Shock Culture…. “Aku Indonesia Banget atau Indonesia Aja”

 

“sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..(Caping 4, h. 80)” ― Goenawan Mohamad

Ini tentang orang orang yang pernah melakukan perjalanan jauh ke negeri tetangga. Saya sendiri belum pernah keluar dari Indonesia, hanya saja saya cukup dibuat heran dengan mereka yang baru sehari dua hari, seminggu dua minggu atau setahun dua tahun tinggal di negeri orang tapi sudah terlalu banyak tingkah dengan membanding-bandingkan budaya Indonesia dengan budaya luar.

Pagi ini, secara tidak sengaja saya melihat status salah seorang teman di media sosial yang kebetulan dia baru kembali dari perantauannya ke negara  Jepang. Agak terkejut ketika membaca apa yang dia tulis, sontak membuat mengerutkan dahi.
Blunder

“Janjian sama perempuan di indonesia sangat berbeda dgn Japan. Seminggu sebelum dah janjian dan buat memo dengan pertimbangan matang. Tgl dan jam pergi tepat waktu. Disini, ada perempuan ngajak janji ke ondangan seminggu sebelum pas hari H. Tanpa kabar tiba2. Maaf gak jadi. Blm bisa cocok dengan perempuan Indonesia. Kangen Japan”

Kita sebut saja teman saya itu Terong,  mungkin maksut hati  membuat status seperti itu agar semua penghuni media sosial dimana dia berada bisa respek, bisa kasih simpati dan membenarkan pernyataannya. Atau bisa jadi sekedar eksistensi di dunia maya kalau dia sudah pernah tinggal di jepang dan tahu sekali budaya di sana seperti apa. Sayang sekali bukannya mengundang simpati, akhirnya malah menjadi bumerang atas pernyataan yang dia lontarkan. Bahkan si Terong ini pun lupa dia menulis dalam bahasa Indonesia. Dia menyebut disana perempuan Indonesia, dia pun lupa kalau dia dilahirkan dari rahim seorang perempuan Indonesia. Ironis…

Orang orang seperti ini sebenarnya yang sering membuat saya heran. Mempelajari kebudayaan negara lain, tapi tidak mempelajari kebudayaan bangsa sendiri. Jauh-jauh menuntut ilmu ke negara lain, tapi ilmu yang di dapat tidak diaplikasikan setelah kembali ke negara sendiri. Kembali ke Indonesia hanya untuk menjadi penggerutu, untuk mengumpat dan membandingkan negara sendiri dengan negara lain yang jauh lebih maju… hmmm mungkin budaya luar sudah mengajarkan mereka (saya meyakini hanya segelintir orang, tidak semua) untuk tidak punya tata krama dalam bertutur kata.  Mungkin Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara negara maju semisal Jepang. Tapi untuk mereka mereka yang sudah pernah singgah kesana, pernah menetap disana bukan lantas bisa dengan mudahnya membanding-bandingkan Indonesia dengan negara maju. Kalau semua orang Indonesia yang baru pulang dari luar negeri menjadi seperti ini, ya akhirnya Indonesia pun akan menjadi negara tanpa Identitas. Jika Indonesia dirasa tidak cukup baik untukmu, buatlah menjadi baik bukan lantas mengeluh dengan segala ketidak nyamanan yang dirasa terhadap Indonesia.

Saya pernah membaca novel Pulang, di tulis oleh Leila S Chudori. Novel yang bercerita tentang eksil politik yang mencari suaka di luar negeri. Dimas Suryo, yang akhirnya harus dengan terpaksa menjadi eksil politik selama pemertintahan Orde baru, Mencari suaka politik di negara Perancis, pada akhirnya mimpi terakhirnya hanya ingin kembali ke tanah merah Indonesia. Tanah yang sudah menjadikannya orang yang terbuang, yang pernah tidak menerimanya, yang bahkan tidak pernah memberikannya izin untuk kembali selama 32 tahun. Bahkan Lintang Utara Suryo, anak dari pernikahan Dimas dan Vivienne Deveraux -seorang wanita berkebangsaan perancis-, harus masuk ke Indonesia sebagai anak eksil politik hanya untuk tahu bagaimana caranya memetik Indonesia dari kata I.N.D.O.N.E.S.I.A.
Novel "Pulang"

Saya selalu ingat dengan kisah teman saya yang tinggal di negeri kangguru, -Hobart, Tasmania Australia. betapa dia sangat merindukan Indonesia di setiap bulan Ramadhan. Adzan yang berkumandang, murotal yang selalu terdengar dari pengeras suara mesjid, anak yang bermain sambil berteriak tertawa lantang menunggu waktu bebuka puasa. Bahkan satu hal yang paling dia rindukan adalah suara teriakan penjual barang-barang rumah tangga, dan suara pukulan kayu penjual bakso keliling. Indonesia dengan segala “kekurangan”nya, ketidak teraturannya masih begitu di rindukan. Lantas, siapa saya atau kalian yang jelas lahir, besar, menuntut ilmu di Indonesia bahkan mencari uang di Indonesia, dengan lantang menggerutu di media sosial mengeluhkan tentang Indonesia yang tanpa disadari sudah memberikan banyak kehidupan untuk saya, kalian dan yang lainnya.

Mengutip tulisan Pidi Baiq, “Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis,jauh lebih dari itu melibatkan perasaan”. Buat saya pribadi, sebagai orang yang belum pernah keluar negeri, Indonesia pun bukan hanya masalah geografis jauh dari itu INDONESIA melibatkan perasaan. Ya Indonesia dengan segala yang ada didalamnya, baik atau buruk ya Indonesiaaaaa….

 

Hanya untuk dibaca, tidak usah  dimasukkan kedalam hati… ^__^

Iklan

2 thoughts on “Shock Culture…. “Aku Indonesia Banget atau Indonesia Aja”

  1. Nah, dirimu sebenarnya udah ngerti mbak klo orang Indonesia itu punya sifat terlalu mengedepankan “perasaan”, seperti yang si Terong, mbak, dan saya lakukan. Yang si Terong lakukan adalah “perasaan di Jepang lebih baik dari Indonesia”. Karena memang yang condong hanya perasaan, imbasnya yang tercuat dalam bentuk fisik ya hanya keluhan.

  2. IMHO Ada benernya jg sih menurutku status temennya itu, orang indonesia, termasuk saya jg emg sebagian msh banyak yg kurang dlm masalah kedisiplinan. Jadi mungkin, tujuannya bikin status itu untuk menyadarkan kita “ayo dong tiru kedisplinan di negara lain”
    Mungkin yaaaa, emang statusnya ambigu banget 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s