”

“Hah? Apa-apaan lu mencuri diam-diam tulisan gue, untuk apa coba?”, memotong pembicaraan Dara.

“Sekali lagi nih Lan, gue minta maaf. Gue yang iseng akhirnya gue kirimin deh tulisan-tulisan lu yang tentang Ayah ke salah satu harian nasional. Dan lu liat nih!”, Dara menyodorkan harian nasional kepadaku. “Tulisan lu terbit di kolom puisi hari sabtu kemarin Kelana Putri Priangan.”

Dengan cepat aku meraih harian nasional yang dia sodorkan padaku. Begitu terperangahnya aku saat itu, kubaca tulisan-tulisan yang Dara tunjukan padaku. Lemas aku dibuatnya dengan kabar yang entah buruk atau baik pada saat bersaaman yang aku terima senin siang itu. Tulisanku, tulisan lama yang terpendam dalam folder lamaku sekarang terpampang di Harian nasional.

“Dara…”, aku dengan suara pelan. “Ini beneran tulisan gue kan?”

“Iyalah tulisan punya lu, tulisan lu yang gue curi? Itu beneran kan lu yan nulis?”, Dara terus mengoceh tanpa aku hiraukan. Aku yang masih belum percaya tulisanku terbit di harian nasional. Membacanya berulang kali, hingga tersadar oleh tepukan Dara yang mendarat tepat di pundakku.

“Hemm, beneran kan itu tulisan lu Lana?”

“Dara kok bisa sih? Gue gk tau harus bilang apa? Harus berterimakasih kayak gimana ke elu Dara, gue terharu….”, aku yang masih belum percaya.

“Ah, lu cengeng amat sih, itu baru tulisan pendek lu yang muncul. Belum seberapa Lana itu, gue masih mau liat nama lu mejeng di rak buku di semua toko buku di Indonesia, bahkan dunia kalo bisa.”, dengan kesungguhan Dara mengucap kalimat itu. Aku yang berkaca-kaca dengan spontan memeluk Dara erat.

Entah apa yang harus aku katakan pada Dara saat itu, kekesalan yang aku pendam berubah seketika menjadi haru. Hanya berakhir dengan pelukan erat yang aku daratkan pada tubuh mungilnya. Dia Dara, dengan segala optimistisnya akan diriku, sahabat yang selalu mengisi hari-hariku selama ini.

*****

Disela-sela kerjaku siang itu, aku selalu memandangi surat kabar yang Dara berikan padaku. Ingin segera pulang dan memperlihatkan kepada ibu dirumah. “Bapak, Lala berhasil mengukirkan sedikit namamu hari ini. Doakan aku dari tempatmu sekarang!”

Teringat email pagi tadi yang aku terima dari Hasan, kubuka dan kubaca kembali email yang dia kirim padaku. Mungkin surat kabar ini yang dimaksud oleh Hasan dalam emailnya itu. Dengan cekatan aku mengarahkan mouse komputerku ke menu balas.

*****

Jakarta, Mei 2006….

Jakarta siang itu, sangat tidak bersahabat sekali. Cuaca yang ekstrim membuat Jakarta menjadi hiruk dan pikuk. Tapi memang inilah Jakarta dengan segala ke segalaannya. Segala mahal, segala macet, segala debu, segala manusia ada di Jakarta. Ya dan Jakarta masih menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Mengejar waktu di Jakarta buat Hasan adalah hal yang biasa. Tepatnya kembali biasa. Masa lima tahun yang dia habiskan di Yogjakarta membuat dia lupa akan kekerasan kota yang membesarkan dia menjadi anak yang tangguh. Kembali mengais  rejekinya di Jakarta adalah pilihan terakhirnya, sambil menunggu kesempatan emas lain yang sedang dia kejar.

Kesarjanaan Teknik yang dia sandang dibelakang namanya, menjadikan Hasan seorang analis di perusahaan otomotif terkenal di Tanah Air. Disela pekerjaannya, Hasan menyempatkan membuka email, berharap ada balasan dari email yang dia kirim kepada Kelana beberapa hari yang lalu. Pesan masuk pun berdatangan saat dia login alamat emailnya. Gayung pun bersambut semburat nama yang dia harapkan membalas emailnya.

 

From  : Kelana Putri

To    : Hasan Yudha Angkasa

Sent  : Monday, May 8, 2006 3:45 PM

Subj  : Re: La..La..

 

Dear Abang,

Lariku tak kunjung sampai Abang. Mungkin kalau aku tidak ditemani oleh sahabatku Dara, aku sudah pingsan di pinggiran jalan. Dan Abang tak akan pernah bisa menyapaku.

Bapak sudah almarhum sekarang Abang, itu kenapa aku menulis tentang beliau.

Aku di Bandung sekarang, ibu sehat hanya beranjak tua sekarang tapi tetap cantik seperti dulu.

Abang Sehat?

Sudah berapa kilometer Abang berlari?

Aku rindu ujaranmu “Berlari Kelana” secepat yang kau bisa…

Senang Abang kembali. Ceritaku menjamur menunggu untuk Abang dengar.

 

-Kelana Putri-

*****

 

(bersambung…)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s