Peluru Kalap

Ini aku yang terpisah dari selongsongku
Kembali menyebar teror

Aku terhempas seketika
Dengan mata jauh aku menembus tulang
Menjadi panas
Mengikis habis rongga dada dan paru
Hingga aku bersarang disana

Ini aku yang terpisah dari selongsongku
Kembali menyebar teror

Aku yang dibuat tajam
Hanya untuk 12 Mei 1998
Meluluhlantahkan barisan
Membungkam umpatan
Menyumpal mulut demonstran

Ini aku yang terpisah dari selongsongku
Kembali menyebar teror

Hingga aku menjadi secuil saksi bisu
Yang tak bisa berkata
Siapa yang mengirimku
Menjadi peluru kalap
Membabi buta
Membinasakan mereka yang bereformasi

Ya dan…
Ini hanya aku yang terpisah dari selongsongku
Menyebar teror berkali-kali

****

Pahlawan Reformasi
-Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto, Hermawan Sie-

Inilah Indonesia yang telah ber-“reformasi”

Iklan

Imaginandi Mix Media :)

Seorang sahabat kesayangan saya Panji Firman Rahadi, tiba-tiba menjadi baik sekali. Dia satu-satunya sahabat yang menjadikan saya kelinci percobaan akan semua imajinasi yang terbentuk di otaknya. Dia bilang seperti ini, “Kelinci percobaan gue tinggal lu doang ni, soalnya kelinci gue yang lain udah pada mati jamuran…”. Pernyataan macam apa itu. Dia juga, entah ini kebetulan atau tidak yang paling jago menterjemahkan semua imajinasi yang ada di kepala saya. Kurang lebih cara saya mengekspresikan diri saya di dunia ini pun terdoktrinisasi oleh manusia berbadan besar ini.

Konsep foto badut saya pun disambut dengan tangan lapang. Luar biasa ketakutannya akan badut bisa dengan mudah dia lawan saat dia mengambil foto saya dengan tampilan badut. Dulu saya pernah posting foto badut yang dibalut dengan puisi Laplace, tapi akhirnya saya hapus postingannya karena kemungkinan akan dijadikan project kecil saya dan Panji Firman (mun teu hoream eta ge hahaha)..

Suatu hari dia memberi tahu saya, kalo dia punya foto buat saya… hahahha dengan penuh rasa curiga saya tidak langsung percaya begitu saja. Karena hidup manusia satu itu penuh intrik terhadap kelangsungan hidup saya. Diyakinkan dengan caranya, akhirnya saya pun percaya si manusia ini punya karya yang dia buat untuk saya.. ini sedikit cuplikan obrolan saya dengan manusia itu di YM :p

Conversation with Panji Firman

 

 

 

 

 

 

Apapun tujuan dia membuatkan karya ini untuk saya dan 2 orang lainnya (pacarnya tepatnya -Ririn dan teman saya yang lain Rohmat), saya sangat sangat tersanjung sekali. Rasanya ingin menangis ketika lihat karya yang dia buat untuk saya. Entahlah tidak pernah terbayangkan sebelumnya karya yang dia buat itu seperti apa hasilnya. Yang ada di kepala saya saat mendengar akan dihadiahi karyanya cuma terfikir “FOTO” cuma foto biasa..

Siapa yang sangka hasilnya seperti ini… :”)

Imaginandi Mix Media

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah salah satu dari foto koleksi badut saya yang dimana Panji adalah sang juru foto, tapi sebenarnya foto aslinya gak seperti ini. Foto ini sudah Panji sulap menjadi bentuk yang menurutnya adalah Mix Media, ya ini bukan foto lagi tapi sudah menjadi Mix Media.

Dengan sangat jujur dari lubuk hati yang paling dalam, jatuh cinta dengan hasilnya.. #berbinarbinar, gak pernah nyangka hasilnya akan seperti itu.

Sebenarnya ada satu foto lain yang Panji buat juga, tapi foto yang satunya tidak akan dia berikan ke saya biar bagaimanapun.. Karena foto satunya akan dipakai untuk Pameran dia nanti 🙂

Sukses buat sahabat kesayangan saya Panji Firman Brengsek.. buat apa yang sedang kamu kerjakan hari ini.. *wah apa ini, semacam tulisan terimakasih.. tidak mungkin*

Ah saya rindu diomelin lagi nih panj!! Sok sibuk sekali kamu…. sebal 😥

hahahahaha.. #tidak mau ber-argumen :p

Living in Our Dream…

Sebut saja aku Embun, ya sebenarnya itu nama yang ingin aku berikan untuk nama anak perempuanku kelak. Jadi biarkan aku memakai nama itu unutk tulisan ku kali ini. Ya tulisan yang aku buat karena tergelitik akan obrolanku siang tadi dengan seorang sahabat melalui “chat messenger” fasilitas yang disediakan kantor kami.  Sebut saja sahabat kesayanganku ini Kiv.

Aku bersahabat baik dengan Kiv sudah 4 tahun, perkenalan yang tidak biasa di tempat kerja lama. Hingga aku yang harus pindah cabang, kami masih berteman dengan baik. Lebih dekat aku sebut saja Sahabat. Kiv yang paling tahu sekali kapan air mataku akan meleleh mendarat di sekujur mukaku. Bukan tissue memang yang dia sodorkan, tapi pelukan. Aku berharap juga sebaliknya dia merasakan hal yang sama terhadapku.

Ini adalah obrolan dua wanita karier (katanya itupun), tentang bagaimana seharusnya kami menjalani hidup hari ini dan nanti. Ini mungkin adalah oborolan kesekian kali kami saling mengamini setiap pernyataan baik yang keluar dari mulut kami masing-masing.

Embun     : Kiv, gue tidak bermaksud menyindir siapapun sebenernya dengan apa yang gue tulis di timeline.

Kiv     : hahahahha, iya gue baca, dan itu sih urusan orang yang merasa tersindir, Abaikan, itu media bebas kok, semua orang punya hak mau ngapain di media itu. Karena #nomention :p

Embun    : iya sih, padahal kan seharusnya memang tidak perlu tersindir dengan apa yang menjadi racauan, juga karena banyak orang yang melakukan apa yang gue omongin di timeline tadi pagi.. menjadi Loser itu adalah pilihan hidup. Hahahhah semoga kita terhindar dari hal demikian.. Amin

Kiv    : Embun, si Parjo resign ya?

Embun    : Hooh, per akhir bulan ini cabut dia.

Kiv    : Aduh, cuma gue doang ya yang bodoh masih bertahan aja gitu ditempat ini.

Embun     : Si Parjo mah jelas lah dia mau ngegedein usaha fashion istrinya. Klo difikir fikir ya gue, elu dan mungkin yang lainnya yang kita gak tahu adalah seorang pengecut alias loser. Jelas banget kan kita gk suka dengan apa yang kita sebut “pekerjaan” ini, tapi masih aja bertahan. Apa namanya klo bukan loser. Dan ternyata kita tidak bisa menghindari hal itu..

Kiv    : Enggak lah, gue rasa kita sedang berproses, akan indah pada akhirnya kok, gue meyakini hal itu.

Embun    : iya ya semoga bener ini adalah proses untuk kesana. BUkan sebuan akhir.

Kiv    : Amin, hahahhahah

Embun     : Amin, Hahahahha. Dan ini yang selalu kita sering lakukan bukan? Hanya bisa saling mengamini setiap ucapan baik yang gue artikan sebagai mimpi. Sementara temen gue bilang “percuma gak ada aktualisasinya”.. rasanya pengen gantung diri sekali.

Kiv     : Ingin pindah gue, ingin kerja diluar negeri aja. Tapi bisa apa gue, umur juga udah ketuaan 😦

Embun  : Iya sama, tapi tidak ada yang tidak mungkin sih Kiv. Selama lu masih mau mengusahakan semuanya. Kayak blog sepasang suami istri yang pernah lu kasih ke gue linknya waktu itu. Itu mereka bisa, mereka apa sih kerjanya? Menyenangkan sekali.

Kiv     : kayakanya dari yang gue baca, mereka sih gk kerja.. Mereka itu “Living in their dream”. Mereka itu orang seni, seni pertunjukan “Puppet”. Jadi klo gk salah mereka mengajar apa gitu di singapur selama 1 bulan, terus mereka pulang ke Indonesia menggelar pertunjukan puppetnya. Itu lah yang gue baca.

Embun     : Ah menyenangkan sekali ya..

Kiv     : Iya klo di luar negeri kan seni itu bener-bener dihargai banget.

Embun  : Iya, pisan. Semua seni dalam hal apapun sangat dihargai klo di luar negeri. Ingin juga bisa “Living in my/our Dream”, dengan orang yang tepat pastinya. Hahaha..

Kiv     : Amin, lu mah jelas udah punya tujuan dari hidup lu kedepan mau  berjalan seperti apa. Kalau gue sih masih suka bingung, masih mikir mau gimana.

Embun     : terkadang gue pun gak terlalu yakin dengan keputusan akan pilihan hidup masa depan gue ingin kayak apa dan bagaimana sih. Masih penuh tanya juga, dan malah kadang gak konsisten.

Kiv     : yang paling jelas dalam hidup gue… Gua gak mau end up ngurus anak doing. Terus jadi ibu-ibu yang tiap hari kerjaannya nonton sinetron doang. Terus mati deh… :p

Embun    : Jujur gue ingin menjadi ibu rumah tangga.. hahahahaha..

Kiv     : iya atuh sok.. pekerjaan tersulit gue rasa menjadi ibu rumah tangga.

Embun    : Iya komitmen semumur hidup. Gue ingin bener-bener megang anak gue banget nantinya. Gue gak mau anak gue diurus orang lain selain gue dan tentu aja bapaknya ya.. Tapi gue tidak mau menjadi apa yang lu bilang barusan. Ibu-ibu rumah tangga yang menjadi korban sinetron, bergosip kanan kiri dengan tetangga. arisan ngabisin duit suami. Semoga gue terhindar dari hal macam itu.

Kiv     : dari yang gue liat ya di Indonesia, dari sekian banyak label “Ibu RT”, itu kebanyakan karena mereka gk punya pekerjaan. Anak mah anggeur weh teu kauurus, kalah riweuh ngagosip.

Embun     : iya kebanyakan seperti itu. Tapi gue harus yakin lah sama diri gue sendiri. Gue bisa menjadi ibu rumah tangga yang bukan cuma sekedar ibu rumah tangga. Gue harus tetep bisa mengaktualisasikan diri gue sama apa yang gue suka. Semisal gue tetap diberi kebebasan untuk menulis, begadang membuat tulisan, menggambar.  Hahahaha, bukan egois dong. Dari pada gue stress malah nantinya larinya ke anak kan, anak gue yang malah gue bully. Semoga nemu laki yang bakal sejalan “Living in our dream” (my dream) Aminn

Kiv     : iya Aminnnnnn.. Gue sih untuk sekarang belum bisa menjadi Ibu rumah tangga seperti yang gue mau. Mening gue kerja aja puguh gak ngurus rumah tangga juga da pedah kerja. Mungkin nanti akan terpanggil, sekarang sih belum..

Embun     : Hooh, amin. Pilihan ini mah.. hahahha

Kiv     : Panggilan sih gue rasa, seperti untuk menjadi biarawati 🙂

Embun     : Mungkin nih ya, mungkin untuk wanita-wanita macam kita, gue sih mikirnya “dengan siapa partner hidup kita nantinya” bener gak sih. Itu sih yang bakal memutuskan pilihan gue nantinya akan pension menjadi wanita karier di perusahaan atau memilih untuk menjjadi ibu rumah tangga total. Itu tadi yang gue bilang semoga Tuhan masih punya stok buat gue, yang bisa kasih gue dunia.. 🙂

Kiv     : iya bener pisan Amin.. pokonya lu jangan sampai salah, jangan sampai nantinya malah nyesel.

Embun     : Amin

Kiv     : selagi belum ditulis dibuku baru nanti, lu harus nikmatin semua waktu yang lu punya, pilih buku yang bener, pake pena yang tintanya gak akan pernah habis!! Kalau mau pilih pensil pake pensil yang lu gak perlu runcingin ujungnya, tapi jangan pake mekanik lu harus rajin isi ulang dan itu basi..

Embun    : Eis edann perumpamaan yang mantaff..

Kiv     : hahahhaha

Itu hanya secuplikan dari obrolan yang bisa dibilang sering sekali jadi topik “chat” selama bekerja. Saling mengamini setiap kebaikan adalah kehebatan kita berdua. Tetep bisa membagi mimpi seperti ini, adalah hal yang berharga buatku. Setidaknya aku tahu, bukan cuma aku saja yang saat ini masih bermimpi. 🙂

*******
Aku Embun yang tidak akan pernah mengakhiri mimpi..

My Name Is Sketchy…

Ketertarikan saya dengan dunia seni hemm bisa dibilang begitu lebih dibanding dengan dunia lainnya. Untuk saat ini dunia tulis menulis menjadi passion terbesar dalam hidup saya, bahkan sudah menjadi prioritas dari semua hal yang berhubungan dengan seni. Sebenarnya seni sendiri tidak pernah mengkotak-kotakan dirinya. Seni ya seni apapun itu dan dalam bentuk apapun itu. Seni adalah penyembuh akan ‘sakit’ yang kadang hadir dalam hidup saya. Dan saya mulai candu akannya.

Kali ini saya mau memperkenalkan saya yang lain dalam hal berkesenian. Seharusnya tidak di sini di blog ini, blog yang lebih menitik beratkan dunia saya pada sastra. Hanya saja saya bukan orang yang hebat mengatur lebih dari 1 blog, jadi saya sisipkan disini saja. Lagipula porsinya tentu tidak akan sebanyak porsi sastra yang ada di blog ini.

Design Fashion… saya suka design, menggoreskan pensil di atas kertas buram. Fashion sebenarnya bukan passion saya, yang menjadi passion saya adalah seni menggambarnya, menggerakkan pensil-pensil diatas kertas itu adalah hal yang sangat menyenangkan buat saya. Walaupun saya masih banyak menggunakan penghapus, tapi saya suka menggambar. Sketsa, tepatnya sketsa. Entahlah sketsa itu buat saya adalah awal penciptaan, proses penciptaan akan objek nyata. Dengan sketsa kita bisa seenaknya merubah ide satu menjadi ide lain, hingga ide akhir.. Kemudian diwujudkan deh..

So.. perkenalkan My Sketch Book… buku sketsa ini sudah menjadi sahabat saya selama 4 tahun (senangnya bersahabat denganmu sayang).. Buku ini adalah obat saya yang lain jika jenuh mulai mendominasi..

My name is Sketchy

 

 

 

 

 

 

4 tahun yang lalu saya belum menngunakan identitas niyajothi secara resmi, lihatlah saya menuliskan nama saya di sana dengan “NIEA”.. heheheh

Di dalamnya ada berlembar-lembar kertas yang sudah terisi dengan sketsa-sketsa design baju, sebagian sudah saya realisasikan menjadi baju yang saya pakai untuk kerja dan jua pesta. Nanti akan saya share di postingan saya yang lain beberapa sketsa baju yang berhasil saya realisasikan..

Untuk postingan perdana di kategori meVSfashion ini.. Saya mau share sketsa yang belum saya realisasikan, tapi akan segera saya realisasikan karena kebetulan saya lagi butuh baju pesta untuk menghadiri pesta pernikahan salah seorang sahabat baik saya diakhir bulan Mei nanti…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini dia designnya.. saya menggunakan bahan shiffon abu yang saya beli di King’s Dalam Kaum Bandung, 1 meternya kalau tidak salah 15rb, saya pakai 2 meter. Lalu untuk bawahannya saya bongkar lemari ibu saya, dan menemukan kain dengan motif batik mesir gitu entah agak sedikit aneh motifnya itu. Tapi saya suka dengan permainan warnanya.. 🙂

Ini dia kainnya

 

 

 

 

 

 

Segera jika sudah direalisasikan akan saya share… tentunya di blog ini dengan kategori meVSfashion..

Doakan berhasil ya teman-teman..

dan selamat menikmati kategori baru di blog ini..

🙂

(jangan buat) Aku Tersesat

*****

“Jangan tergesa, jika tak ingin kembali dalam keadaan hancur!”, itu ucapan yang sangat aku ingat jelas dari seorang kawan yang ada di negeri kangguru sana.

“Entahlah, ini seperti sebuah kebetulan buatku.”, aku menimpali perintahnya. “Aku hanya ingin mencari kejelasan dari perasaan aneh yang terus-terusan menggelayutiku beberapa pekan ini.

“Kamu memang keras kepala, terserah kalau memang hasratmu lebih besar untuk mengejar rasa penasaranmu. Terpenting aku sudah memperingatkanmu akan hal ini.”, dia kembali menasihatiku.

“Aku tahu harus bagaimana jika aku kembali sakit. Ini aku lakukan lebih cepat untuk mencegah sakit lain yang berkepanjangan.”, aku menjawab dan mengakhiri percakapan jarak jauh kami. “Aku merindukanmu.”

“Akupun, jaga dirimu baik-baik.”, dia seraya menutup telepon yang menghubungkan kami.

*****

Kepergianku kali ini tak pernah aku beritahukan kepada banyak orang, seperti kepergianku sebelumnya. Bahkan aku tidak pamit kepada kawanku yang berada di Australia sana. Aku mengabaikan nasihatnya. Aku berkemas dengan semua perlengkapan perang yang aku miliki peninggalan sebelumnya. Aku tahu apa yang harus kulakukan jika nanti tiba-tiba ada serangan dadakan dari target buruanku.

Berbeda dengan yang sebelumnya, targetku kali ini lebih bebas. Seolah dia hidup di hutan belantara dengan keteraturan yang dia ciptakan. Butuh banyak buku untuk melawannya. Mengendalikan semua panca indera yang dia miliki. Peta, ya aku membutuhkan peta kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku tersesat untuk yang ke sekian kalinya. Aku sudah membayangkan medanku terjal, berlumpur dan penuh jurang. Tapi bulat niatku untuk menyerang semua penasaran akan sosoknya.

Akupun membuka pintu, melangkahkan kaki kecilku dari pintu besar yang selama ini kukunci rapat. Angin pun menghembus tubuhku. Pelan, namun sejuk kurasakan. Ini hanya halusinasi pikirku. Aku tak boleh lemah. Ya, Aku tak boleh lemah lagi.

“Tolonglah aku.. Tuhan”

Terik matahari kali ini sangat membuat aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Aliran darahku mulai menggolak didalam tubuhku. Bulir keringat banjir membasahi kulit dibalik baju yang kupakai. Mungkin wajahku sekarang penuh debu kasat mata yang tak terlihat. Kurogoh saku celana jeans kumal yang kupakai, mengambil handuk kecil untuk ku pakai mengusap keringat dan minyak di wajahku.

Haus,,,haus sekali, tenggorokanku seolah terbakar, menjerit meminta pertolongan segera akan air. Aku menyakinkan diriku, aku harus kuat, aku belum butuh pertolongan, aku masih bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer lagi untuk menggapai inderamu.

Ransel yang kugendong dipundakku mulai terasa semakin berat. Entah apa yang kumasukkan kedalamnya, mungkin beberapa onggok batu bata juga aku masukkan kedalam sana, karena aku merasa setiap kakiku melangkah semakin bertambah berat tas ransel ini. Penglihatanku pun semakin kabur, aku dehidrasi, aku haus…aku haus…

*****

“Aku sedang menyusun puzzle…”, dia berkata pelan saat kali pertama aku berkomunikasi dengannya.

“Sudah sampai mana?”, aku bertanya. Dia hanya tersenyum penuh misteri.

“Mari kita cari tahu bersama.. let’s play!!!”, dia kembali membuatku terkejut sambil berlalu dari hadapanku.

Dadaku bergemuruh, detaknya berubah cepat seperti ada alat pacu di dalamnya. Aku semakin dibuat tak mengerti dengan kepribadiannya. Dia datang seketika, mengalihkan semuanya menyembuhkan luka yang tak kunjung menyembuh. Muncul dalam dimensi lain menerobos paksa melalui jendela tanpa mengetuk pintu. Dia lihai, memberi bekas senyum pada ujung bibirku.

Aku semakin takut dengan ini semua. Kupastikan langkahku untuk mencari tahu apakah ini? Apakah aku benar-benar jatuh? Jika benar aku jatuh, maka aku akan siapkan kematian baru untuk hatiku. Kupersiapkan kembali perlengkapanku, kujejalkan kedalam ranselku. Aku bersiap terbang dan jatuh bersamaan lalu tenggelam.

Aku Jatuh maka Aku Tersesat.. tolong jangan…

*****

(to be continued.. jika aku benar-benar tersesat 🙂 )

Transformasi

Bila saja aku bak Laplace
Menyederhanakan sulit
Memudahkan susah
Memecah sistem akan fungsi matematika
Bahkan fisika atau mekanika

Bergelung dengan segala kemungkinan
Menganalisa cara pandang akan domain waktu
Memecah hening fungsi kompleksitas
Menciptakan harmonisasi
Atas diferensiasi juga integrasi

Namun, Aku hanya rangkaian
Ya, aku hanya rangkaian penciptaan
Atas kendali yang kuciptakan
Kuciptakan tak karuan
Penuh tentangan akan alter hidupku

Bila saja aku bak Laplace
Ku analisa segala waktu hidupku
Kusederhanakan sistem kerumitanku
Menjadi polinomial
Menjadi sederhana
Hingga akhir kutemui

Namun, aku hanya aku
Bertransformasi akan diriku pun tak kuasa
Hanya bisa melihat dari balik tembok putih..
Melihat mereka bertepuk tangan
Akan akhir binasaku
Ya, karena Laplace bukanlah aku