Dunia Kecil Kelana

[1]

BERLARI KELANA!

 

Bandung, Mei 2006…

Langit pekat perlahan berubah menjadi lembayung di ufuk timur. Udara pagi mulai menggantikan udara malam yang dingin dan pekat. Embun-embun membasahi dedaunan, kicauan burung mulai terdengar saling bersahutan di ranting pohon. Pagi yang selalu penuh harap semesta. Kembali di hari senin pagi, hari yang sangat di benci oleh semua kalangan pekerja di belahan dunia manapun. Senin yang sibuk, pekerjaan yang menumpuk, sindrom sehabis akhir pekan yang masih menggelayuti yang membuat senin sangat dihindari oleh manusia-manusia pemburu harta karun. Termasuk aku didalamnya.

Jam menunjukkan pukul 05:00 WIB, ini adalah waktu bangun pagiku setiap hari. Cukuplah nyawaku mulai berkumpul di jam itu. Menunaikan kewajibanku sebagai makhluk Tuhan, bergegas walaupun sudah terang diluar sana. Bersiap-siap untuk menghabiskan delapan jamku di tempat yang memberiku pundi-pundi emas sebagai seorang ‘buruh’ di salah satu pabrik yang katanya berskala nasional.

Aku tidak terlalu peduli dengan skala nasional atau pun internasional sekalipun yang disandang oleh pabrik tempatku bekerja sekarang. Aku yang semula hanya sebagai buruh layaknya seorang lulusan Sekolah Menengah lainnya., hingga akhirnya satu setengah tahun yang lalu aku diajukan menjadi seorang administrasi di salah satu divisi yang sekarang menaungiku. Atasanku mengajukan aku yang saat itu dianggap lebih mahir menggunakan komputer di antara teman-temanku yang lain. Sekarang aku menjadi administrasi follow up di perusahaan yang bergerak di bidang pakaian jadi.

Kelana Putri Priangan orang tuaku menamaiku, terlahir menjadi anak pertama di dalam keluarga, memiliki dua adik lelaki yang masih bersekolah. Dan saya berjanji pada ibu sepeninggal bapak, akan membuat kedua orang adikku menjadi orang yang berhasil kelak. Damar Putra Parahyangan dan Galuh Putra Pasundan kedua orang adik lelaki yang bapak wariskan kepadaku. Almarhum bapak adalah seorang pendidik, yang sangat mencintai seni dan sastra. Apalagi seni dan kebudayaan Jawa Barat, itu kenapa aku dan kedua adikku mempunyai nama yang sedikit unik.

Pagi hari di kediamanku memang sedikit gaduh, setiap harinya banyak orang yang mengambil pesanan kue yang ibuku buat, untuk mereka jual lagi eceran di warung-warung, kantin, pasar bahkan mereka jajakan dari rumah ke rumah. Ini berlangsung hampir 3 tahun, semenjak bapak meninggal, ibu harus tetap bertahan dan bekerja keras membiayai kami ketiga anaknya. Kepergian bapak pun yang menahan keinginanku melanjutkan keperguruan tinggi, walaupun ibu menyanggupi akan membiayai kuliahku hingga selesai. Namun, aku lebih memilih untuk bekerja dan berjanji pada ibu jika kelak apabila tabunganku sudah cukup, aku akan melanjutkan pendidikanku. Sebagai kakak dari kedua orang adikku, aku punya tanggung jawab yang lebih kepada mereka, juga kepada ibu. Memberikan contoh teladan kepada kedua adikku adalah penting untukku membentuk kedua orang adikku menjadi pribadi yang tidak hanya bertopang dagu.

*****

Bus karyawan yang biasa menjemput kami, para buruh pabrik, datang lebih lama dari hari biasanya. Mungkin karena senin jalanan pagi hari mulai padat. Bus pun tiba di halteu tempat kami menunggu setelah hampir setengah jam berselang. Aku pun bergegas naik ke dalam bus dan mencari kursi kosong di sayap kiri. Mendekat ke arah jendela. Dan bus pun melesat ke pabrik tempat kami mengais rejeki.

Senin, seperti biasa selalu ada meeting divisi tempat aku bernaung. Sudah hampir enam bulan ini aku selalu dilibatkan langsung dalam tugas-tugas penting dalam divisiku. Kembali berada di kubikel ukuran 2×3, dimana hampir sebagian waktu hidupku setiap hari aku habiskan di tempat ini.

Dering telepon di pagi hari sudah memekakan telingaku. Padahal jam kerja belum di mulai. Cek email di setiap pagi adalah rutinitas yang harus aku dahului setiap harinya. Karena setiap pagi pula laporan yang harus dikerjakan aku dapatkan dari beberapa email yang masuk dari vendor maupun klient.

“10 message received”

Sepuluh pesan masuk sudah mejeng di kotak masuk email kantorku. Kubuka satu-satu email yang masuk, benar saja beberapa email yang masuk merupakan sumber data untuk laporan yang harus aku selesaikan sebelum meeting divisiku.

Ada satu email yang masuk dari pengirim yang tidak aku kenal. Hasan Yudha begitu nama yang terlihat dari tampilan muka email milikku. Segera kubuka email itu. Kubaca dengan cepat, sebelum meeting divisiku dimulai. Hanya sekilas aku membaca email dari pria yang kuanggap asing, karena aku sudah dipanggil dari arah ruang meeting. Bergegas aku menuju ruang meeting membawa beberapa business file yang terisi laporan-laporan mingguan yang akan di presentasikan saat meeting berlangsung.

*****

Meeting pun berakhir dengan menghasilkan beberapa point tambahan untuk divisiku. Tepatnya adalah beberapa kerjaan tambahan dalam divisiku, yang menurut atasanku adalah improvement. Apapun itu, aku yang hanya seorang administrasi akan banyak direpotkan dengan urusan laporan-laporan atas improvement yang diminta oleh atasanku.

Kembali ke meja kerjaku, membereskan file-file yang tercerai berai saat aku meninggalkan meja kerjaku sebelum meeting pagi tadi. Melihat kembali catatan-catatan pekerjaan yang tertunda dihari sebelumnya untuk aku kembali kerjakan di senin ini.

Teringat email yang sempat aku buka dan belum sempat aku baca dengan jelas.

From  : Hasan Yudha

To    : kelana_putri@yahoo.com

Sent  : Sunday, May 7, 2006 4:05 PM

Subj  : La..La..

 

Halo Lala..

Masih ingat puisi ini:

 

Ini Kami Tuan…

Tubuh kecil yang kelak

Dengan tangan ini

Dengan kaki ini

Berjalan tegap

Mengubah dunia

Dunia yang penuh sesak

Dunia yang kami tidak bisa bernafas

Menikmati buku-buku kami

Menikmati seragam kami

Menulis di buku kami

Mewarnai setiap gambar dengan warna pelangi

Membacakan keras teks pancasila

Tuan..

Teman-temanku ingin sekolah lagi..

 

Apakabar Lala Kelana,, sudah berlari sejauh apa kamu?

Masih ingat aku? Ya aku Hasan, teman kecil kamu dulu. Pasti kamu kaget kenapa aku bisa menulis email ini bukan?

Hari dimana aku membaca tulisanmu di salah satu surat kabar tentang Ayah, aku yakin itu adalah Kelana Putri yang aku kenal dimasa kecilku dulu. Hingga akhirnya dari surat kabar itu aku dapatkan email ini.

 

Larimu sepertinya sudah jauh sekali bukan?

Sampai aku kehilangan jejak kakimu selama ini. Susah payah aku kejar langkahmu Lala..

Hei gadis kecil berkepang kuda beri kabar kepada kami…

 

 

Hasan Yudha

 

 

Aku mengakhiri membaca email itu dengan berdecak haru. Ternyata pria yang tak kukenal itu adalah sahabat kecilku dimasa lalu, di masa aku mempunyai mimpi tak berbatas ruang dan waktu. Hasan Prayudha Angkasa, sahabat kecilku berbagi mimpi dan cerita. Bertukar pesan dalam puisi kecil layaknya anak-anak SD saat itu.

Serasa kembali ke masa lalu, sejenak aku terhanyut dalam lamunan masa kecilku, ketika disadarkan oleh salah seorang teman kerjaku.

“Lana, gue mau cerita nih lu lagi sibuk gak?”, suara berbisik menyadarkanku dari lamunan yang sejenak menggentayangiku.

“Hemmm, gak juga sih, mau cerita apa sih lu, perasaan tiap hari lu cerita melulu deh..”, sahutku dengan mengerutkan keningku, berpura-pura heran menanggapi keinginannya untuk bercerita.

Dara, dia adalah sahabatku selama aku bekerja di pabrik ini. Dara, dia lebih senior tiga bulan dari ku, dia lebih dulu masuk pabrik ini. Usia kami yang seumuran, hanya berselang 5 bulan saja. Aku dibulan Mei, sementara Dara di bulan Oktober. Menjadi faktor yang mendekatkan kami. Karena di divisiku, kami berdualah yang paling muda.

“Iya, gue ke tempat lu ya bentar doang kok.”, Dara menimpali ucapan yang keluar dari mulutku. Belum sempat aku mengiyakan Dara dengan cepat menyelinap masuk kubikel tempatku bekerja. “Geser dikit napa lan!”. Dara tiba-tiba memintaku bergeser dari kursi yang kududuki. Dengan spontan aku pun menggeser posisi dudukku.

“Mau cerita apa sih lu, heboh amat perasaan.”, aku yang meggerutu pelan sambil mencari posisi duduk yang enak, setelah berbagi kursi dengan Dara.

“Lan, gue mau minta maaf dulu nih sebelumnya, gue harap lu mau maafin gue ya!”, dengan nada memelas Dara membuka pembicaraan denganku. Aku yang sudah terbiasa dengan perilaku Dara yang terkadang aneh, tidak terlalu menghiraukan ucapannya.

“Maaf untuk apa? Udah kayak lebaran aja minta maaf-maaf segala.”

“Janji dulu lah Lan, lu gak akan marah sama gue.”, kembali Dara memelas padaku.

“Kapan gue pernah marah sama lu Dara, sekalipun enggak pernah deh. Padahal sering banget lu buat gue pusing.”, aku menimpali.

“Iya juga sih, hehehehe,,, syukur deh, jadi gini loh. Suatu hari, gue mau ngopy beberapa laporan dari komputer punya lu kan. Gak sengaja gue, buka folder punya lu yang judulnya “Aku Menulis”.”

“Iya, lalu?”, aku mengomentari pengakuan Dara siang itu.

“Lalu ya gue baca lah Lan, itu lu sendiri yang nulis Lan?”, Dara bertanya dengan nada yang penuh rasa penasaran.

“Lu ngapain buka-buka folder gue dan baca tulisan-tulisan gue coba? Iihhh apa sih lu, gue kan malu Dara”

“Iya maaf, maklum penasaran lah gue Lan.”

“Gak mungkin Dara, gak mau pokonya lu harus lupain semua yang lu baca dari folder gue itu”, dengan nada kesal aku berujar pada Dara.

“Bentar dulu Lana sayang, gue belum selesai masih ada lagi yang gue lakuin dari tulisan-tulisan lu itu”, Dara menimpali kekesalanku.

“Lu apain tulisan gue Dara?” dengan nada curiga aku bertanya pada Dara. Dara pun terkekeh mendengar pertanyaanku.

“Akhirnya gue ikut copy juga deh folder itu ke flashdisk punya gue. Gue baca lagi dirumah dan gue jatuh cinta sama tulisan lu yang tentang Ayah. Gue malah dibuat nangis bombay saat baca tulisan lu itu.”

“Hah? Apa-apaan lu mencuri diam-diam tulisan gue, untuk apa coba?”, memotong pembicaraan Dara.

“Sekali lagi nih Lan, gue minta maaf. Gue yang iseng akhirnya gue kirimin deh tulisan-tulisan lu yang tentang Ayah ke salah satu harian nasional. Dan lu liat nih!”, Dara menyodorkan harian nasional kepadaku. “Tulisan lu terbit di kolom puisi hari sabtu kemarin Kelana Putri Priangan.”

Dengan cepat aku meraih harian nasional yang dia sodorkan padaku. Begitu terperangahnya aku saat itu, kubaca tulisan-tulisan yang Dara tunjukan padaku. Lemas aku dibuatnya dengan kabar yang entah buruk atau baik pada saat bersaaman yang aku terima senin siang itu. Tulisanku, tulisan lama yang terpendam dalam folder lamaku sekarang terpampang di Harian nasional.

“Dara…”, aku dengan suara pelan. “Ini beneran tulisan gue kan?”

“Iyalah tulisan punya lu, tulisan lu yang gue curi? Itu beneran kan lu yan nulis?”, Dara terus mengoceh tanpa aku hiraukan. Aku yang masih belum percaya tulisanku terbit di harian nasional. Membacanya berulang kali, hingga tersadar oleh tepukan Dara yang mendarat tepat di pundakku.

“Hemm, beneran kan itu tulisan lu Lana?”

“Dara kok bisa sih? Gue gk tau harus bilang apa? Harus berterimakasih kayak gimana ke elu Dara, gue terharu….”, aku yang masih belum percaya.

“Ah, lu cengeng amat sih, itu baru tulisan pendek lu yang muncul. Belum seberapa Lana itu, gue masih mau liat nama lu mejeng di rak buku di semua toko buku di Indonesia, bahkan dunia kalo bisa.”, dengan kesungguhan Dara mengucap kalimat itu. Aku yang berkaca-kaca dengan spontan memeluk Dara erat.

Entah apa yang harus aku katakan pada Dara saat itu, kekesalan yang aku pendam berubah seketika menjadi haru. Hanya berakhir dengan pelukan erat yang aku daratkan pada tubuh mungilnya. Dia Dara, dengan segala optimistisnya akan diriku, sahabat yang selalu mengisi hari-hariku selama ini.

*****

Disela-sela kerjaku siang itu, aku selalu memandangi surat kabar yang Dara berikan padaku. Ingin segera pulang dan memperlihatkan kepada ibu dirumah. “Bapak, Lala berhasil mengukirkan sedikit namamu hari ini. Doakan aku dari tempatmu sekarang!”

Teringat email pagi tadi yang aku terima dari Hasan, kubuka dan kubaca kembali email yang dia kirim padaku. Mungkin surat kabar ini yang dimaksud oleh Hasan dalam emailnya itu. Dengan cekatan aku mengarahkan mouse komputerku ke menu balas.

*****

Jakarta, Mei 2006….

Jakarta siang itu, sangat tidak bersahabat sekali. Cuaca yang ekstrim membuat Jakarta menjadi hiruk dan pikuk. Tapi memang inilah Jakarta dengan segala ke segalaannya. Segala mahal, segala macet, segala debu, segala manusia ada di Jakarta. Ya dan Jakarta masih menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Mengejar waktu di Jakarta buat Hasan adalah hal yang biasa. Tepatnya kembali biasa. Masa lima tahun yang dia habiskan di Yogjakarta membuat dia lupa akan kekerasan kota yang membesarkan dia menjadi anak yang tangguh. Kembali mengais  rejekinya di Jakarta adalah pilihan terakhirnya, sambil menunggu kesempatan emas lain yang sedang dia kejar.

Kesarjanaan Teknik yang dia sandang dibelakang namanya, menjadikan Hasan seorang analis di perusahaan otomotif terkenal di Tanah Air. Disela pekerjaannya, Hasan menyempatkan membuka email, berharap ada balasan dari email yang dia kirim kepada Kelana beberapa hari yang lalu. Pesan masuk pun berdatangan saat dia login alamat emailnya. Gayung pun bersambut semburat nama yang dia harapkan membalas emailnya.

 

From  : Kelana Putri

To    : Hasan Yudha Angkasa

Sent  : Monday, May 8, 2006 3:45 PM

Subj  : Re: La..La..

 

Dear Abang,

Lariku tak kunjung sampai Abang. Mungkin kalau aku tidak ditemani oleh sahabatku Dara, aku sudah pingsan di pinggiran jalan. Dan Abang tak akan pernah bisa menyapaku.

Bapak sudah almarhum sekarang Abang, itu kenapa aku menulis tentang beliau.

Aku di Bandung sekarang, ibu sehat hanya beranjak tua sekarang tapi tetap cantik seperti dulu.

Abang Sehat?

Sudah berapa kilometer Abang berlari?

Aku rindu ujaranmu “Berlari Kelana” secepat yang kau bisa…

Senang Abang kembali. Ceritaku menjamur menunggu untuk Abang dengar.

 

-Kelana Putri-

*****

 

(bersambung…)

 

Living in Our Dream…

Sebut saja aku Embun, ya sebenarnya itu nama yang ingin aku berikan untuk nama anak perempuanku kelak. Jadi biarkan aku memakai nama itu unutk tulisan ku kali ini. Ya tulisan yang aku buat karena tergelitik akan obrolanku siang tadi dengan seorang sahabat melalui “chat messenger” fasilitas yang disediakan kantor kami.  Sebut saja sahabat kesayanganku ini Kiv.

Aku bersahabat baik dengan Kiv sudah 4 tahun, perkenalan yang tidak biasa di tempat kerja lama. Hingga aku yang harus pindah cabang, kami masih berteman dengan baik. Lebih dekat aku sebut saja Sahabat. Kiv yang paling tahu sekali kapan air mataku akan meleleh mendarat di sekujur mukaku. Bukan tissue memang yang dia sodorkan, tapi pelukan. Aku berharap juga sebaliknya dia merasakan hal yang sama terhadapku.

Ini adalah obrolan dua wanita karier (katanya itupun), tentang bagaimana seharusnya kami menjalani hidup hari ini dan nanti. Ini mungkin adalah oborolan kesekian kali kami saling mengamini setiap pernyataan baik yang keluar dari mulut kami masing-masing.

Embun     : Kiv, gue tidak bermaksud menyindir siapapun sebenernya dengan apa yang gue tulis di timeline.

Kiv     : hahahahha, iya gue baca, dan itu sih urusan orang yang merasa tersindir, Abaikan, itu media bebas kok, semua orang punya hak mau ngapain di media itu. Karena #nomention :p

Embun    : iya sih, padahal kan seharusnya memang tidak perlu tersindir dengan apa yang menjadi racauan, juga karena banyak orang yang melakukan apa yang gue omongin di timeline tadi pagi.. menjadi Loser itu adalah pilihan hidup. Hahahhah semoga kita terhindar dari hal demikian.. Amin

Kiv    : Embun, si Parjo resign ya?

Embun    : Hooh, per akhir bulan ini cabut dia.

Kiv    : Aduh, cuma gue doang ya yang bodoh masih bertahan aja gitu ditempat ini.

Embun     : Si Parjo mah jelas lah dia mau ngegedein usaha fashion istrinya. Klo difikir fikir ya gue, elu dan mungkin yang lainnya yang kita gak tahu adalah seorang pengecut alias loser. Jelas banget kan kita gk suka dengan apa yang kita sebut “pekerjaan” ini, tapi masih aja bertahan. Apa namanya klo bukan loser. Dan ternyata kita tidak bisa menghindari hal itu..

Kiv    : Enggak lah, gue rasa kita sedang berproses, akan indah pada akhirnya kok, gue meyakini hal itu.

Embun    : iya ya semoga bener ini adalah proses untuk kesana. BUkan sebuan akhir.

Kiv    : Amin, hahahhahah

Embun     : Amin, Hahahahha. Dan ini yang selalu kita sering lakukan bukan? Hanya bisa saling mengamini setiap ucapan baik yang gue artikan sebagai mimpi. Sementara temen gue bilang “percuma gak ada aktualisasinya”.. rasanya pengen gantung diri sekali.

Kiv     : Ingin pindah gue, ingin kerja diluar negeri aja. Tapi bisa apa gue, umur juga udah ketuaan 😦

Embun  : Iya sama, tapi tidak ada yang tidak mungkin sih Kiv. Selama lu masih mau mengusahakan semuanya. Kayak blog sepasang suami istri yang pernah lu kasih ke gue linknya waktu itu. Itu mereka bisa, mereka apa sih kerjanya? Menyenangkan sekali.

Kiv     : kayakanya dari yang gue baca, mereka sih gk kerja.. Mereka itu “Living in their dream”. Mereka itu orang seni, seni pertunjukan “Puppet”. Jadi klo gk salah mereka mengajar apa gitu di singapur selama 1 bulan, terus mereka pulang ke Indonesia menggelar pertunjukan puppetnya. Itu lah yang gue baca.

Embun     : Ah menyenangkan sekali ya..

Kiv     : Iya klo di luar negeri kan seni itu bener-bener dihargai banget.

Embun  : Iya, pisan. Semua seni dalam hal apapun sangat dihargai klo di luar negeri. Ingin juga bisa “Living in my/our Dream”, dengan orang yang tepat pastinya. Hahaha..

Kiv     : Amin, lu mah jelas udah punya tujuan dari hidup lu kedepan mau  berjalan seperti apa. Kalau gue sih masih suka bingung, masih mikir mau gimana.

Embun     : terkadang gue pun gak terlalu yakin dengan keputusan akan pilihan hidup masa depan gue ingin kayak apa dan bagaimana sih. Masih penuh tanya juga, dan malah kadang gak konsisten.

Kiv     : yang paling jelas dalam hidup gue… Gua gak mau end up ngurus anak doing. Terus jadi ibu-ibu yang tiap hari kerjaannya nonton sinetron doang. Terus mati deh… :p

Embun    : Jujur gue ingin menjadi ibu rumah tangga.. hahahahaha..

Kiv     : iya atuh sok.. pekerjaan tersulit gue rasa menjadi ibu rumah tangga.

Embun    : Iya komitmen semumur hidup. Gue ingin bener-bener megang anak gue banget nantinya. Gue gak mau anak gue diurus orang lain selain gue dan tentu aja bapaknya ya.. Tapi gue tidak mau menjadi apa yang lu bilang barusan. Ibu-ibu rumah tangga yang menjadi korban sinetron, bergosip kanan kiri dengan tetangga. arisan ngabisin duit suami. Semoga gue terhindar dari hal macam itu.

Kiv     : dari yang gue liat ya di Indonesia, dari sekian banyak label “Ibu RT”, itu kebanyakan karena mereka gk punya pekerjaan. Anak mah anggeur weh teu kauurus, kalah riweuh ngagosip.

Embun     : iya kebanyakan seperti itu. Tapi gue harus yakin lah sama diri gue sendiri. Gue bisa menjadi ibu rumah tangga yang bukan cuma sekedar ibu rumah tangga. Gue harus tetep bisa mengaktualisasikan diri gue sama apa yang gue suka. Semisal gue tetap diberi kebebasan untuk menulis, begadang membuat tulisan, menggambar.  Hahahaha, bukan egois dong. Dari pada gue stress malah nantinya larinya ke anak kan, anak gue yang malah gue bully. Semoga nemu laki yang bakal sejalan “Living in our dream” (my dream) Aminn

Kiv     : iya Aminnnnnn.. Gue sih untuk sekarang belum bisa menjadi Ibu rumah tangga seperti yang gue mau. Mening gue kerja aja puguh gak ngurus rumah tangga juga da pedah kerja. Mungkin nanti akan terpanggil, sekarang sih belum..

Embun     : Hooh, amin. Pilihan ini mah.. hahahha

Kiv     : Panggilan sih gue rasa, seperti untuk menjadi biarawati 🙂

Embun     : Mungkin nih ya, mungkin untuk wanita-wanita macam kita, gue sih mikirnya “dengan siapa partner hidup kita nantinya” bener gak sih. Itu sih yang bakal memutuskan pilihan gue nantinya akan pension menjadi wanita karier di perusahaan atau memilih untuk menjjadi ibu rumah tangga total. Itu tadi yang gue bilang semoga Tuhan masih punya stok buat gue, yang bisa kasih gue dunia.. 🙂

Kiv     : iya bener pisan Amin.. pokonya lu jangan sampai salah, jangan sampai nantinya malah nyesel.

Embun     : Amin

Kiv     : selagi belum ditulis dibuku baru nanti, lu harus nikmatin semua waktu yang lu punya, pilih buku yang bener, pake pena yang tintanya gak akan pernah habis!! Kalau mau pilih pensil pake pensil yang lu gak perlu runcingin ujungnya, tapi jangan pake mekanik lu harus rajin isi ulang dan itu basi..

Embun    : Eis edann perumpamaan yang mantaff..

Kiv     : hahahhaha

Itu hanya secuplikan dari obrolan yang bisa dibilang sering sekali jadi topik “chat” selama bekerja. Saling mengamini setiap kebaikan adalah kehebatan kita berdua. Tetep bisa membagi mimpi seperti ini, adalah hal yang berharga buatku. Setidaknya aku tahu, bukan cuma aku saja yang saat ini masih bermimpi. 🙂

*******
Aku Embun yang tidak akan pernah mengakhiri mimpi..

(jangan buat) Aku Tersesat

*****

“Jangan tergesa, jika tak ingin kembali dalam keadaan hancur!”, itu ucapan yang sangat aku ingat jelas dari seorang kawan yang ada di negeri kangguru sana.

“Entahlah, ini seperti sebuah kebetulan buatku.”, aku menimpali perintahnya. “Aku hanya ingin mencari kejelasan dari perasaan aneh yang terus-terusan menggelayutiku beberapa pekan ini.

“Kamu memang keras kepala, terserah kalau memang hasratmu lebih besar untuk mengejar rasa penasaranmu. Terpenting aku sudah memperingatkanmu akan hal ini.”, dia kembali menasihatiku.

“Aku tahu harus bagaimana jika aku kembali sakit. Ini aku lakukan lebih cepat untuk mencegah sakit lain yang berkepanjangan.”, aku menjawab dan mengakhiri percakapan jarak jauh kami. “Aku merindukanmu.”

“Akupun, jaga dirimu baik-baik.”, dia seraya menutup telepon yang menghubungkan kami.

*****

Kepergianku kali ini tak pernah aku beritahukan kepada banyak orang, seperti kepergianku sebelumnya. Bahkan aku tidak pamit kepada kawanku yang berada di Australia sana. Aku mengabaikan nasihatnya. Aku berkemas dengan semua perlengkapan perang yang aku miliki peninggalan sebelumnya. Aku tahu apa yang harus kulakukan jika nanti tiba-tiba ada serangan dadakan dari target buruanku.

Berbeda dengan yang sebelumnya, targetku kali ini lebih bebas. Seolah dia hidup di hutan belantara dengan keteraturan yang dia ciptakan. Butuh banyak buku untuk melawannya. Mengendalikan semua panca indera yang dia miliki. Peta, ya aku membutuhkan peta kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku tersesat untuk yang ke sekian kalinya. Aku sudah membayangkan medanku terjal, berlumpur dan penuh jurang. Tapi bulat niatku untuk menyerang semua penasaran akan sosoknya.

Akupun membuka pintu, melangkahkan kaki kecilku dari pintu besar yang selama ini kukunci rapat. Angin pun menghembus tubuhku. Pelan, namun sejuk kurasakan. Ini hanya halusinasi pikirku. Aku tak boleh lemah. Ya, Aku tak boleh lemah lagi.

“Tolonglah aku.. Tuhan”

Terik matahari kali ini sangat membuat aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Aliran darahku mulai menggolak didalam tubuhku. Bulir keringat banjir membasahi kulit dibalik baju yang kupakai. Mungkin wajahku sekarang penuh debu kasat mata yang tak terlihat. Kurogoh saku celana jeans kumal yang kupakai, mengambil handuk kecil untuk ku pakai mengusap keringat dan minyak di wajahku.

Haus,,,haus sekali, tenggorokanku seolah terbakar, menjerit meminta pertolongan segera akan air. Aku menyakinkan diriku, aku harus kuat, aku belum butuh pertolongan, aku masih bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer lagi untuk menggapai inderamu.

Ransel yang kugendong dipundakku mulai terasa semakin berat. Entah apa yang kumasukkan kedalamnya, mungkin beberapa onggok batu bata juga aku masukkan kedalam sana, karena aku merasa setiap kakiku melangkah semakin bertambah berat tas ransel ini. Penglihatanku pun semakin kabur, aku dehidrasi, aku haus…aku haus…

*****

“Aku sedang menyusun puzzle…”, dia berkata pelan saat kali pertama aku berkomunikasi dengannya.

“Sudah sampai mana?”, aku bertanya. Dia hanya tersenyum penuh misteri.

“Mari kita cari tahu bersama.. let’s play!!!”, dia kembali membuatku terkejut sambil berlalu dari hadapanku.

Dadaku bergemuruh, detaknya berubah cepat seperti ada alat pacu di dalamnya. Aku semakin dibuat tak mengerti dengan kepribadiannya. Dia datang seketika, mengalihkan semuanya menyembuhkan luka yang tak kunjung menyembuh. Muncul dalam dimensi lain menerobos paksa melalui jendela tanpa mengetuk pintu. Dia lihai, memberi bekas senyum pada ujung bibirku.

Aku semakin takut dengan ini semua. Kupastikan langkahku untuk mencari tahu apakah ini? Apakah aku benar-benar jatuh? Jika benar aku jatuh, maka aku akan siapkan kematian baru untuk hatiku. Kupersiapkan kembali perlengkapanku, kujejalkan kedalam ranselku. Aku bersiap terbang dan jatuh bersamaan lalu tenggelam.

Aku Jatuh maka Aku Tersesat.. tolong jangan…

*****

(to be continued.. jika aku benar-benar tersesat 🙂 )

Kelas Menyelam

Aku memilih kelas menyelam untuk semester ganjil. Leaflet gradasi warna biru tua kontras dengan tulisan berwarna jingga keemasan yang aku jadikan petunjuk untuk sampai ke kelas yang aku pilih kali ini. Berharap aku tidak lagi salah memilih kelas. Koridor panjang yang harus aku lewati, jendela besi tua yang menghiasi sisi kanan dan kirinya. Cat tembok yang coklat usang menjadi lukisan pucat sepanjang jalan menuju kelas baruku.

Pintu kayu tua kontras berwarna biru tua, dengan kusen jingga senja menjadi ucapan selamat datang kepada semua murid yang akan masuk kelas menyelam. Tertulis dengan jelas dibagian atas pintu “Selamat Datang di Kelas Menyelam”. Hanya kalimat sederhana yang tidak terlalu memiliki arti khusus untuk kelas ini. Ya, ini hanya kelas menyelam dan aku tidak terlalu pandai di kelas terbang.

*****

Lewat sini! Kelas menyelam semester ini silahkan lewat sini. Perlahan. Ikuti saya, jangan sampai tersesat. Perjalanan kita agak panjang untuk sampai ke kelas nanti. Kita harus melewati berbagai hutan gelap, rawa dan lumpur yang menipu.

Pejamkan mata kalian, dengarkan denyut jantung kalian, kalian akan mendengar suara-suara yang akan menuntun langkah kaki kalian hingga gerbang berikutnya. Begitulah teriakan seorang wanita muda yang menuntun kami semua yang akan menempuh pendidikan menyelam.

Seorang tiba-tiba mengagetkanku dengan menepuk bahu kananku sambil berujar, “.. Sudah siap untuk tenggelam dan terhipnotis jauh kedalam jurang-jurangnya?”. Terkekeh berlalu menyusul laju langkahku. Menoleh dan tersenyum kepadaku, “…sampai jumpa di gerbang berikutnya, aku duluan ya!”.
Siapapun wanita yang menegurku tadi, membuatku mempercepat gerakan kakiku. Terburu oleh langkah lincah kakinya. Akupun berusah mengejar langkahnya, walaupun banyak orang-orang didepanku yang mengahalangiku. Ini benar-benar keterlalulan fikirku, gerbang berikutnya itu sangat jauh, dan memang benar sangat gelap, entahlah pencahayaan macam apa ini? Tidak membantu sama sekali. Hingga akhirnya aku memperlambat langkah kakiku kembali. Terdiam sejenak, kemudian mengikuti jalan yang harus kulalui untuk mencapai gerbang berikutnya.

Cahaya terang, seterang matahari pagi menyembur diujung jalan yang kulalui. Mungkin itulah gerbang berikutnya yang dimaksud. Aku terus melangkahkan kakiku kedepan semburat cahaya yang sudah terlihat jelas. Siluet-siluet orang yang berdiri tepat gerbang besar. Langkahku terhenti saat menatap gerbang yang mereka bicarakan. Ini aku terpukau. Perjalanan gelap yang kulalui tadi terbayar dengan apa yang aku lihat dibalik gerbang besar itu.

Kuayunkan langkahku. Seketika batu-batu keras yang aku lalui tadi, jalan lembab berair dan berlumpur, berubah menjadi lautan pasir putih yang kian membentang luas. Langit biru menjadi atap terbuka dengan guratan awan putih yang mengisi beriringan.
Laut.. ya laut, gradasi warna yang tidak pernah tidak aku dibuat kagum. Inikah kelas menyelamku selama satu semester ini? Masih terpukau dengan kelas baruku kali ini. Enam bulan dan aku akan menghabiskan waktu ku disini. Semoga ini pilihan yang tepat, walau aku tidak sepenuhnya siap.

“Hey, lihat bagus bukan kelas menyelam ini?”, kembali aku dikejutkan oleh sosok yang sama, yang tadi mengagetkanku dilorong menuju kelas ini. Sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku, “Aku Pancawarna, panggil aku sesuka hatimu!”. Kusambut tangannya dan mengenalkan diriku ,- Kidung-.

“Aku tau kamu kok…, oh iya kenapa tersesat di kelas ini? sudah siap kan? Ini beresiko loh…”, wanita itu kembali bertutur.

“Ya begitulah, entah apa yang membuat aku lebih memilih kelas ini daripada kelas terbang..”, aku menimpali tanyanya.

“Aku sudah pernah mencoba kelas terbang tiga kali, pernah berhasil terbang lama, dan memecahkan rekorku sendiri, tapi tersungkur juga akhirnya. Ya parasutku tersangkut dan sobek, itu menyebabkan patah dibeberapa bagian tubuhku tentunya…”, dengan ceria dia bercerita pengalamannya di kelas terbang.

“Akhirnya aku mencoba kelas ini, kelas menyelam. Bahkan didalam sana aku sudah menemukan pulau yang membuat aku menyelam lagi dan lagi. Percayalah padaku, kamu akan menyukai kelas ini, banyak rahasia di dalam sana..”, dia sambil menunjuk ke arah biru lautan terbuka.

Aku masih terdiam mencerna berbagai untaian kata yang keluar dari mulutnya. Wanita yang ceria sekali fikirku. Sementara aku masih belum bisa menemukan arah mauku sebenarnya di kelas ini. Nikmati saja fikirku kemudian, toh aku berada di kelas serupa pantai selama enam bulan lamanya.

*****

Pakailah! Seragam kalian semua selama enam bulan ini. Pastikan semua atribut terpasang pada tubuh kalian semua. Aku yang masih memegang seragam yang dimaksud itu, kebingungan apa yang harus aku perbuat dengan benda-benda yang ada tepat dihadapanku. Hingga aku pun menuju kamar ganti, bergegas mengikuti yang lain untuk memakai seragam yang dimaksud tadi.

Dikumpulkan di hamparan pasir putih, semua murid di kelas menyelam mendengarkan instruksi-instruksi yang harus dipatuhi. Pikiranku yang entah kemana, menerawang menembus birunya langit yang terbentang diatas riak-riak air laut yang menggiurkan. Aku tak mengenal siapa-siapa di kelas menyelam ini. Tak perlu juga aku mengenal siapapun disini, toh aku memilih kelas ini bukan karena siapa-siapa. Murni karena inginku, inginku untuk tahu apa rasanya jatuh menyelami ruang biru yang tak berbatas itu.

“Perkenalkan semua, namaku Pancawarna…”, aku dikagetkan dari lamunanku, dengan wanita yang berdiri didepan seraya mengenalkan diri dengan nama sama. Tak salah dia adalah wanita yang juga mengenalkan dirinya kepadaku, yang berhasil membuatku bertanya-tanya siapakah wanita ini.

“…kalian boleh memanggil saya sesuka hati kalian. Enam bulan kedepan kita akan bersenang-senang didalam sana.”, sambil menunjuk ke arah lautan biru. Aku masih terdiam memperhatikan wanita itu berbicara. Menyimak setiap luncuran kata yang menjadi kalimat yang dia ucapkan kepada kami semua.

“Lihatlah birunya ruangan itu! Biru juga yang akan kalian rasakan. Akan ada ketakutan dalam benak dan perut kalian. Menggelepar. Tapi juga dorongan yang sangat kuat untuk terjun masuk kedalam air, ke bawah, merasakan pori-pori kalian disusupi hangat dan dinginnya air yang bahkan tak berasa asin.”

“Kalian akan takut, tapi gairahnya tetap menguasai. Ini hanya masalah pilihan. Didalam sana nanti kalian akan bisa mati, atau muncul kembali ke daratan dengan kalian yang lain. Hingga kembali ke dalam adalah menjadi candu hidup untuk kalian. Seperti saya yang sudah menemukan pulau hidup saya didalam sana.”

“Siap? Kalian akan menggigil. Kalian boleh mundur dan pulang sebagai pecundang, tak pernah tahu bagaimana rasanya menyelam hingga ke dasar. Menyelam dan terbang sesungguhnya hanya untuk para pemberontak, petualang, mereka yang nekat dan pemberani, untuk orang-orang gila, pemuja sepi dan pecinta kebebasan. Kaliankah itu?”

“Ini hanya kelas tanpa garansi, jaminan akan menjadi apa kalian setelah kelas ini pun tak ada. Kalian hanya akan disuguhi dunia lain didalam sana, dunia ungu juga merah muda, juga abu-abu yang menyesatkan. Jangan harap kalian bertemu ubur-ubur atau terumbu karang disana. Didalam sana kalian hanya akan belajar bertahan menggunakan tabung udara yang tidak lah banyak. Menarilah didalam sana, nikmatilah kejatuhan kalian didalam air.”

“Ingat ini pelajaran tanpa garansi! Kalian tak perlu pandai berenang. Pasrahkan gelombang membawa tubuh kalian. Berdansalah! Hingga kalian mabuk..mabuk dan mabuk.. Munculah ke permukaan untuk melihat dunia kalian. Jika aku pun bisa menemukan pulau hidupku didalam sana. Maka aku pun akan hidup disana. Melayang didalam air, merasakan debaran dan degup jantung yang kupunya. Aku jatuh maka aku menyelaminya hingga aku tak tenggelam.”

“Terimakasih..”, wanita itu mengakhiri perkenalannya kepada kami semua. Disambut dengan riuh tepukan tangan dari semua. Akupun yang reflek ikut bertepuk tangan dengan rasa terpukau.

Enam bulan aku akan jatuh didalam lautan luas itu menyelami setiap jengkalnya hingga aku mabuk seperti mabuknya Pancawarna.

*****

Ya dia Pancawarna, yang mengajari bagaimana menyelam tapi tidak tenggelam. Menyelam dan terbang baginya hanya sebuah pilihan. Keduanya sama, tidak pernah bergaransi. Aku tidak ingin merasakan sakit yang berkepanjangan, maka aku memilih kelas menyelam. Hingga aku pun sekarat didalam air sana, aku tetap merasakan indahnya biru, ungu, merah muda bahkan abu-abu yang menjelma rupa cinta. Aku tetap bahagia, walau aku tak pernah bisa menyelami hatimu.

*****

Setelah enam bulan ini, aku ingin menjadi pemberontak untuk jatuh dari tinggi. Tanpa sayap juga parasut. Ya pelajaran terbang, tunggu aku di semester berikutnya…

Bintang Kastangel

Terbaring dalam diam, sangat dekat, berdekatan, perempuan dan seorang pria yang memandangnya lekat, penuh cinta. Perempuan terdiam lama membisu dalam gelap, memandang ke arah jendela, ke arah datangnya cahaya kuning dari lampu di taman. Dalam lembut perempuan itu bertutur, berkisah dengan lantunan indah kepada pria yang berbaring disampingnya.

“… Hey lihat, itu bintang milikku sudah kembali bersinar di malam bulan ke tujuh aku menunggu. Akhirnya aku bisa kembali pulang.”
“Kenapa dia harus pulang?”, tanya pria kepada perempuan.
“Karena ibunya sudah lama menunggu di puncak kupu-kupu di belahan negeri pelangi. Lagi pula sang putri kenari sudah tidak terlalu dibutuhkan di negeri penanam kopi”

Si pria mengernyit, lalu tersenyum, memalingkan wajahnya ke arah bintang yang perempuan tunjuk dengan tangan kirinya.

“Aku ingin berjalan-jalan ke negeri penanam kopi yang kamu ceritakan setiap malam kepadaku”
“Hemm, kenapa kamu ingin kesana?”, tanya perempuan kepada pria.
“Aku pecinta kopi, jika aku diam disana aku tidak perlu susah payah mengeluarkan uang untuk membeli kopi ke swalayan.”
“Ah, aku tidak suka kalau kamu harus menjadi petani kopi juga seperti yang sang putri kenari lakukan selama tujuh bulan lamanya.”

Pria pun mengangkat tubuhnya, menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Menyeka rambut yang menghalangi wajah perempuan. Tersenyum dengan mata yang penuh tanya. Perempuan menatapnya balik, tersenyum malu kepada pria disampingnya.

“Aku tidak pernah mengerti dengan cerita peri, pangeran, putri yang kamu ceritakan setiap malam, menjelang tidurmu. Tapi aku selalu dibuat jatuh penasaran dengan semua tokoh yang kamu ceritakan didalamnya. Aku hanya ingin jadi orang pertama yang mendengarkan semua imajinasi cantikmu itu.”
“Kamu terpaksa menjadi pendegar?”
“Iya aku terpaksa, karena aku jatuh.. Jatuh cinta dengan semua cara kamu bertutur..”

Tangan perempuan yang terbaring itu mengusap lembut kepala pria disebelahnya.
Tanpa kata, hanya kembali segurat senyum yang tampak pada ujung bibirnya, menyisakan lesung pada pipinya yang terkena bias sinar dari cahaya lampu di luar jendela.
“Bagian mana yang kamu suka dari semua?”

Pria berfikir sejenak, lalu dengan semangat menuturkan kembali cerita-cerita yang dia ingat.

“Aku suka bintang yang kamu beri nama kastangel, itu karena kamu suka sekali dengan kue kering itu kan. Bintang itu hanya bersinar sekali, jika dia telah memilih orang yang tepat bukan?”
“Iya orang yang tepat, hemmm dan aku ingin sekali makan kastangel, besok bawakan untukku ya!”
“Iya kalau sempat aku belikan untukmu. Kenapa harus orang yang tepat?”
“Bintang itu hanya bersinar di waktu tertentu. Haruslah orang terpilih, haruslah orang yang membuka jiwa dan hatinya yang bisa membuat bintang bersinar. Bintang kastangel ini diciptakan special. Dia tidak berteman, tidak berkeluarga. Dia hanya akan bertemu dengan mereka-mereka yang telah siap saja. Aku sedang menyiapkan diri untuk menjadi pilihannya.”

Pria mengernyitkan, mencoba mengerti.
“Apakah aku akan menjadi bintang kastangel itu?

Perempuan tertawa, lalu terbatuk.
“Tidak mungkin, kamu bukan bintang sayang. Kamu itu seperti aku, kita sama pada akhirnya kita yang akan memilih mereka, memilih bintang-bintang kita..”

Mereka berdua terdiam dalam gelap. Pria kembali merebahkan kepalanya ke bantal diatas kasur dimana mereka terbaring. Mendesah. Perempuan pun mengusap lembut dada sang pria.

“Aku ingin menjadi bintang itu untukmu”
“Selalu.. Selamanya.. Tapi bukan bintang kastangel ini..”, menenangkan sang pria yang mendesah sedih. “Kamu tahu, bintang ini hanya memilih jiwa, mereka yang terpilih atau memilih akan terbang meninggalkan raganya. Bintang kastangel tidak punya cukup bagasi untuk menampung raga…”, sang perempuan terkikik pelan.

Pria itu terhenyak. Sunyi kembali merajai. Ia mengerjapkan matanya lebih kerap berusaha menahan air mata agar tak jatuh dari sana. Ia pun menempelkan bibirnya ke kening perempuan itu.

“Enak sekali…”, perempuan itu bereaksi dengan lugunya.
“Jika bintang kastangel sudah dekat beri tahu aku, aku akan mengahncurkannya.”

Perempuan memutar tubuhnya mendekap pria itu dengan erat. Mereka berpeluk, saling berdekapan dengan eratnya. Bergelung diatas tempat tidur rumah sakit yang begitu sempit. Pria yang tak lagi menghiraukan berbagai selang dan jarum yang menempel pada tubuh perempuan yang hanya tinggal tulang itu. LLK yang
sudah berhasil mencuri semuanya dari perempuan itu, dari kehidupan mereka berdua.

“Kalau sakit, maafkan aku, aku tidak akan melepaskanmu lagi sekarang dan selamanya”
“Tak apa sakitnya segera pergi. Kuberitahu jika bintang kastangel mendekatiku”

Air matapun tak lagi terbendung. Beginilah mereka melalui setiap malam di bulan ke tujuh ini.

“Tidurlah putri kenariku, bangunlah esok dengan lesung yang kucinta. Kubawakan kue kastangel yang kamu mau.”
“Aku jatuh cinta dengan bau tubuhmu”
“Tidurlah!”

*****

Terbangun dalam duduk..

“Aaaaggghh, kamu terlalu cepat datang, aku belum sempat mengecup bibirnya untuk malam ini.. Kamu licik datang tak mengirimiku surat terlebih dahulu…”

“Kamu yang memilihku, maka aku datang untuk menyembuhkanmu, sayang! Ayo bergegas…”

*****


Note: LLK » Leukeumia Limfositik Kronik

Dari Lantai 3 [part 1]

*****

“Arya… Arya…”, mendayu suara itu memanggil namaku.

*****

Aku mengenalnya enam bulan yang lalu, saat aku dipindahtugaskan ke kota ini. Kota besar, kota perantau berbagai manusia dari penjuru Indonesia. Aku bekerja sebagai seorang konsultan Sipil di salah satu perusahaan asing yang bergerak di bidang minyak bumi dan gas alam.

Dia adalah Lindung, seorang gadis muda yang tinggal di rumah besar yang terletak beberapa blok dari tempat kostku di Jakarta. Tidak sengaja aku bertemu dengannya saat aku yang tengah bersepeda sore melihat dia sedang berdiri di balkon dari lantai tiga rumahnya. Begitu setiap hari dia selalu berdiri di balkon itu. Hingga suatu hari di minggu pagi, aku sengaja melewati rumahnya. Aku yang saat itu bersepeda berakting seolah-olah rantai sepedaku lepas, akhirnya aku perbaiki rantai sepedaku tepat didepan rumahnya.

Kepura-puraanku tidak dia sadari, aku duduk di trotoar diseberang rumahnya. Pura-pura beristirahat sehabis memperbaiki rantai sepedaku. Entah apa yang terlintas di benakku saat itu, kukeluarkan dari tasku, kamera yang aku bawa. Aku mulai membidik apapu disekitarku, termasuk membidik dia secara diam-diam. Lensa yang dapat kuatur, kucuri foto dia dengan tanpa dia sadari. Kuperhatikan seksama hasil bidikanku, tenyata dia adalah gadis muda yang cantik. Setelah puas membidik dia, aku memutuskan untuk melanjutkan olahraga pagiku dengan bersepeda. Begitu seterusnya, sampai minggu ketiga aku mencuri fotonya secara diam-diam tanpa dia sadari. Aku mulai tertarik dengan hasil olah tubuhnya yang sagat natural saat dikamera, sepertinya kamera milikku jatuh cinta padanya.

Di minggu ke empat, sepertinya badanku kurang fit, sehingga aku mengurungkan niatku bersepeda di minggu pagi. Aku lebih memilih merebahkan badanku berselimut di hari minggu. Bermalas-malasan adalah pilihan yang tepat di minggu pagi saat itu, sambil menikmati secangkir coklat panas dan ditemani acara televisi sambil sesaat membersihkan kamera kesayanganku. Saat tengah asyik bermalas-malasan. Pintu kamar kostku ada yang mengetuk. Ketukan yang sangat pelan, namun jelas. Kusegerakan membukanya untuk melihat siapa tamu di minggu pagi. Saat kubuka pintu kamar kostku, aku dikagetkan oleh sesosok wanita yang tidak pernah aku sangka akan datang menemuiku.

“Hallo, Aku Lindung, kamu Arya?”, dengan suara datar gadis yang datang ke kamar kostku memperkenalkan diri sambil megulurkan tangannya kepadaku. Ya, dia adalah gadis elalu aku curi diam-diam fotonya, gadis yang selalu kulihat di balkon di lantai tiga rumahnya. Dengan panik aku menjabat tangannya seraya memperkenalkan diri.

“Hallo,,, oh iya saya Arya, kok tahu?”, aku dengan nada panik bercampur kaget dan bingung.

“Aku boleh masuk?”, gadis itu meminta masih dengan nada yang datar.

“Hah? Masuk?”, aku gagap terheran dengan keinginan gadis ini. “Oooh, boleh-boleh silahkan, tapi maaf berantakan kamarnya.”, aku yang tanpa pikir panjang langsung memepersilahkan Lindung masuk ke kamar kostku.

Lindung pun masuk ke kamar kostku, pelan menancapkan langkah kakinya. Mengamati sudut demi sudut kamarku. Memperhatikan dengan antusias benda-benda yang aku pajang di kamarku. Aku yang masih heran dengan kedatangannya, masih tidak percaya gadis misterius itu datang ke kamar kostku. Masih berkecamuk segala pertanyaanku tentang itu semua yang belum juga kutemukan jawabnya, tiba-tiba aku dikagetkan oleh pertanyaanya.

“Mana foto-foto ku yang kau curi tiga minggu ini?”, masih dengan nada datar di bertanya, membalikkan tubuhnya melihat langsung kewajahku. Sontak aku terkaget dengan pertanyaanya, darimana dia bisa tahu kalau aku mencuri foto-fotonya diam-diam pikirku saat itu.

“Hah? Foto?”
“Iya foto-foto milliku yang sudah kau curi diam-diam?”
, dia mendekatiku dengan ucapan yang lebih tegas dari sebelumnya.
“Ooohh, maaf..”, aku dengan panik. “Ada kok, masih aku edit, di laptopku.”, berjalan menuju laptopku, menghidupkannya. Dia mendekatiku dan duduk di sampingku, memperhatikanku.

Aku yang masih terheran-heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba ke tempatku. Diam tanpa kata mencari folder-folder foto yang belum sempat aku edit. Dia terus memperhatikan layar laptopku. Hingga akhirnya kebisuan kami pun pecah dengan pertanyaan yang dia lontarkan. “Kenapa kamu diam-diam moto aku?”
“Hah? Hemm kenapa ya? Nggak tau deh, awalnya cuma iseng, tapi waktu aku liat lagi kamu Ok di kamera.”

“Aku nggak suka kamu mencuri fotoku diam diam seperti itu Arya.”, dia menimpaliku dengan pernyataan keras.

“Maaf…”, sahutku. “Sekali lagi saya mohon maaf Lindung”

Lindung hanya menatapku tajam, aku terhipnotis oleh warna cokelat matanya yang indah. Diamnya mengacaukan konsentrasiku akan kecantikan gadis ini. Tersadar oleh suara pintu kostku yang menutup karena angin menghempasnya terlalu keras.

Lindung dengan parasnya, memalingkan wajahnya dariku. Menatap layar laptopku, menungguku membuka folder-folder foto miliknya.

*****

(to be continued)

Metamorf of butterfly..

Aku terlahir dari ayah dan ibu yang tidak pernah aku tahu bagaimana rupanya, aku kenal dengan mereka dari cerita disekitarku. Aku tumbuh besar tanpa keberadaan mereka disisiku…entahlah mungkin tidak secara fisik mereka bersama ku, tetapi kebanyakan dari kami memang tumbuh tanpa orang tua.

Aku adalah telur pada awalnya tidak kuat dan sangat rapuh, disaat hariku sudah cukup aku keluar dari cangkang telur yang membungkus tubuhku.. Ya, dan percayalah penampilan ku sangat buruk dan menjijikan. Aku sangat tidak disukai di dunia makhluk yang menamakan dirinya ‘manusia’, mereka memberi kami nama yang juga sangat buruk ‘ulat’..ya itulah nama yang menurut mereka sangat pantas untuk kami,  dan percayalah kami mempunyai perlindungan dari makhluk itu. Mungkin itulah yang selalu membuat mereka lari jika melihat bangsa kami. Terkadang aku selalu tertawa malihat perilaku mereka, yang selalu merasa bahwa mereka adalah makhluk yang paling sempurna, tapi tidak pernah cukup berani untuk menyentuh bangsa kami. Apalagi jika kami berkoloni. Dan aku sangat membenci manusia, karena dengan emosi dari ketakutannya itu mereka selalu menyakiti kami, bahkan dengan mudahnya mereka menghancurkan kami dan membinasakan kami.

Disaat aku tumbuh menjadi ‘ulat’, aku berkelana mengejar hasratku untuk bisa disukai oleh manusia.. Aku tidak ingin selamanya dibenci oleh mereka, tidak diinginkan, dan terlebih dihancurkan. Tidak hanya aku sebenarnya yang melakukan ini, semua bangsa kami yang bisa bertahan dan tidak macam-macam akan berhasrat sama denganku. Ya seperti sudah menjadi takdir buat bangsa kami.

Dalam perjalanannya itu aku tidak ingin hanya menjadi aku nantinya, aku ingin menjadi lebih dari aku, jika aku sosok, aku sudah bisa diterima di dunia manusia. Walaupun mungkin aku akan memiliki usia yang tidak lama jika sudah berada di dunia mereka. Setidaknya jasad ku tetap abadi tidak rapuh dan terkoyak seperti yang lainnya.. Aku akan diburu untuk dijadikan koleksi pencinta sosok-sosok seperti aku nantinya.

Ya dan akhirnya aku menjadi ‘kepompong’ masuk kembali ke dalam cangkang yang secara alami aku buat sendiri. Aku menjadi rapuh kembali dan mudah dihancurkan. Jadi saat masa kerapuhanku, aku akan bersembunyi dari semua yang bisa menghancurkan aku sebelum waktunya.

Aku merasakan sakit didalam tubuh kepompongku. Tertahan dalam ruang yang tidak memungkinkan untukku bergerak bebas seperti sebelumnya. Hanya pikiran dan akalku yang terus berputar,bermimpi dan terus berimajinasi. Tak sedikitpun ku berikan waktu untuk ‘otak’ku diam. Tak kuberikan kesempatan sedikitpun untuk ‘imaji’ku tertidur. Tidak sebentar tapi tidak juga lama aku terkurung didalam sini. Tapi aku harap aku diberikan waktu yang cukup untuk aku menjadi aku yang aku mau pada akhirnya. Maka aku pun yakin bahwa mampu melalui ini.


 

****

Dan aku sekarang hanya jiwa yang tak bertubuh. Sesekali aku tengok tubuhku teronggok kaku didalam sebuah vigura. Tampak cantik dengan warna-warnanya. Dan akupun nyaris tidak percaya aku dulu pemilik tubuh itu. Ya dan aku berhasil diterima didunia mereka yang dulu membenci aku, walaupun berakhir seperti ini. Tapi setidaknya aku masih jiwa yang tak bertubuh.

Reinkarnasiku..ku harap sempurna seperti metamorfosisku..

#picture: At_the_Window by neilclark on DeviantArt