Shock Culture…. “Aku Indonesia Banget atau Indonesia Aja”

 

“sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..(Caping 4, h. 80)” ― Goenawan Mohamad

Ini tentang orang orang yang pernah melakukan perjalanan jauh ke negeri tetangga. Saya sendiri belum pernah keluar dari Indonesia, hanya saja saya cukup dibuat heran dengan mereka yang baru sehari dua hari, seminggu dua minggu atau setahun dua tahun tinggal di negeri orang tapi sudah terlalu banyak tingkah dengan membanding-bandingkan budaya Indonesia dengan budaya luar.

Pagi ini, secara tidak sengaja saya melihat status salah seorang teman di media sosial yang kebetulan dia baru kembali dari perantauannya ke negara  Jepang. Agak terkejut ketika membaca apa yang dia tulis, sontak membuat mengerutkan dahi.
Blunder

“Janjian sama perempuan di indonesia sangat berbeda dgn Japan. Seminggu sebelum dah janjian dan buat memo dengan pertimbangan matang. Tgl dan jam pergi tepat waktu. Disini, ada perempuan ngajak janji ke ondangan seminggu sebelum pas hari H. Tanpa kabar tiba2. Maaf gak jadi. Blm bisa cocok dengan perempuan Indonesia. Kangen Japan”

Kita sebut saja teman saya itu Terong,  mungkin maksut hati  membuat status seperti itu agar semua penghuni media sosial dimana dia berada bisa respek, bisa kasih simpati dan membenarkan pernyataannya. Atau bisa jadi sekedar eksistensi di dunia maya kalau dia sudah pernah tinggal di jepang dan tahu sekali budaya di sana seperti apa. Sayang sekali bukannya mengundang simpati, akhirnya malah menjadi bumerang atas pernyataan yang dia lontarkan. Bahkan si Terong ini pun lupa dia menulis dalam bahasa Indonesia. Dia menyebut disana perempuan Indonesia, dia pun lupa kalau dia dilahirkan dari rahim seorang perempuan Indonesia. Ironis…

Orang orang seperti ini sebenarnya yang sering membuat saya heran. Mempelajari kebudayaan negara lain, tapi tidak mempelajari kebudayaan bangsa sendiri. Jauh-jauh menuntut ilmu ke negara lain, tapi ilmu yang di dapat tidak diaplikasikan setelah kembali ke negara sendiri. Kembali ke Indonesia hanya untuk menjadi penggerutu, untuk mengumpat dan membandingkan negara sendiri dengan negara lain yang jauh lebih maju… hmmm mungkin budaya luar sudah mengajarkan mereka (saya meyakini hanya segelintir orang, tidak semua) untuk tidak punya tata krama dalam bertutur kata.  Mungkin Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara negara maju semisal Jepang. Tapi untuk mereka mereka yang sudah pernah singgah kesana, pernah menetap disana bukan lantas bisa dengan mudahnya membanding-bandingkan Indonesia dengan negara maju. Kalau semua orang Indonesia yang baru pulang dari luar negeri menjadi seperti ini, ya akhirnya Indonesia pun akan menjadi negara tanpa Identitas. Jika Indonesia dirasa tidak cukup baik untukmu, buatlah menjadi baik bukan lantas mengeluh dengan segala ketidak nyamanan yang dirasa terhadap Indonesia.

Saya pernah membaca novel Pulang, di tulis oleh Leila S Chudori. Novel yang bercerita tentang eksil politik yang mencari suaka di luar negeri. Dimas Suryo, yang akhirnya harus dengan terpaksa menjadi eksil politik selama pemertintahan Orde baru, Mencari suaka politik di negara Perancis, pada akhirnya mimpi terakhirnya hanya ingin kembali ke tanah merah Indonesia. Tanah yang sudah menjadikannya orang yang terbuang, yang pernah tidak menerimanya, yang bahkan tidak pernah memberikannya izin untuk kembali selama 32 tahun. Bahkan Lintang Utara Suryo, anak dari pernikahan Dimas dan Vivienne Deveraux -seorang wanita berkebangsaan perancis-, harus masuk ke Indonesia sebagai anak eksil politik hanya untuk tahu bagaimana caranya memetik Indonesia dari kata I.N.D.O.N.E.S.I.A.
Novel "Pulang"

Saya selalu ingat dengan kisah teman saya yang tinggal di negeri kangguru, -Hobart, Tasmania Australia. betapa dia sangat merindukan Indonesia di setiap bulan Ramadhan. Adzan yang berkumandang, murotal yang selalu terdengar dari pengeras suara mesjid, anak yang bermain sambil berteriak tertawa lantang menunggu waktu bebuka puasa. Bahkan satu hal yang paling dia rindukan adalah suara teriakan penjual barang-barang rumah tangga, dan suara pukulan kayu penjual bakso keliling. Indonesia dengan segala “kekurangan”nya, ketidak teraturannya masih begitu di rindukan. Lantas, siapa saya atau kalian yang jelas lahir, besar, menuntut ilmu di Indonesia bahkan mencari uang di Indonesia, dengan lantang menggerutu di media sosial mengeluhkan tentang Indonesia yang tanpa disadari sudah memberikan banyak kehidupan untuk saya, kalian dan yang lainnya.

Mengutip tulisan Pidi Baiq, “Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis,jauh lebih dari itu melibatkan perasaan”. Buat saya pribadi, sebagai orang yang belum pernah keluar negeri, Indonesia pun bukan hanya masalah geografis jauh dari itu INDONESIA melibatkan perasaan. Ya Indonesia dengan segala yang ada didalamnya, baik atau buruk ya Indonesiaaaaa….

 

Hanya untuk dibaca, tidak usah  dimasukkan kedalam hati… ^__^

Dunia Kecil Kelana

[1]

BERLARI KELANA!

 

Bandung, Mei 2006…

Langit pekat perlahan berubah menjadi lembayung di ufuk timur. Udara pagi mulai menggantikan udara malam yang dingin dan pekat. Embun-embun membasahi dedaunan, kicauan burung mulai terdengar saling bersahutan di ranting pohon. Pagi yang selalu penuh harap semesta. Kembali di hari senin pagi, hari yang sangat di benci oleh semua kalangan pekerja di belahan dunia manapun. Senin yang sibuk, pekerjaan yang menumpuk, sindrom sehabis akhir pekan yang masih menggelayuti yang membuat senin sangat dihindari oleh manusia-manusia pemburu harta karun. Termasuk aku didalamnya.

Jam menunjukkan pukul 05:00 WIB, ini adalah waktu bangun pagiku setiap hari. Cukuplah nyawaku mulai berkumpul di jam itu. Menunaikan kewajibanku sebagai makhluk Tuhan, bergegas walaupun sudah terang diluar sana. Bersiap-siap untuk menghabiskan delapan jamku di tempat yang memberiku pundi-pundi emas sebagai seorang ‘buruh’ di salah satu pabrik yang katanya berskala nasional.

Aku tidak terlalu peduli dengan skala nasional atau pun internasional sekalipun yang disandang oleh pabrik tempatku bekerja sekarang. Aku yang semula hanya sebagai buruh layaknya seorang lulusan Sekolah Menengah lainnya., hingga akhirnya satu setengah tahun yang lalu aku diajukan menjadi seorang administrasi di salah satu divisi yang sekarang menaungiku. Atasanku mengajukan aku yang saat itu dianggap lebih mahir menggunakan komputer di antara teman-temanku yang lain. Sekarang aku menjadi administrasi follow up di perusahaan yang bergerak di bidang pakaian jadi.

Kelana Putri Priangan orang tuaku menamaiku, terlahir menjadi anak pertama di dalam keluarga, memiliki dua adik lelaki yang masih bersekolah. Dan saya berjanji pada ibu sepeninggal bapak, akan membuat kedua orang adikku menjadi orang yang berhasil kelak. Damar Putra Parahyangan dan Galuh Putra Pasundan kedua orang adik lelaki yang bapak wariskan kepadaku. Almarhum bapak adalah seorang pendidik, yang sangat mencintai seni dan sastra. Apalagi seni dan kebudayaan Jawa Barat, itu kenapa aku dan kedua adikku mempunyai nama yang sedikit unik.

Pagi hari di kediamanku memang sedikit gaduh, setiap harinya banyak orang yang mengambil pesanan kue yang ibuku buat, untuk mereka jual lagi eceran di warung-warung, kantin, pasar bahkan mereka jajakan dari rumah ke rumah. Ini berlangsung hampir 3 tahun, semenjak bapak meninggal, ibu harus tetap bertahan dan bekerja keras membiayai kami ketiga anaknya. Kepergian bapak pun yang menahan keinginanku melanjutkan keperguruan tinggi, walaupun ibu menyanggupi akan membiayai kuliahku hingga selesai. Namun, aku lebih memilih untuk bekerja dan berjanji pada ibu jika kelak apabila tabunganku sudah cukup, aku akan melanjutkan pendidikanku. Sebagai kakak dari kedua orang adikku, aku punya tanggung jawab yang lebih kepada mereka, juga kepada ibu. Memberikan contoh teladan kepada kedua adikku adalah penting untukku membentuk kedua orang adikku menjadi pribadi yang tidak hanya bertopang dagu.

*****

Bus karyawan yang biasa menjemput kami, para buruh pabrik, datang lebih lama dari hari biasanya. Mungkin karena senin jalanan pagi hari mulai padat. Bus pun tiba di halteu tempat kami menunggu setelah hampir setengah jam berselang. Aku pun bergegas naik ke dalam bus dan mencari kursi kosong di sayap kiri. Mendekat ke arah jendela. Dan bus pun melesat ke pabrik tempat kami mengais rejeki.

Senin, seperti biasa selalu ada meeting divisi tempat aku bernaung. Sudah hampir enam bulan ini aku selalu dilibatkan langsung dalam tugas-tugas penting dalam divisiku. Kembali berada di kubikel ukuran 2×3, dimana hampir sebagian waktu hidupku setiap hari aku habiskan di tempat ini.

Dering telepon di pagi hari sudah memekakan telingaku. Padahal jam kerja belum di mulai. Cek email di setiap pagi adalah rutinitas yang harus aku dahului setiap harinya. Karena setiap pagi pula laporan yang harus dikerjakan aku dapatkan dari beberapa email yang masuk dari vendor maupun klient.

“10 message received”

Sepuluh pesan masuk sudah mejeng di kotak masuk email kantorku. Kubuka satu-satu email yang masuk, benar saja beberapa email yang masuk merupakan sumber data untuk laporan yang harus aku selesaikan sebelum meeting divisiku.

Ada satu email yang masuk dari pengirim yang tidak aku kenal. Hasan Yudha begitu nama yang terlihat dari tampilan muka email milikku. Segera kubuka email itu. Kubaca dengan cepat, sebelum meeting divisiku dimulai. Hanya sekilas aku membaca email dari pria yang kuanggap asing, karena aku sudah dipanggil dari arah ruang meeting. Bergegas aku menuju ruang meeting membawa beberapa business file yang terisi laporan-laporan mingguan yang akan di presentasikan saat meeting berlangsung.

*****

Meeting pun berakhir dengan menghasilkan beberapa point tambahan untuk divisiku. Tepatnya adalah beberapa kerjaan tambahan dalam divisiku, yang menurut atasanku adalah improvement. Apapun itu, aku yang hanya seorang administrasi akan banyak direpotkan dengan urusan laporan-laporan atas improvement yang diminta oleh atasanku.

Kembali ke meja kerjaku, membereskan file-file yang tercerai berai saat aku meninggalkan meja kerjaku sebelum meeting pagi tadi. Melihat kembali catatan-catatan pekerjaan yang tertunda dihari sebelumnya untuk aku kembali kerjakan di senin ini.

Teringat email yang sempat aku buka dan belum sempat aku baca dengan jelas.

From  : Hasan Yudha

To    : kelana_putri@yahoo.com

Sent  : Sunday, May 7, 2006 4:05 PM

Subj  : La..La..

 

Halo Lala..

Masih ingat puisi ini:

 

Ini Kami Tuan…

Tubuh kecil yang kelak

Dengan tangan ini

Dengan kaki ini

Berjalan tegap

Mengubah dunia

Dunia yang penuh sesak

Dunia yang kami tidak bisa bernafas

Menikmati buku-buku kami

Menikmati seragam kami

Menulis di buku kami

Mewarnai setiap gambar dengan warna pelangi

Membacakan keras teks pancasila

Tuan..

Teman-temanku ingin sekolah lagi..

 

Apakabar Lala Kelana,, sudah berlari sejauh apa kamu?

Masih ingat aku? Ya aku Hasan, teman kecil kamu dulu. Pasti kamu kaget kenapa aku bisa menulis email ini bukan?

Hari dimana aku membaca tulisanmu di salah satu surat kabar tentang Ayah, aku yakin itu adalah Kelana Putri yang aku kenal dimasa kecilku dulu. Hingga akhirnya dari surat kabar itu aku dapatkan email ini.

 

Larimu sepertinya sudah jauh sekali bukan?

Sampai aku kehilangan jejak kakimu selama ini. Susah payah aku kejar langkahmu Lala..

Hei gadis kecil berkepang kuda beri kabar kepada kami…

 

 

Hasan Yudha

 

 

Aku mengakhiri membaca email itu dengan berdecak haru. Ternyata pria yang tak kukenal itu adalah sahabat kecilku dimasa lalu, di masa aku mempunyai mimpi tak berbatas ruang dan waktu. Hasan Prayudha Angkasa, sahabat kecilku berbagi mimpi dan cerita. Bertukar pesan dalam puisi kecil layaknya anak-anak SD saat itu.

Serasa kembali ke masa lalu, sejenak aku terhanyut dalam lamunan masa kecilku, ketika disadarkan oleh salah seorang teman kerjaku.

“Lana, gue mau cerita nih lu lagi sibuk gak?”, suara berbisik menyadarkanku dari lamunan yang sejenak menggentayangiku.

“Hemmm, gak juga sih, mau cerita apa sih lu, perasaan tiap hari lu cerita melulu deh..”, sahutku dengan mengerutkan keningku, berpura-pura heran menanggapi keinginannya untuk bercerita.

Dara, dia adalah sahabatku selama aku bekerja di pabrik ini. Dara, dia lebih senior tiga bulan dari ku, dia lebih dulu masuk pabrik ini. Usia kami yang seumuran, hanya berselang 5 bulan saja. Aku dibulan Mei, sementara Dara di bulan Oktober. Menjadi faktor yang mendekatkan kami. Karena di divisiku, kami berdualah yang paling muda.

“Iya, gue ke tempat lu ya bentar doang kok.”, Dara menimpali ucapan yang keluar dari mulutku. Belum sempat aku mengiyakan Dara dengan cepat menyelinap masuk kubikel tempatku bekerja. “Geser dikit napa lan!”. Dara tiba-tiba memintaku bergeser dari kursi yang kududuki. Dengan spontan aku pun menggeser posisi dudukku.

“Mau cerita apa sih lu, heboh amat perasaan.”, aku yang meggerutu pelan sambil mencari posisi duduk yang enak, setelah berbagi kursi dengan Dara.

“Lan, gue mau minta maaf dulu nih sebelumnya, gue harap lu mau maafin gue ya!”, dengan nada memelas Dara membuka pembicaraan denganku. Aku yang sudah terbiasa dengan perilaku Dara yang terkadang aneh, tidak terlalu menghiraukan ucapannya.

“Maaf untuk apa? Udah kayak lebaran aja minta maaf-maaf segala.”

“Janji dulu lah Lan, lu gak akan marah sama gue.”, kembali Dara memelas padaku.

“Kapan gue pernah marah sama lu Dara, sekalipun enggak pernah deh. Padahal sering banget lu buat gue pusing.”, aku menimpali.

“Iya juga sih, hehehehe,,, syukur deh, jadi gini loh. Suatu hari, gue mau ngopy beberapa laporan dari komputer punya lu kan. Gak sengaja gue, buka folder punya lu yang judulnya “Aku Menulis”.”

“Iya, lalu?”, aku mengomentari pengakuan Dara siang itu.

“Lalu ya gue baca lah Lan, itu lu sendiri yang nulis Lan?”, Dara bertanya dengan nada yang penuh rasa penasaran.

“Lu ngapain buka-buka folder gue dan baca tulisan-tulisan gue coba? Iihhh apa sih lu, gue kan malu Dara”

“Iya maaf, maklum penasaran lah gue Lan.”

“Gak mungkin Dara, gak mau pokonya lu harus lupain semua yang lu baca dari folder gue itu”, dengan nada kesal aku berujar pada Dara.

“Bentar dulu Lana sayang, gue belum selesai masih ada lagi yang gue lakuin dari tulisan-tulisan lu itu”, Dara menimpali kekesalanku.

“Lu apain tulisan gue Dara?” dengan nada curiga aku bertanya pada Dara. Dara pun terkekeh mendengar pertanyaanku.

“Akhirnya gue ikut copy juga deh folder itu ke flashdisk punya gue. Gue baca lagi dirumah dan gue jatuh cinta sama tulisan lu yang tentang Ayah. Gue malah dibuat nangis bombay saat baca tulisan lu itu.”

“Hah? Apa-apaan lu mencuri diam-diam tulisan gue, untuk apa coba?”, memotong pembicaraan Dara.

“Sekali lagi nih Lan, gue minta maaf. Gue yang iseng akhirnya gue kirimin deh tulisan-tulisan lu yang tentang Ayah ke salah satu harian nasional. Dan lu liat nih!”, Dara menyodorkan harian nasional kepadaku. “Tulisan lu terbit di kolom puisi hari sabtu kemarin Kelana Putri Priangan.”

Dengan cepat aku meraih harian nasional yang dia sodorkan padaku. Begitu terperangahnya aku saat itu, kubaca tulisan-tulisan yang Dara tunjukan padaku. Lemas aku dibuatnya dengan kabar yang entah buruk atau baik pada saat bersaaman yang aku terima senin siang itu. Tulisanku, tulisan lama yang terpendam dalam folder lamaku sekarang terpampang di Harian nasional.

“Dara…”, aku dengan suara pelan. “Ini beneran tulisan gue kan?”

“Iyalah tulisan punya lu, tulisan lu yang gue curi? Itu beneran kan lu yan nulis?”, Dara terus mengoceh tanpa aku hiraukan. Aku yang masih belum percaya tulisanku terbit di harian nasional. Membacanya berulang kali, hingga tersadar oleh tepukan Dara yang mendarat tepat di pundakku.

“Hemm, beneran kan itu tulisan lu Lana?”

“Dara kok bisa sih? Gue gk tau harus bilang apa? Harus berterimakasih kayak gimana ke elu Dara, gue terharu….”, aku yang masih belum percaya.

“Ah, lu cengeng amat sih, itu baru tulisan pendek lu yang muncul. Belum seberapa Lana itu, gue masih mau liat nama lu mejeng di rak buku di semua toko buku di Indonesia, bahkan dunia kalo bisa.”, dengan kesungguhan Dara mengucap kalimat itu. Aku yang berkaca-kaca dengan spontan memeluk Dara erat.

Entah apa yang harus aku katakan pada Dara saat itu, kekesalan yang aku pendam berubah seketika menjadi haru. Hanya berakhir dengan pelukan erat yang aku daratkan pada tubuh mungilnya. Dia Dara, dengan segala optimistisnya akan diriku, sahabat yang selalu mengisi hari-hariku selama ini.

*****

Disela-sela kerjaku siang itu, aku selalu memandangi surat kabar yang Dara berikan padaku. Ingin segera pulang dan memperlihatkan kepada ibu dirumah. “Bapak, Lala berhasil mengukirkan sedikit namamu hari ini. Doakan aku dari tempatmu sekarang!”

Teringat email pagi tadi yang aku terima dari Hasan, kubuka dan kubaca kembali email yang dia kirim padaku. Mungkin surat kabar ini yang dimaksud oleh Hasan dalam emailnya itu. Dengan cekatan aku mengarahkan mouse komputerku ke menu balas.

*****

Jakarta, Mei 2006….

Jakarta siang itu, sangat tidak bersahabat sekali. Cuaca yang ekstrim membuat Jakarta menjadi hiruk dan pikuk. Tapi memang inilah Jakarta dengan segala ke segalaannya. Segala mahal, segala macet, segala debu, segala manusia ada di Jakarta. Ya dan Jakarta masih menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Mengejar waktu di Jakarta buat Hasan adalah hal yang biasa. Tepatnya kembali biasa. Masa lima tahun yang dia habiskan di Yogjakarta membuat dia lupa akan kekerasan kota yang membesarkan dia menjadi anak yang tangguh. Kembali mengais  rejekinya di Jakarta adalah pilihan terakhirnya, sambil menunggu kesempatan emas lain yang sedang dia kejar.

Kesarjanaan Teknik yang dia sandang dibelakang namanya, menjadikan Hasan seorang analis di perusahaan otomotif terkenal di Tanah Air. Disela pekerjaannya, Hasan menyempatkan membuka email, berharap ada balasan dari email yang dia kirim kepada Kelana beberapa hari yang lalu. Pesan masuk pun berdatangan saat dia login alamat emailnya. Gayung pun bersambut semburat nama yang dia harapkan membalas emailnya.

 

From  : Kelana Putri

To    : Hasan Yudha Angkasa

Sent  : Monday, May 8, 2006 3:45 PM

Subj  : Re: La..La..

 

Dear Abang,

Lariku tak kunjung sampai Abang. Mungkin kalau aku tidak ditemani oleh sahabatku Dara, aku sudah pingsan di pinggiran jalan. Dan Abang tak akan pernah bisa menyapaku.

Bapak sudah almarhum sekarang Abang, itu kenapa aku menulis tentang beliau.

Aku di Bandung sekarang, ibu sehat hanya beranjak tua sekarang tapi tetap cantik seperti dulu.

Abang Sehat?

Sudah berapa kilometer Abang berlari?

Aku rindu ujaranmu “Berlari Kelana” secepat yang kau bisa…

Senang Abang kembali. Ceritaku menjamur menunggu untuk Abang dengar.

 

-Kelana Putri-

*****

 

(bersambung…)

 

Hilang Arah..

langitpun gelap seketika
jalankupun tak lagi panjang
tapi tak juga pendek
hanya penuh kelok dan sempit
nyaris tak bertepi bahkan penuh cahaya

oksigen, aku butuh kamu
untuk menuntunku dari temaram

berlari…
berlari…
berlari…
aku hanya ingin berlari
tapi langkahku kaku
telapakku beku rapat

menutup mata
menenggelamkan tubuhku dalam tanah
tercengang hingga pasrah
pada pilihanku untuk kembali tersesat

hanya belukar yang terlihat
tak ingin kembali menoleh
selamanya..

(bertanya dalam hati)

TUHAN ADAKAH KAU DISINI??

Invasi Militer… #racun

Demam korea…
Sebelumnya tidak pernah sedikitpun terfikir untuk menjadi bagian dari orang orang yang menggilai drama korea. Menghabiskan waktu berjam-jam (lupa waktu tidur makan dan mandi) untuk menonton serial drama korea. Saya dulu berfikir mereka-mereka itu terlalu berlebihan membesar-besarkan drama korea. Walau memang saya akui dari segi ceritanya jauh lebih variatif dan bagus bila dibandingkan dengan sinetron Indonesia.

Jaman kuliah dulu (berjuta-juta tahun yang lalu), sebenarnya saya sudah mengikuti beberapa serial korea yang kebetulan tayang di televisi swasta nasional saat itu. Siapa sih yang tidak tahu serial korea Full House, My Sassy Girl Chun-yang, pasti banyak yang tahu. Jaman kuliah pun saya tahu beberapa film korea yang menurut saya menghibur semisal My Bos My Hero, My Wife is A Gangster dan beberapa film drama romantis yang saya lupa judulnya..

Tahun pun berlalu…
Saya pernah berujar ketika melihat display picture BB seorang teman yang memasang foto koleksi dvd koreanya… “Apa sih biasa aja kali, bangga pisan jadi korban hallyu… Alhamdulillah gue gk sampe begini…” #krik.. itu adalah ujaran saya kala itu..

Hingga saya dipertemukan kembali dengan sahabat sahabat saya dimasa muda 🙂
Yang ternyata membawa #racun mematikan… dan inilah pembawa racun itu..

Agni dia teman masa kuliah dulu kala, walau ditempatkan di kelas yang berbeda tapi bisa dikatakan kami cukup dekat.. Dengannya pun saya pernah mengerjakan project iseng di blog ini #randomthoughtproject..

Indri dia teman kuliah juga walau beda jurusan. Kenal dengannya saat SMA disuatu tempat kursus bahasa inggris di kota Bandung. Jumpa lagi dengannya saat terdaftar sebagai siswa bimbingan belajar ternama di kota Bandung juga..

Ifa nah dia adalah teman kuliah juga satu kelas.. sebenarnya diantara kita bertiga dia bisa dibilang ensiklopedinya korea yang berhubungan dengan dunia hiburan
korea

Saya dan ketiga teman saya ini membuat grup chat sendiri di media online whatsapp.

image

Profil Whatsapp Grup RRK

*RRK : apa ya singkatannya lupa yang pasti Random Korea… bahasannya terkadang benar benar random bisa tiba tiba obrolan politik, fashion, sejarah, budaya, sosial dan yang paling sering adalah KOREA.

Invasi Militer Korea…
Invasi korea dalam kehidupan saya terjadi sangat cepat, bertemu kembali dengan 3 sahabat saya yang sempat saya ceritakan diatas membawa pengaruh yang sangat luar biasa.

Dikenalkan variety show korea dengan judul RUNNING MAN.. sontak.membuat kehidupan dunia hiburan saya berubah drastis, menjadi tahu banyak selebritas korea gara gara variety show ini. Terutama idol idol korea semisal Suju, SNSD, Bigbang, dan masih banyak yang lainnya..

Ya dari sanalah demam korea dimulai, mulai menggilai beberapa nama selebritas korea. Sebut saja boyband korea ternama BIGBANG , awalnya kenapa saya bisa tahu tentang boyband itu pun secara tidak sengaja. Suatu hari saya menyengajakan diri mencari film lama seorang aktor korea bernama Cha Seung Won, saya suka dengan penampilannya saat membintangi serial The Greatest Love dan Athena. Dari sanalah saya mencari film film lama yang dibintanginya, saya menemukan filmnya yang berjudul 71: Into the Fire, dibuat jatuh hati lah dengan salah satu pemeran utama di film tersebut tetapi bukan Cha Seung Won melainkan aktor utama lain yang berperan sebagai Oh Jung-Beom,, dia adalah Choi Seung Hyun a.k.a TOP

image

71: Into The Fire Movie

*71: Into the Fire Movie

Dan akhirnya mencari tau siapa Choi Seung Hyun itu, ternyata dia adalah personil dari boyband di korea BIGBANG. Semakin jauh akhirnya malah menjadi suka dengan boyband asal korea ini… haisshhhh…
Bahkan saya melakukan hal-hal yang bisa dibilang sebuah aib (hahahaha) dan saya menjadi tidak perduli apakah itu aib atau bukan. Yeah, kemakan sama omongan sendiri akhirnya saya pun menjadi korban hallyu… T_T

image

Bigbang

image

My Blackberry

image

Recently Music Added On My Gadget

image

Me and Agni at Braga Festival

Ya itu adalah secuil aib yang saya lakukan beberapa bulan terakhir ini. Sekarang saya masih melakukan itu dan boleh dibilang semakin menggila… ckckck..
Karena siapa saya dibuat jatuh cinta sama korea dan K-pop?
Siapa yang harus disalahkan? Salahkan pria ini!!

image

Choi Seung Hyun

Tidak bisa kompromi dengan apa yang merubah kehidupan saya sekarang. Menjadi semakin penasaran dengan korea tak hanya dengan dunia hiburannya tetapi semakin tertarik dengan apa yang dimiliki korea termasuk sejarah, budaya, kuliner, bahasa bahkan jejak islam di korea itu seperti apa. Hingga hari dimana saya menginjakan kaki saya di Korea, saya tidak terlalu asing lagi dengan negara itu (aminnn tak berhingga kali).

Dan inilah penghuni RRK yang terbiasa membicarakan korea, membicarakan idol-idolnya. Maafkan kami diumur yang tidak muda lagi melakukan hal ini.. Jangan terlalu diambil hati, cukup nikmati saja tulisan “aib” ini..
JJang!!!!!

image

*

image

**

image

***

image

****

image

*****

*Me and My TOP-oppa
**Agni and her GDragon-oppa (leader of Bigbang)
***Indri and her Yonghwa-oppa (leader of CN Blue)
****Ifa and her Jaejong-oppa (ex-TVXQ, JYJ)
*****RRK boyfriend :-* dari atas kiri Jaejong – kanan atas Yonghwa – kiri bawah GDragon – kanan bawah TOP

Bagaimana kabarmu?

image

Tik
Tok
Tik
Tok


Ini hanya waktu
Yang akhirnya menjawab
Siapa kita di dalam kita
Dan semoga aku tidak salah
Kalaupun salah
Aku meyakini ini hanya sebuah akhir manis
Dari apa yang pernah tertulis..

Bahagia selalu wahai yang memiliki walnoet!!
bukan lagi angka namun hanya setumpuk mimpi yang tak lagi nyata..
Dimanapun lilinnya menyala
Disanalah sisa detak berada
Walau koma bahkan hingga kelak tak bernyawa…
Terimakasih sudah mengukir waktu bersama…

******

Teruntuk:
PANJI, ROHMAT, IRVAN, ANDIKA, BUANA, REZA, DANY, SIGIT, FIKRI, FAJAR, ASTRID, EMMA, FATIMAH, DAN MEREKA YANG SUSAH KUINGAT 😥

Menapaki sepi

image

Aku kini terdiam
Membungkam masa hingga terlupa
Menapaki sepi di bangunan ini
Candi tak memberi isyarat
Bisu dimakan waktu
Ketika jejakmu tak lagi nyata
Maka kumenutup mata
Membawa terbang cerita yang tak pernah terjawab hingga akhir….

Dan aku berdiri disini
Menapaki sepi…

*****

Borobudur, Magelang 6 Oktober 2012

Uwel Uwel Hijab ;)

Hey to the Ho..

Mei pun berlalu dengan sempurna.. Semua undangan pernikahan saya hadiri di setiap minggunya, walaupun sebenarnya saya salah seorang yang paling malas menghadiri undangan pernikahan atau apapun yang mengharuskan saya berdandan ‘cantik’, berbusana pesta formil.. Karena pada dasarnya saya termasuk orang yang tidak jago dandan, “i hate cosmetic” :p

Tapi tidak begitu dibulan Mei kemarin, mendadak saya bersemangat sekali menghadiri 3 undangan pernikahan di setiap minggunya di bulan Mei.. fiuhhh.. Dan saya melakukan sedikit eksperimen dengan hijab yang saya pakai. Saya bilang ini adalah prestasi saya dalam berhijab 🙂

Dan inilah hasil eksperimen saya dalam bergaya hijab untuk pesta..

Uwel-uwel hijab 1

Ini adalah eksperimen hijab saya yang pertama, hanya dengan menggunakan 1 hijab saja saya berhasil membuat hijab yang saya kenakan menjadi cantik. Hanya saja memang membutuhkan banyak sekali jarum pentul untuk membuat “uwel-uwel” di sisi sebelah kanannya. Begitulah hasilnya. No to Bad.. 🙂

Uwel-uwel hijab 2

Lalu ini adalah eksperimen hijab saya yang kedua, dengan menggunakan 2 kerudung, kerudung yang pertama bewarna pink adalah kerudung segitiga, kerudung yang kedua berwarna abu-abu adalah kerudung shaw panjang. Saya kembali membuat “uwel-uwel” di sisi sebelah kanan dan kirinya dengan warna yang berbeda…:)

Uwel-uwel hijab 3

Kemudian ini adalah eksperimen hijab saya yang ketiga, masih menggunakan 2 kerudung, kerudung segitiga yang berwarna ungu dan kerudung pink shawl panjang, saya membuat “uwel-uwel” di sekeliling bagian leher belakang nya. Agak susah memang jika dikerjakan sendiri, kecuali kalau ada kaca besar yang melingkar dibagian belakang. Hasilnya kurang lebih seperti ini.. Agak berantakan memang.. 🙂

Uwel uwel hijab 3a

Tapi tidak terlalu mengecewakan juga untuk di kenakan saat menghadiri pesta pernikahan. Oh iya, mengerjakan gaya berhijab seperti ini memang memerlukan waktu yang agak lama, saya mengerjakannya sendiri pun bisa hampir 1,5 – 2 jam hanya untuk kerudungnya saja. Belum lagi ditambah dengan makeup. Tapi buat saya pribadi, tidak ada salahnya juga sih berpenampilan beda dari biasanya untuk menghadiri undangan. Ini salah satu cara saya menghargai si mangku hajat. Bukan untuk pamer atau gaya-gayaan belaka.

Sekarang, setelah lumayan pintar berdadan, jadi semangat menghadiri pesta pernikahan atau pesta apapun.. Ini saya dengan gaya saya dan dengan kecintaan saya akan hijab yang saya pakai 🙂

Suatu hari kalau sudah semakin mahir akan saya buat video tutorial bergaya hijab seperti ini (cara cepat) . Semoga postingan ini mengispirasi kalian 🙂