Pintu Dan Jendela

#Day 22

Saya suka berceloteh, entah apa yang membuat saya suka meracau. Hingga saya merecovery tampilan blog saya ini.

Saya yang hanya pencuri kata, menangis lewat tulisan, marah lewat tulisan, tersenyum dan tertawa lewat tulisan. Entah hanya itu saya mampu menjadi siapa saya dalam dua dimensi mimpi dan realita.

Ini adalah blog saya yang kesekian, setelah bekali-kali memiliki blog yang alakadarnya dan akhirnya tidak berbekas sama sekali karena kemalasan saya mengupdate isinya. Blog inilah mewakili sebagian hidup saya. Bukan untuk dikenang dan diketahui banyak orang, hanya sekedar ekspresi dari rasa yang memang harus diekspresikan. Setiap orang beda-beda mengekspresikan rasa dalam seni, saya dan beberapa orang mungkin lebih memilih tulisan untuk bisa ekspresif, sebagian orang memilih fotografi, sebagian lagi memilih tattoo, design, lukisan, sektsa, dan masih banyak lagi.

Semalam saya meracau di media social Twitter tentang blog saya dengan tampilan yang baru ini.

Blog Tittle saya sebelumnya adalah Ruang Celoteh Pecinta Jendela, akhirnya dengan banyak alasan yang mendorong yang datang bertubi-tubi, saya merubah semuanya menjadi yang sekarang ini dengan konsep yang tidak jauh beda dengan yang lama yaitu media berekspresi dari rasa yang ada. Bedanya hanya nama dan tidak ada lagi jendela disana.

    “Jendela itu tidak cukup bagus untuk orang macam saya, jendela cuma punya mimpi… Dan saya bosan menjadi pemimpi.”

Itu adalah racauan saya tentang jendela yang saya punya dalam blog saya sebelum berganti nama, tulisan-tulisan saya sebelumnya penuh dengan mimpi masa lalu. Mimpi yang bahkan sampai detik saya menulis ini pun belum saya realisasikan sedikitpun. Saya hanya bisa mengintip terus menerus dibalik jendela, tanpa pernah tahu apa yang saya lihat, merasakan sendiri apa yang saya lihat. Saya hanya bisa menghakimi, mengumpat, memberi argument tentang apa yang saya lihat, bukan tentang apa yang saya rasakan apa yang mereka rasakan. Dan saya tidak mau seperti itu. Maka kuhancurkan jendela yang saya punya, agar saya tidak terbuai dengan apa yang saya lihat dari tempat saya berada, dari tempat kaki saya berpijak. Jendela yang kemarin tidak memberikan banyak kepada saya. Seorang teman baik mengomentari racauan saya semalam.

    Bwt gue jendela itu tempat melihat dunia.. tanpanya dunia akan sepi..” @indrewbapaw

    “Jendela bisa kita lihat tapi tidak bisa kita masuki, saya pilih pintu biar bisa melihat dan dimasuki secara bersamaan, kalau cuma sekedar lihat dunia bisa lewat google.. :p” @neeyaisme(itu saya)

    “Jendela memang untuk melihat karena terkadang banyak hal yang perlu dilihat tanpa perlu dimasuki… Hal buruk perlu kita lihat tanpa perlu kita masuki.” @indrewbapaw

    “Maka kalau begitu adanya, gue cukup berdiri didepan pintu, biar bisa lebih tahu rasanya nyata ada di ‘keburukan’ itu.. :p” @neeyaisme

    “Jadi gak ada beda donk dengan jendela kalau hanya didepan saja… jendela terbuka tanpa ragu bisa melihat… pintu harus mengetuk dan permisi ya..” @indrewbapaw

    “Dengan mengetuk dan permisi kita berinteraksi dengan dunia. Kadang kita Cuma bisa melihat dari luar tanpa tahu didalamnya. Itu yang diberikan jendela.” @neeyaisme

    “Beda Point of View,, saya melihat dunia dari dalam dunia saya menuju dunia luar,, bukan membuka pintu dan masuk tetapi keluar…” @indrewbapaw

    “Hmm apa lebih baik masuk, merasakan, menikmati dari dalam, daripada cuma sekedar jadi penonton?” @neeyaisme

    “Ada hal yang harus dimasuki dan ada hal yang cukup untuk kita lihat.. kalau menurut gue seperti itu.. makanya home without window is not complete” @indrewbapaw

Percakapan pun berhenti sampai disitu, karena saya melanjutkannya disini.. diblog ini.

Memang benar apa yang teman saya bilang, jendela adalah penting untuk kita meraba naluri kita dengan indera penglihat tentang apa yang ada didunia luar. Dunia yang kita lihat dari dalam atau sebaliknya. Jendela menjadi informasi pilihan buat kita tentang dunia apa yang nantinya akan kita masuki, yang baik atau yang buruk. Jendela lah yang akan menuntun kita menuju keduanya.

Lalu, baik buat siapa? Baik menurut siapa? Atau buruk buat siapa? Buruk menurut siapa?

Siapa yang paling bisa menghakimi keduanya, ya kita.. kita yang melihat dibalik jendela. Buat mereka yang ada di luar jedela yang kita lihat, apakah iya mereka punya pikiran yang sama dengan apa yang hanya kita lihat tanpa kita merasakan, mencoba berada di kehidupan yang sama dengan mereka.

Yang ada diluar sana sama semua, kebaikan dan keburukan bercampur menjadi satu hingga tak kasat mata. Kebaikan tersembunyi didalam keburukan, dan keburukan tersembunyi didalam kebaikan. Siapa yang bisa menduga keduanya bersahabat baik. Jendela terlalu besar, terlalu jelas memberikan penglihatan kepada kita tentang apa yang menjadi ketakutan kita di dunia sana, dan sebaliknya memberikan kita harapan baru tentang apa yang menjadi mimpi kita, padahal siapa yang tahu kalau kita belum masuk kedalamnya.

Toh biar bagaimanapun saya pribadi tetap harus keluar, bukan hanya bisa mengintip dibalik jendela. Sudah terlalu lama saya mengintip, melihat dari balik kusen usang, tanpa pernah membuka benda besar yang kokoh tegak berdiri disampingnya “PINTU”. Sekarang waktunya saya membuka pintu itu, apapun dan bagaimanapun yang akan saya hadapi di luar sana, itu semua adalah hidup. Dengan menghadapi keburukan, kesedihan, luka itu menguatkan kita atau sebaliknya menghancurkan kita. Dengan menghadapi kebaikan, kebahagiaan, kesukesan itu akan mengangkuhkan kita menjadikan kita takabur atau sebaliknya mendamaikan kita.

Itu kenapa Pintu dan Jendela selalu bersebelahan, supaya setelah kita mengintip melihat ke luar, kita bisa segera membuka pintunya. Jangan terlalu lama berada dibalik jendela, nanti “busuk” seperti saya.

*****

Aku adalah Jendela
Aku adalah Pintu
Itu kenapa aku akan menjadi doa untukmu melihat dan melangkah
Menuju apa yang ingin kamu tuju
Aku hanya bisa memberi kalian contekan
Selanjutnya kakimulah yang akan menuntun arahmu,,
Nikmati aku dalam Kami Pintu Jendela bersamaan
🙂


#picture : door_window by waleed DP on DeviantArt

Iklan

Merah Putih

#Day17

Marhaban Ya Ramadhan…

Dirgahayu Indonesia Raya tanah Tumpah Darahku yang ke 66…

Subhanallah.. Sudah selama itu Indonesia memerdekan dirinya dari bentuk penjajahan dari bangsa asing. Soekarno dan Hatta lah sang proklamator yang mengatasnamakan Bangsa Indonesia di teks Proklamasi. Tepat di tahun 2011, seperti 66 tahun yang lalu tanggal 17 Agustus Masehi tepat jatuh 17 Ramadhan Hijriah.

17 Agustus, teringat tahun-tahun dimana saya masih “rajin” mengikuti upacara pengibaran bendera Merah putih di sekolah saya. Ya itu adalah 10 tahun yang lalu…(Ok..ok saya sudah tidak muda lagi sekarang). Kebiasaan yang saya lakukan setiap satu tahun sekali itu sudah sangat lama tidak pernah saya ikuti lagi. baru kemarin lah, kantor tempat saya bekerja sekarang mengadakan upacara menyambut hari Kemerdekaan dengan melakukan pengibaran Bendera Merah Putih. Serasa kembali ke masa-masa dimana saya dulu menjadi bagian dari Tim Pengibar Bendera saat masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama.

PASKIBRA…

Saya pernah menjadi anggota Paskibra saat SMP dulu. Dari semua eskul yang ada di sekolah saya saat itu, mungkin Paskibra lah yang terlihat “keren”. Ini mungkin sebuah aksi balas dendam saya ketika sekolah dasar dulu. Di SD tempat saya sekolah dulu, diadakan lomba (saya lupa namanya) Upacara bendera. Nah, ada rasa iri saya terhadap teman-teman saya yang menjadi anggota paskibra saat SD. Berakhir positif Alhamdulillah, saya dengan semangat bergabung dengan tim Paskibra di SMP. Tiga tahun yang penuh pengalaman luar biasa. Walaupun saya tidak melanjutkan ke”paskibra”an saya di sekolah menengah, tidak lain tidak bukan karena tinggi badan saya yang tidaklah tinggi. ☺

Alhamdulillah, setelah 10 tahun ini.. Saya masih diberi kesempatan untuk kembali berdiri melihat saat bendera Merah Putih dibentangkan, dikerek ke atas tiang, berkibar gagah di langit biru luas. Dihormat oleh seluruh peserta Upacara, sambil diiringi oleh masterpiece WR Supratman “Indonesia Raya.

Semoga Semangat Merah Putih, tidak hanya bergelora setiap bulan Agustus. Tapi tetap menyala abadi di setiap jiwa rakyat dan bangsa Indonesia (apapun dan bagaimanapun Indonesia dulu, sekarang dan nanti)

MERDEKAAAAA……..

#picture 1 by: sepatu_paskibra_by_yeahdimas on DeviantArt
#picture 2 by: bendera_by_privasick on DeviantArt

Hujan 2 Versi

Malam yang sepi, lalu aku dikejutkan oleh bunyi nada dari telepon selularku. Seorang yang tak asing menyapaku dalam susunan kata yang rupawan. Aku suka cara dia bertutur, merangkai kata dalam balutan makna. Seperti saat aku dengannya bermain kata “Hujan”

Ini versinya….

Biru memang indah
Namun kelabu penuh makna
Ya dan aku pecinta hujan
Seperti aku mencintai cita, semangat dan harapan
Indahnya pelangi hadir bersama langit yang menangis
Seperti kemenangan yang muncul setelah lara perjuangan.
(Andryansyah Ahdaka)

Kemudian dia meminta giliranku, kuberikan versiku…

Aku mencinta hujan karena dia membawa rindu
Aku membenci hujan karena dia merusak alas kakiku
Kubiarkan saja hujan menari sendiri
Hingga pelangi memarahinya
Dan hujan pun berhenti
Meminta maaf padaku karena sibuk menari
Hingga titip rinduku tak sampai padamu.
(Niya Jothi)

Senang ketika bertemu dengan seorang teman lama yang suka mencuri kata diam-diam seperti aku. Tidak akan pernah segan aku meneriakan semua kata yang kucuri dan kuambil dalam nalar imajiku. Semoga tidak ada lagi yang terganggu dengan apa yang ku tulis,,

So Enjoy my new blog…

Rp. 2.500,-

#Day8

Marhaban Ya Ramadhan..

Alhamdulillah sudah melewati hari ke-8 yang merupakan hari ke-2 buat saya menjalankan ibadah shaum Ramadhan. Tepat jatuh dihari Senin. Cerita yang luar biasa banyak saya alami hari ini.

Terbangun saur jam setengah 3 dini hari, dan sayA masih berada di “Negeri Peri Angin”, waaaahhhh saya harusa bergegas saur dan berkemas untuk kembali ke Bandung. Ya keran saya harus bekerja tepat di hari senin pagi. Ini adalah kali pertama saya pergi ke kantor jam 4 pagi, dan menempuh perjalanan hampir 2,5 jam lamanya.

Menaiki moda terpagi yang membawa saya kembali ke Bandung, moda yang saya naiki pun seperti memakai “sayap” di kanan dan kiri bodynya. #bismillah saya hanyA percayA pada supir moda yang saya naiki. Memejamkan mata dan #cring 1,5 jam kemudian saya sudah sampai di pintu masuk kota Bandung. “Tol Cileunyi”… Wouw perjalanan macam apa fikirku, hanyA dalam waktu 1,5 jam saya sudah ada di Bandung. Waktu yang normal pun biasanya adalah 3 jam, hari ini saya hanya membutuhkan wAktu 1,5 jam… #Alhamdulillah selamat sampai kantor.

*****

Hari ini pun bertepatan dengan acara Buka Bersama di kantor. Acara tahunan yang biasa diselenggarakan setiap bulan Ramadhan di tempat saya bekerja. Luar biasa berkah yang melimpah di senin kali ini.

Siraman rohani dari Ust. Tengku Maulana, seorang ustad aceh berlogat sunda. Tausiyah yang mengingatkan kami semua tentang kematian. Tentang dunia abadi kelak yang akan kita tempati. Tentang “hisab” amal perbuatan kita selama di dunia ini. Dengan tidak menggurui ustad pun mengingatkan kami semua. #insyaallah kami dapat mengambil pesan dan intisari dari tausiyah sore ini. Mengamalkan dalam sisa hidup kami. #amin

*****

Dalam perjalanan pulang ke “Kotak dilantai 2”, saya harus menempuh beberapa saja waktu yang saya miliki.

Satu lagi berkah Ramadhan untukku di hari yang sama. Bertemu dengan seorang bapak yang baik hati didalam angkot yang saya naiki. Dalam perjalanan pulang, ketika didalam angkot hanya tersisa saya dan bapak itu, seketika bapak baik hati itu menanyakan tarif angkot kepada saya, “Punten neng, pami ongkos ti ciroyom ka bumi asri sabarah?” (Maaf neng, kalau ongkos dari ciroyom ke bumi asri berapa?). Sontak saya menjawab “2500 pak..”. Si bapak berujar, “Oooh, hatur nuhun” (ooh, terimakasi). Dan saya hanya tersenyum sambil mengangguk. Rupa dari bapak itu pun tidak begitu jelas dalam penglihatan saya. Karena kebetulan pencahayaan didalam angkot yang saya naiki gelap.

Akhirnya sampailah angkot yang saya naiki berhenti di “pull”nya. Saaya dan bapak itu pun turun, sambil turun bapak itu berkata kepadA saya seraya memberikan ongkos kepada supir, “Tos neng, sakantenan ieu..” (Udah neng, sekalian ini..). SayA terkaget dan bilang, “Pak gak usah pak..”
Si bapak itu malah berlari meninggalkan saya. Saya pun kembali berteriak, “Terimakasih Pak”….

Subnahallah, 2500 memang, tidak besar, tapi siapa saya sampai si bapak itu mengongkosi saya. Kenal pun tidak. Tapi ketulusan bapak tadi sungguh membuat saya berdecak heran sekaligus kagum.

Sekali lagi, berkah Ramadhan saya rasakan di hari ini. Alhamdulillah YA Rabb. Semoga Alloh pun mengganti 2500 yang bapak tadi beri untuk saya dengan yang lebih besar, melipatgandakannya di dunia dan di akhirat. Amin.

🙂

Hari Pertama bersama Perempuan Pembawa Berkah

#Day7

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah.. Sudah hari ke-7 Ramadhan, akhirnya saya pun diberi kesempatan oleh Alloh bergabung menjalankan ibadah shaum Ramadhan hari ke-1 saya setelah seminggu berselang Ramadhan datang.

Saur pertama dan buka pertama bersama keluarga tersayang (ibu dan bapak) di “Negeri Peri Angin”,, nikmat yang luar biasa, masih diberi sehat buat bisa menjalankan ibadah bersama. Walau dengan segala keprihatinan.. 🙂 #Alhamdulillah

*****

Selama di Negeri peri angin ini, saya baru menyadari beberapa hal mengenai negeri ini. Hemmm, ternyata negeri ini agak ketinggalan siaran televisi, untuk dapat semua saluran tivi nasional kita harus pasang parabola atau antena digital.. Nah karena kebetulan keluarga saya penduduk baru, belum begitu paham soal “antena digital” yang tetangga pasang.. Akhirnya dirumah saya hanya ketangkep 2 TV nasional doank.. Si Surya dan Si Ikan terbang 🙂

Ada satu sinetron yang saya tonton nih beberapa hari saya di Negeri Peri ini.. Di saluran tivinya si Surya.. Judulnya Perempuan Pembawa Berkah.. #terpaksa karena tidak ada pilihan lagi. Tema dalam sinteron ini agak sedikit membuat rasa penasaran saya. Tokoh wanita utama disana berstatus sebagai Sayyidah Adat..

Sayyidah adat, di sinetron itu digambarkan bahwa wanita yang sudah bersumpah menjadi sayyidah adat tidak boleh memiliki perasaan cinta kepada lawan jenis… Hemmm semakin lah rasa penasaran saya memuncak.. Apa sebenarnya Sayyidah Adat itu? Karena jujur saya baru mendengarnya dari sinetron tsb.

*****

browsing lah saya…

Tidak banyak yang saya dapat mengenai penjelasan tentang Sayyidah Adat.. Hanya cuplikan dari sinetron yang menganggkat cerita itu. Sayyidah Adat adalah perempuan yang berjuang untuk adat yang dianut disuatu daerah tempat mereka bermukim. Sebagai Sayyidah Adat memang dilarang untuk menikah, mereka disumpah hidup hanya untuk mengurus keluarga dan mengurus harta keluarga.

Jika, memang benar adat seperti ini masih ada. Sungguh tragis sekali wanita yang terpilih menjadi Sayyidah Adat. Pilihan hidup yang berat mungkin yang harus di jalani. Karena tanggung jawabnya yang sangat besar terhadap keluarga. Dengan ikhlas, ridho untuk menetapkan hati melepaskan hasratnya mencintai. 😦

Masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sayyidah Adat ini.. Boleh share! Atau mungkin berbagi sumber dan link!!

Terimakasih 🙂

Tidak Ada Cerita.. :)

#Day4 #Day5 #Day6

Marhaban Ya Ramadhan..

#Day4 dan #Day5

Saya masih belum bisa bergabung dengan yang lain menjalankan ibadah shaum..
Tidak ada cerita seru di 2 hari ini… 🙂

#Day6

Kembali saya mengunjungi “Negeri Peri Angin”, berlari mengejar laju moda yang membawa saya menuju tempat itu. Perjalanan yang saya tempuh 3 jam menuju negeri itu. Akhirnya sampai tepat matahari tenggelam…

gambar alakadarnya

Senja, yang menutup akhir dari realita pagi. Bersiap menulis mimpi baru untuk esoknya. Terimakasih Alloh, masih diberi waktu, masih diberi kesempatan untuk terus menulis harapan…

*****

Saya baru merasakan artinya berkumpul bersama keluarga, setelah kepindahan ini. “Kotak di Lantai 2” pun memberi saya banyak kebiasaan baru yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Dua orang bocah yang memberi warna baru dalam siang dan malam saya.

Keluarga dengan segala warna dan warninya. Kapanpun dan dimanapun tetap selalu dirindukan.. 🙂

Jembatan Pagi

#Day3

Marhaban Ya Ramadhan

Semenjak kepidahan saya ke “Kotak di Lantai 2”, saya punya jarak tempuh yang jauh lebih panjang dari biasanya. Lumayan kalau di fikir-fikir jalan kaki karena tidak dilalui kendaraan umum, kecuali ojek. Hitung-hitung olahraga, memperkuat kaki dan memperbesar betis (tidaaaaaakkkk mungkin terjadi).

Di pagi tadi saya sempat mengabadikan track perjalanan saya, yang harus saya lalui stiap harinya.

Saya menamainya.. Jembatan Pagi, kenapa harus pagi? Pagi itu harapan, pagi itu doa, pagi itu cita-cita…. pagi itu nyawa dan pagi itu semangat. Jembatan itu adalah rintangan saya, yang harus saya lalui setiap harinya. Datang dan pergi kemanapun kaki saya beranjak dari “Kotak di Lantai 2”, jembatan inilah yang akan membuat saya ragu beranjak. Tapi saya punya pagi, punya nyawa dan semangat. Di ujung tangga naik dan turun jembatan pagi ini merupakan harapan saya akan masa depan saya 🙂

*****

Bicara soal jembatan,,, kelak di akhirat pun kita akan bertemu dengan jembatan bukan?

Jembatan Ash-Shirothol Mustaqim

Jembatan Shirothol Mustaqim adalah titian yang akan dilewati semua umat untuk bisa menyeberang ke Surga. Dan apabila gagal menyeberanginya maka ia akan jatuh ke lembah api neraka (Na’udzubillahi min dzalik).

Dari cerita yang pernah kita dengar juga dikatakan bahwa jembatan itu bukan seperti jembatan yang kokoh seperti jembatan alam dunia yang pernah kita lewati sekarang ini, melainkan sangat rapuh dan sangat kecil tetapi sangat panjang dan sangat tajam. Laksana rambut yang dibelah tujuh dan tajamnya melebihi pedang. Dan hanya orang yang beriman lah yang bisa menyeberangi sampai ke Surga. Yang tidak beriman akan jatuh ke lembah api neraka (Na’udzubillahi min dzalik).

Datang penamaan dengan Ash-Shirath dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Maka dibuatlah Ash-Shirath di atas jahannam….” (HR.Al-Bukhary dan Muslim)

Dan dalam hadist yang lain:

“Dan diutus amanah dan kekerabatan, maka keduanya berdiri di kedua tepi Ash-Shirath….” (HR. Muslim)


Diriwayatkan bahwa Ash-Shirath ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sebagaimana ucapan Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu:

“Sampai kepadaku bahwa jembatan ini (ash-shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim 1/167). 

Jembatan Shirothol mustaqim memiliki makna yang intinya tentang keikhlasan setiap hamba Allah. Keikhlasan secara menyeluruh. Baik dalam ibadah dan termasuk tindak tanduk sehari-hari selama 24 jam sehari. Ikhlas dalam beribadah, beramal dan berbuat apa saja semata-mata karena Allah, tidak mengharapkan pahala atau takut dosa, tidak mengharap pujian atau takut celaan, tidak mengharapkan surga atau karena takut siksa neraka. Melainkan. semata-mata karena Allah S.W.T. (baca lengkap disini) 

*****

Ya begitulah hidup… berjalanlah seolah kita diatas jembatan yang dibawahnya adalah jurang dengan banyak  binatang buas atau jurang yang dalam yang akan membuat kita kembali. Berpeganglah pada penyangga jembatan agar kita tidak terjatuh nantinya. Sesekali lihatlah dalamnya jurang itu dari atas jmbatan, tanpa perlu terjun ke dalamnya. Ikhlaskan langkahmu hanya karena Alloh semata, maka akan sampai kita pada ujung akhir dari jembatan yang kita lalui… #inshaalloh

😉